PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP
KEMAMPUAN SANTRI PADA KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING DI
PESANTREN KEBON JAMBU
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister
Pendidikan (M.Pd.)
Program Studi : Pendidikan
Agama Islam
Oleh :
MUHAMAD IRPAN
NIM
:14166310049
PROGRAM
PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
2020 M/ 1441 H
ABSTRAK
PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP
KEMAMPUAN SANTRI PADA KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING DI
PESANTREN KEBON JAMBU
MUHAMAD IRPAN
NIM.
14166310049
Pascasarjana
IAIN SyekhNurjati Cirebon
Keterampilan
literasi dan critical thinking menjadi keterampilan yang harus dikuasi
di abad XXI. Pendidikan di pesantren
khususnya di Pesantren Kebon Jambu mempunyai
metode pembelajaran yang dianggap mampu membentuk keterampilan literasi dan critical
thinking, metode tersebut adalah musyawarah karena dalam musyawarah
dibutuhkan argumentasi yang dibangun dari literasi membaca teks kitab kuning
dan keterampilan critical thinking.
Berdasarkan
latar belakang di atas, penulis melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa
besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi, seberapa besar pengaruh metode
musyawarah terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking,
dan seberapa besar pengaruh keterampilan literasi terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.
Metode
musyawarah menggunakan teori belajar kooperatif Piaget dan Vigotsky. Menurut
keduanya pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas kelompok-kelompok
siswa. Pernyataan tersebut sesuai yang dinyatakan oleh Dhofier bahwa dalam
musyawarah siwa harus mempelajari sendiri kitab-kitab kuning untuk mencari
pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing
kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi untuk
mengetahui besarnya pengaruh antar variabel dengan bantuan SPSS 25 for
windows. Populasi dan sampel sebanyak 30 santri. Data penelitian diperoleh
melalui angket.
Pada penelitian
ini pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi didapat nilai
signifikansi 0.017 < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung 2,531 > t tabel
2,048. Pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking
didapat nilai signifikansi 0.000 < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung
4,636 > t tabel 2,048. Sedangkan untuk pengaruh ketermpilan literasi
terhadap critical thinking didapat nilai signifikansi 0.018 <
probabilitas 0,05 dan nilai t hitung 2,512 > t tabel 2,048. Dari tiga
analisis regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima,
yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan.
Kata
Kunci: Metode Musyawarah, Literasi, Critical Thinking.
ABSTRACT
EFFECT OF DELIBERATION METHOD IN LEARNING
THE YELLOW BIBLE ON ABILITY OF STUDENT IN LITERACY
SKILLS AND CRITICAL THINKING AT KEBON JAMBU ISLAMIC BOARDING SCHOOL
MUHAMAD IRPAN
NIM.
14166310049
Pascasarjana
IAIN SyekhNurjati Cirebon
Literacy and
critical thinking skills become skills mastered in XXI century. Education at Islamic boarding schools especially at
Kebon Jambu have learning method is considered capable of forming literacy and
critical thinking skills, that method is deliberation because in deliberation
needed argumentation is built from literacy in reading the yellow bible
and critical thinking.
Based on above
background, author conducted study to knowing how much effect deliberation
method in literacy skills, how much effect deliberation in critical thinking
skills, and how much effect literacy skills in critical thinking skills at
Kebon Jambu.
Deliberation
Method uses Piaget and Vigotsky's cooperative learning theory. According to
Piaget and Vigotsky's cooperative learning depend on activities of student
groups. This statement is line with Dhofier's opinion in deliberation, student
study their own yellow Bible to find solution to problems that have been
questioned a few days before deliberation begin in each group as a basis for
arguments they use.
This research
uses a quantitative approach with regression analysis techniques to determine
magnitude of effect between variables with help of SPSS 25 for windows.
Population and sample 30 students. Research data obtained through a
questionnaire.
This research effect deliberation method on literacy skills
obtained a significance value of 0.017 < probability 0.05 and t count value
2.531 > t table 2.048. effect deliberation method on critical thinking
skills obtained a significance value of 0,000 < probability 0.05 and t count
value 4.636 > t table 2.048. For effect literacy skills on critical thinking
a significance value of 0.018 < probability 0.05 and t value of 2.512 > t
table of 2.048 were obtained. From three regression analyzes it can be
concluded that Ho was rejected and Ha was accepted, which means that there was
a significant affect.
Keywords: Deliberation Method, Literacy, Critical Thinking.
الملخص
تأثير طريقة
المشاورة في تعلم الكتاب السلف على قدرة الطلاب عن مهارة محو الأمية وتفكير النقدي
فى معهد كبون
جامبو
محمد عرفان
14166310049NIM.
Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon
مهارة محو الأمية وتفكير النقدي في القرن21 كانت
مهارة هامة التي تلزم إتقانها وفهمها وتعليم فى المعاهد خاصة فى معهد كبون جامبو
عندها
طرق التعلم التي كانت لتكوين مهارة محو الأمية وتفكير
النقدي وهي المشاورة لأنها تحتاج الى الحجة فالحجة تنبت من قراءة نصوص الكتب
السلفية وتفكير النقدي.
فلذالك الباحث
يقدم البحث كم اكثر تأثيرطريقة المشاورة في تعلم الكتاب السلف على قدرة الطلاب عن
مهارة محو الأمية كم اكثر تأثيرطريقة المشاورة في تعلم الكتاب السلف على قدرة
الطلاب عن وتفكير النقدي كم اكثر تأثير مهارة محو الأمية في تعلم الكتاب السلف على
قدرة الطلاب عن تفكير النقدي
فى معهد كبون
جامبو.
وطريقة المشاورة تستخدم نظرية التعلم التعاوني فياغة
و فيغثكي. وقالا التعلم التعاوني متعلق في فعالية فرقة التلاميد وبيان ذلك
مطا بقة في رأي الضافير المشاورة تد رس التلاميد
الكتاب السلف لبحث عن حلة المشكلة التي تبحث قبل ايام المشاورة لكل فرقة كأسا س الحجة يستخدمونها.
هذا
البحث يستخدم بمقاربة الكمي مع تقنية وكيفية تحليل الانحدار لمعرفة مقدارالتأثير
بين المتغيرات بمساعدة سفسس25 للنوافذ كمية وتمثيل 30 طالبا وبيانات
البحث تؤخذ من استبيان.
في هذا البحث
تأثير طريقة المشاورة على مهارة محو الأمية تحصل نتيجة الأهمية 0.017< احتمالية
0.05 ونتيجة t
2.531 > t جدول 2.048 تحصل
تأثير طريق المشاورة على مهارة التفكير النقدي نتيجة الأهمية 0.000 < احتمالية
0.05 ونتيجة t4.637 > t الجدول 2.048 أما
بالنسبة لتأثير مهارة محو الأمية على التفكير النقدي فقد تم الحصول على نتيجة
الأهمية 0.018< احتمالية 0.05 ونتيجةt 2.512 > t جدول 2.048 ومن
تحليلات الانحدار الثلاثة تستنتج Ho
مردود وHa
مقبول يعني عندها تأثير الأهمية.
علامة :طريقة المشاورة,محو الأمية,
تفكير النقدي.
KATA
PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT, berkat-Nya tesis ini dapat penulis
susun untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar
Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.
Dengan selesainya tesis
ini, tidak lupa
penulis mengucapkan terimakasih yang
sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu. Ucapan terimakasih secara khusus penulis sampaikan kepada:
1.
Bapak Dr. H. Sumanta, M.Ag, selaku Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
2.
Prof. Dr. H. Dedi Djubedi, M. Ag, sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
3.
Dr. H. Ahmad Asmuni, MA, sebagai dosen pembimbing I dan Dr. Saefudin Zuhri M.Ag, selaku pembimbing II.
Semoga Allah SWT akan selalu melimpahkan rahmat dan balasan yang tiada tara
kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan tesis
ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk
itu, dengan segala kerendahan hati dan dengan
tangan terbuka penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca tesis ini.
Akhir kata semoga tesis sederhana ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan
seluruh pembaca pada umumnya Aamiin.
Cirebon, 29 Juni 2020
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................ i
PERNYATAAN KEASLIAN........................................................................ ii
NOTA DINAS................................................................................................. iii
PENGESAHAN.............................................................................................. v
ABSTRAK....................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR..................................................................................... ix
DAFTAR
ISI................................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah....................................................................... 1
B.
Identifikasi
Dan Batasan Masalah........................................................ 9
C.
Rumusan
Masalah................................................................................. 9
D.
Tujuan
Penelitian.................................................................................. 10
E.
Kegunaan
Penelitian............................................................................. 10
F.
Penelitian
Terdahulu............................................................................. 11
G.
Kerangka
Pemukiran............................................................................ 15
H.
Hipotesis............................................................................................... 21
I.
Sistematika
Penulisan........................................................................... 23
BAB II TINJAUAN
TEORITIS PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP
KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING
A.
Pengaruh
Metode Musyawarah Kitab Kunig
1.
Teori
Metode Musyawarah....................................................... 24
2.
Pengertian
Metode Musyawarah.............................................. 27
3.
Komponen
Metode Musyawarah............................................. 29
4.
Metodologi
Pengambilan Keputusan Musyawarah.................. 31
5.
Ketentuan
Metode Musyawarah.............................................. 33
6.
Indikator
Metode Musyawarah................................................ 34
B.
Keterampilan
Literasi Kitab Kuning
1.
Teori
Keterampilan Literasi...................................................... 35
2.
Jenis-Jenis
Literasi.................................................................... 38
3.
Tingkatan
Literasi..................................................................... 43
4.
Keterampilan
Literasi............................................................... 44
5.
Asas
Dasar Penilaian Literasi................................................... 45
6.
Indikator
Literasi...................................................................... 47
C. Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)
1.
Teori
Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)............. 48
2.
Langkah-Langkah
Berfikir Kritis............................................. 54
3.
Kemampuan
Dasar Berfikir Kritis............................................ 57
4.
Komponen
Berfikir Kritis......................................................... 58
5.
Karakteristik
Berfikir Kritis...................................................... 58
6.
Indikator
Berfikir Kritis........................................................... 60
D. Kitab Kuning
1.
Pengertian
Kitab kuning........................................................... 61
2.
Sejarah
Perkembangan Kitab Kuning....................................... 62
3.
Materi
Ajar Kitab Kuning........................................................ 65
BAB III METODE PENELITIAN
A.
Tempat
dan Waktu Penelitian.............................................................. 66
B.
Profil
Pesantren Kebon Jambu............................................................. 67
C.
Metode
Penelitian................................................................................. 77
D.
Instrumen
Penelitian............................................................................. 81
E.
Populasi
dan Sampel............................................................................. 83
F.
Uji
Instrumen........................................................................................ 84
G.
Teknik
Analisis Data............................................................................ 87
H.
Uji
Hipotesis......................................................................................... 90
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A.
Temuan
Penelitian................................................................................ 92
1.
Instrumen
Variabel Metode Musyawarah Kitab Kuning......... 92
2.
Instrumen
Variabel Keterampilan Literasi................................ 99
3.
Instrumen
Variabel Keterampilan Critical Thinking................. 106
B.
Pembahasan.......................................................................................... 114
1.
Uji
Validitas dan Reliabilitas Instrumen.................................. 114
2.
Analisis
Regresi dan Uji Hipotesis........................................... 125
3.
Hasil
Analis Regresi dan Uji Hipotesis.................................... 145
4.
Keterbatasan
Penelitian............................................................ 148
BAB V PENUTUP
A.
Kesimpulan........................................................................................... 150
B.
Rekomendasi........................................................................................ 150
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 152
LAMPIRAN....................................................................................................
157
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikanssesungguhnya dirancang untuk meningkatkan
sumberodaya manusiaayang berkualitasuunggul, baik di lembaga formal
maupun nonformal. Salahssatu yang sering dibahas dari beberapaoistilah pendidikan sekarang ini adalahopendidikanoliterasi, pendidikan literasi
dimungkinkanodapat menjawab permasalahan sebab rendahnya
minatomembaca peserta didik. Hasil riset yang dilakukan oleh UNESCOotahunn2012 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada urutan
kedua dari bawah soal literasi, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data
UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001% artinya,
dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.[1]
Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate
Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State
Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat
ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59)
dan di atas Bostwana (61). Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan
menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu:
perpustakaan, koran, input sistem pendidikan,
output sistem pendidikan, dan
ketersediaan komputer.[2] Padahal, dari segi
penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di
atas negara-negara Eropa.[3]
Hasil riset berbeda juga
ditunjukan Proggramme for International Student Assesment
(PISA) tentang literasi matematika, membaca, dan sains, skor literasi membaca
di awal mengikuti tes PISA 371 dan mengalami peningkatan 382 (tahun 2003), 393
(tahun 2006), dan 402 (tahun 2009), kemudian terus mengalami penurunan 396
(tahun 2012), 397 (tahun 2015) dan titik terendah 371 (tahun 2018), sedangkan
menurut PISA kemampuan baca negara-negara yang tergabung dalam Organisation
for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2018 berada
dirata-rata angka 487, peringkat pertama diraih China (skor 555), kemudian
diikuti Singapura (549), dan Makau (525).[4]
Pendidikan literasi menjadi penting
karena keterampilan literasiimerupakan
salahhsatu keterampilan
yang mestiodikuasai
padaaabad XXI. Sebagaimana
pernyataan yang dikeluarkan oleh0Forum
Ekonomi0dunia atau
biasa disebut dengan WorldoEconomicoForum (WEF) padaotahuno2015 terkaitoketerampilan yang mesti
dikuasai kususnya oleh peserta didik padauabad XXI. Keterampilan tersebut mencakupoketerampilanoliterasi,akompetensi,adanakarakter.[5]
Menurut WEF, tidak hanya pendidikan
literasi namun karakter dan kompetensi juga dingaggap penting. Salah satu aspek
kompetensi abad XXI menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud),
Muhajir Effendy khususnya di era industri revolusi 4.0 adalah berpikir kritis (critical
thinking).[6]
Menurut Larsson (2017) Berpikir kritis dapat diartikan sebagai upaya seseorang
untuk memeriksa kebenaran dari suatu informasi menggunakan ketersediaan bukti,
logika, dan kesadaran akan bias.[7]Mengingat
kondisi sosial yang semakin kompleks dan kemajuan teknologi informasi,
mendorong derasnya pertukaran informasi yang belum terverifikasi, tidak
terverifikasinya pertukaran informasi berdampak terhadap munculnya berbagai
persoalan. Menurut Al-Walidah (2017) ketidak mampuan masyarakat untuk
mengkritisi kebenaran informasi yang diperoleh berdampak terhadap problematika
sosial dalam berbagai aspek kehidupan manusia, salah satu contohnya, pada tahun
2018 masyarakat sempat ditimpa kekhawatiran dan resah oleh adanya informasi
palsu yang menyebar luas tentang kebangkitan PKI yang sebenarnya
bukanlah isu baru, tapi isu ini menjadi makin viral di tahun 2018, seiring
dengan dinamika politik Indonesia. Beberapa kejadian seolah dikaitkan dengan
kebangkitan PKI. Pada awal 2018 terjadi kasus pemukulan terhadap seorang kyai
atau tokoh agama. Setelah tertangkap pelakunya ternyata adalah orang gila.[8]Kondisi
ini menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Agar masyarakat dapat
objektif menerima informasi yang diperoleh, keterampilan critical thinking
menjadi penting karena akan menghalangi ketergesahan untuk menilai kebenaran
data begitu saja, selain itu keterampilan critical thinking memberi
ruang untuk memeriksa dan menolak kebohongan yang mungkin berada di dalamnya.
Seseorang tidak memiliki
keterampilan literasi dan critical thinking sejak lahir, melainkan
keterampilan ini diperoleh dari proses latihan, belajar, atau pengalaman.
Penyiapan sumber daya manusia yang menguasai keterampilan abad XXI terutama
literasi dan critical thinking akan efektif jika ditempuh melalui jalur
pendidikan. Perubahan kurikulum telah dilakukan oleh pemerintah, pada jenjang
sekolah menengah ke bawah telah diterapkan kurikulum 2013 dengan berbagai
perbaikannya, kurikulum 2013 sesungguhnya telah mengakomodasi keterampilan abad
XXI, baik dilihat dari standar isi, standar proses, maupun standar penilaian.
Pada standar proses, terbukti menurut Anik Twin (2018) literasi dalam
pendekatan scientific approach tersirat dalam skenario pembelajaran,
skenario pembelajaran yang diharapkan berorientasi pada peningkatan kemampuan
berpikir kritis (critical thinking) dan
penilaian hasil belajar berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills).[9]Sejatinya pendidikan literasi
dan critical thinking dapat dijumpai implementasinya dihampir seluruh sektor pendidikan
termasuk pendidikan di pondokkpesantren. Pendidikanndiipondokipesantren yanggpembelajaraniutamanya menggunakannkitabbkuning[10]mempunyai metode pembelajaran khas dalam mengkaji kitab kuning.
Metode pembelajaran yang berjalan di pesantren sampai saat ini adalah metode
sorogan,[11]metode
wetonan atau bandungan,[12]dan
metode musyawarah.[13]
Menurut Lailatul Fitriyah (2019)
metode sorogan, pesetra didik hanya dilatih untuk membaca sebuah kitab kuninggdengan maksud untuk
membenarkan bacaan, pada metodeebandungan,
peserta didik hanya dilatih untuk menyimak apa yang guru bacakan sambil memberi
makna, sedangkan metode musyawarah, tidak hanya melatih peserta didik
membaca dan menyimak, akan tetapi diperlukan argumentasiidalammberpendapat.[14]Argumentasiiyang dibangun dibentuk
dari hasil literasi baca dan berfikir kritis, maksud literasi baca disini adalah membaca teks kitab
kuning. Keterampilanmmembaca teks yang baik mengindikasikan
untuk dapat membaca berbagai macam referensi kitab kuning yang menjadi tendensi
dalammmusyawarah.
Hal senada juga dinyatakan oleh Hafidz Muftisany (2016) menurutnya, metode sorogan dan bandongan pada intiya sama-sama
memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat dalam pengajaran kitab kuning. Namun,
kedua metode tersebut dianggap tidak cukup efektif untuk mengembangkan nalar
kritis peserta didik karena sedikitnya kesempatan yang diberikan untuk
mempertanyakan kebenaran materi yang dipelajarinya.[15]Berbeda
dengan metode musyawarah, menurut Rakhmawati (2016) metode musyawarah
melatih para santri lebih aktif pada pendalaman kajian dan pemecahan solusi atas
permasalahan yang terjadi sebagai suatu tanggapan para santri menjawab dengan
merujuk pada referensi kitab kuning pesantren.[16]
Sedangkan menurut Dhofier, dalam
musyawarah para santri harus belajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari
pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing
kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[17]Sementara
untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima tentunya dibutuhkan adanya
kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning sebagai
rujukan pembahasan masalah.
Berbagai pendapat tersebut mengindikasikan
bahwa metodemmusyawarah
mesti ditelitiolebih
dalam terkaitibagaimana
menjadikan peserta didik yang literat dan mampu berfikir kritis (critical
thinking). Pembelajaran kitab kuning yang notabennya menggunakan metode
musyawarah dianggap memiliki kualitas yang baik, terbuktik menurut Dhofier,
santri yang telah menyelesaikan kelas musyawarah di pesantren Tebuireng
akhirnya menjadi ulama besar yang dapat mengembangkan pesantren-pesantren
besar, namun pada saat itu santri yang dapat mengikuti musyawarah sangat
sedikit karena seleksinya sangat ketat.[18]Diantara
santri yang menjadi ulama besar setelah menyelesaikan musyawarah yaitu kyai
Manaf Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo Kediri, KH Jazuli pendiri pesantren
Ploso Kediri, dan kyai Zuber pendiri Pesantren Resosari di Salatiga.[19]
Dan masing-masing memiliki santri lebih dari 1.000 orang yang datang dari
daerah jauh.[20]
Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy merupakan
pesantren yang masih menjaga metodeemusyawarah. Metodeemusyawarah yang dipakai di pesantren ini, sebetulnya telah
ada dan merupakan sebuah tradisi sejak awallberdirinya. Metode musyawarah diaplikasikan dengan
berbagai sistematika dan terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun, hal
tersebut dimungkinkan supaya metode musyawarah dapat lebih bernilaiimaksimal. Adapun
musyawarah yang berjalan sampai saat ini adalah musyawarah harian, mingguan,
bulanan, tahunan dan musyawarah sewilayah tiga Cirebon.[21]
Berdasarkanolatarobelakang tersebut, penelitiutertarik untukkmelakukan penelitianntentang seberapa besar pengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking
di Pesantren Kebon Jambu?
B. IdentifikasiiMasalahiDaniBatasaniMasalah
1. IdentifikasiiMasalah
Dari latarrbelakang masalah tersebut, maka dapat
diidentifikasikan masalahhsebagai
berikut:
a.
Pendidikannliterasi diindikasikan dapat
menjawab permasalahan terhadap keterampilan literasi peserta didik.
b.
Berfikir
kritis (critical thinking) menjadi penting karena akan menghalangi
ketergesahan untuk menilai kebenaran data begitu saja.
c.
Literasi
dan critical thinking menjadi keterampilan yang harus dikuasi di abad
XXI.
2.
Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis
mencoba mengetahui kualitas dari pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon. Adapun batasan masalah
pada penelitian ini adalah kajian kitab kuning dengan menggunakan metode
musyawarah.
C.
RumusaniMasalah
Berdasarkannlatarrbelakang masalahttersebut, penelitiannini secarauumum
inginnmengungkapkan
pengaruh metodeemusyawarah
dalam pembelajaran kitab kuninggterhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di
Pesantren Kebon Jambu.
Adapun
penelitian ini secaraaterperinci berfokus padaahal-halksebagai berikut:
1.
Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan literasi sanri ?
2.
Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning terhadap keterampilan critical thinking santri ?
3.
Apakah
keterampilan literasi kitab kuning berpengaruh pada keterampilan critical thinking
santri ?
D.
TujuaniPenelitian
Adapun
tujuan dari penelitian ini diantaranya sebagaiiberikut:
1.
Untuk
menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam
meningkatan keterampilan literasi sanri.
2.
Untuk
menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam
meningkatkan keterampilan critical thinking santri.
3.
Untuk
menjelaskan seberapa besar pengaruh keterampilan literasi kitab kuning terhadap
keterampilan critical thinking santri.
E.
KegunaaniPenelitian
Hasilldarippenelitiannini diharapkanndapatbbermanfaat,idiantaranya:
1.
Penelitian
ini dapat menjadi acuan dalam menerapkan atau mengembangkan metode pembelajaran
secara lebih mendalam.
2.
Sebagai
suatu sumbangsi karya ilmiah khususnya di bidang pendidikan.
3.
Penelitian
ini semoga dapat menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya terutama dalam
mengungkap sisi lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
F.
Penelitian Terdahulu
Untuk mendukung penelitian ini maka
penulis menampilkan acuan penelitian yang relevan diantaranya adalah:
Rani Rakhmawati.[22]
Jurnal. ”Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok
Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo Jawa
Timur”. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ruang lingkup
pendidikan pesantren yang memiliki ciri khas tertentu dengan penyajian
pelestarian kitab kuning. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan syawir
adalah sebagai suatu usaha untuk menjaga, melestarikan khazanah ke ilmuan
pesantren yang khas dengan cirinya kitab kuning sekaligus menjadi suatu bekal
yang mewadahi syiar agama di tengah-tengah perkembangan zaman, meski ada juga beberapa santri kurang bersemangat saat mengikuti pembelajaran syawir karena pemahaman terhadap kitab kuning belum dianggap baik.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.
Dalam penelitian ini, Penulis akan membahas seberapa besar pengaruh metode
musyawarah dalam melestarikan khazanah keilmuan pesantren yang sudah di
modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu, sehingga dapat meningkatkan kualitas
literasi, dan critical thinking santri di Pesantren Kebon Jambu.
Fathur Rohman.[23]
Jurnal.”Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di
Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang”. Jurnal ini, memberikan gambaran
pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah fiqih dengan kegiatan musyawarah di
Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Dari hasil penelitian ini
disimpulkan bahwa kegiatan musyawarah merupakan bentuk pembelajaran berbasis
masalah fiqih dalam gaya pesantren. Dari segi prinsip, karakteristik, serta
tahapan pembelajaran dalam kegiatan musyawarah telah sesuai dengan konsep
pembelajaran berbasis masalah. Penelitian yang ditulis Fathur
Rohman tersebut, menjelaskan model musyawarah
telah memenuhi prinsip dan karakteristik pembelajaran berbasis masalah. Maka,
tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa musyawarah merupakan model
pembelajaran fiqih berbasis masalah ala pesantren.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini
akan membahas seberapa besar pengaruh metode musyawarah yang sudah di
modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu dalam
meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri
Pesantren Kebon Jambu.
Zaenuddin.[24] ”Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan
Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning”. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi
multi situs dengan kasus yang ada di Pondok Pesantren Panggung Tulungagung dan
Hidayatul Mubtadiin Ngunut Tulungagung. Dari hasil penelitian yang ditulis Zaenuddin tersebut hanya menjelaskan implenentasi metode
diskusi atau musyawarah dan bandungan pada peningkatkan kualitas santri dalam
membaca kitab kuning.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini
akan membahas pengaruh metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking
santri Pesantren Kebon Jambu.
Mohammad
Sholeh.[25]“Kajian
Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok
Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur”. Dalam penelitian tersebut mendeskripsikan
tentang strategiidanmmetode musyawarah dalam
mengkaji kitab turath di Pesantren Langitan Widang Tuban. Hasil
penelitian menjelasakan metode musyawarah pada kajian kitab turath telah
dianggap dapat meningkatkan tipologi gaya berfikir santri, baik kemampuan
berfikir kritis, kreataif, analitis, dan logis, meskipun masih terdapat santri
yang kadang bersikap tidak perduli pada saat kegiatan musyawarah karena santri
tersebut masih belum bisa menguasai dan memahami kitab turath dengan
baik.
Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon
Jambu Pesantren Babakan Ciwaringin. Dalam penelitian ini akan membahas pengaruh
metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical
thinking santri Pesantren Kebon Jambu.
Merujuk kepada beberapa hasil
penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitaian ini memiliki perbedaan
dengan penelitan-penelitian sebelumnya, Adapun yang menjadi fokus penelitian
ini adalah tentang pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking
di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon.
G.
Kerangka Pemikiran
Metode musyawarah sistem pengajaran
sangat berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari
sendiri kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah
seperti dalam suatu seminar lebih banyak dalam bentuk tanya jawab dan merupakan
latihan bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap
sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik. Kemampaun literasi
adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk
mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar. Sedangkan kemapuan critical
thinking adalah kemampuan berargumentasi, kemampuan berargumen sendiri akan
sangat berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian,
dapat diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat
argumentasi yang dibuat.
Tabel 1.1
Skema kerangka berfikir
|
Metode
Musyawarah |
|
· Argumentasi yang baik · Referensi kitab yang dapat
dipertanggung jawabkan · Pembahasan tidak menyimpang dari
pokok permasalahan |
|
Keterampilan
Literasi |
Keterampilan Critical
Thinking |
|
· Mampu
mengambil informasi. · Mampu
membentuk pemahaman yang luas. · Mampu
merefleksikan dan mengevaluasi isi teks. · Mampu
merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks. |
· Mampu merumuskan masalah · Mampu memberikan argumentasi · Mampu melakukan deduksi dan
induksi · Mampu melakukan evaluasi · Mampu mengambil keputusan dan
tindakan |
Untuk menyamakan persepsi dan
menghindari adanya perbedaan pemahaman beberapa istilah dalam penelitian ini,
perlu adanya definisi dan batasan istilah yang akan dipilih dan digunakan oleh
peneliti, sebagai berikut:
1.
Metode Musyawarah Kitab Kuning
a.
Definisi dan indikataor metode musyawarah
Dhofier menyatakan bahwa metode
musyawarah berbeda dengan sorogan dan bandungan. Pembelajaran menggunakan
metode musyawarah siswa mempelajari kitab kuning secara individu. Pengajar yang
biasa disebut kyai memimpin musyawarah seperti dalam seminar dan lebih berfokus
dalam bentuk tanya jawa, biasanya kegiatan musyawarah ini hampir semuanya menggunakan
bahasa Arab dan merupakan bentuk latihan untuk siswa mengasah keterampilan bernalar
dan mengambil literatur kitab kuning.[26]
Biasanya, pengajar
sebelum musyawarah di mulai beberapa hari sebelumnya telah menyiapkan sejumlah
pertanyaan bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari sebelum
siding musyawarah dijadwalkan, peserta kelompok musyawarah menyelenggarakan
diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah satu juru bicara. Diskusi dalam
musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat diminta untuk
menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi.[27]
Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang
dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa
digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[28]
Adapun indikator metode musyawarah sebagai berikut:[29]
1.
Toleransi dalam berpendapat.
2.
Berani menyampaikan pendapattatauiide.
3.
Berfikir secaraoobjektif,iargumentatif,irasional,isitematis danikritis.
4.
Lebihlkomprehensif
membangunnwawasan.
5.
Kritis terhadap sesuatu pernyataan dan kesadaran
membangun alternatifnya.
b.
Kitab kuning
Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau
sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah),
mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu
nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial
dan kemasyarakatan lainnya.[30]
2.
Definisi dan Indikataor Kemampuan Literasi
Menurut Jean E Spencer dalam
The Encyclopedia Americana bahwa literas adalah kemampuan membaca dan
menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang
terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas.[31]
Adapun indikator literasi adalah sebagai berikut:[32]
1.
Mengambiliinformasi.
2.
Pemahamaniyangiluas.
3.
Mengembangkaniinterpretasi.
4.
Merefleksiidanimengevaluasiiisiiteks.
5.
Merefleksiidanimengevaluasiibentukiteks.
3.
Kemampuan Critical Thinking
a.
Definisi dan indikataor critical thinking
Menurut Chaffee berfikir
kritis adalah aktifitas berfikir yang aktif dan bertujuan. Berfikir kritis
termasuk sebuah usaha yang terorganisir untuk memahami dunia dengan teliti,
dengan cara menimbang pemikiran yang diperoleh sendiri dan hasil pemikiran
orang lain guna memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri atas segala
sesuatu. Sejalan dengan pengertian ini, Butterworth dan Thwaites menyatakan
bahwa berfikir kritis senantiasa ditandai dengan adanya tiga aktivitas dasar,
yakni analisis, evaluasi, dan argumen. Analisis berarti mengidentifikasikan
kata-kata kunci sebuah informasi dan merekonstruksi informasi tersebut, agar
mampu menangkap makna secara utuh dan memenuhi aspek kecukupan. Evaluasi
berarti menilai kekuatan informasi atas dasar baik atau kurang baiknya argumen
yang mendukung kesimpulan dalam informasi tersebut, atau seberapa kuat bukti
yang disajikan atas klaim yang disampaikan. Argumen berarti penjelasan atau
tanggapan yang diberika oleh seseorang pengkritik atas informasi yang
diperolehnya.[33]Adapun
indikator critical thinking adalah sebagai berikut:[34]
1.
Memformulasikanipertanyaaniyangimengarahkaniinvestigasi.
2.
Argumenisesuaiidenganikebutuhan.
3.
Menunjukkanipersamaanidaniperbedaan.
4.
Mendeduksiisecarailogis.
5.
Menginterpretasiisecaraitepat.
6.
Menganalisisidata.
7.
Membuatigeneralisasi.
8.
Menarikikesimpulan.
9.
Mengevaluasiiberdasarkanifakta.
10.
Memberikanialternatifilain.
11.
Menentukanijalanikeluar.
12.
Memilihikemungkinaniyangiakanidilaksanakan.
b.
Santri
Menurut Nurcholish Majid
asal usul perkataan santri ada dua pendapat. Pertama berasal dari bahasa Sanskerta
yaitu kata sastri yang artinya melek huruf, pendapat ini menurut Majidiagaknya didasarkan atas kaum
santri adalah kelas literaly bagi orang Jawa yang berusaha mendalami
ajaran agama melalui kitab-kitab yang berbahasa Arab. Kedua, kata santri asalkata
dari bahasa Jawa (cantrik) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru
kemanapun guru ini pergiimenetap.[35]
Berdasarkan indikator-indikator di atas,
menjadi acuan dalam penelitian iniuuntuk
mengetahuisseberapa
besarppengaruhhmetodemmusyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
dan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu.
H.
Hipotesis
Adapun
hipotesisppositiffpenelitian ini dapat
penulisskemukakanbbahwa:
1.
Terdapatppengaruhppositif metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu
2.
Terdapat
pengaruh positif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon
Jambu
3.
Terdapat
pengaruh positif keterampilan literasi santri terhadap keterampilan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu
Adapun hipotesis positif atau dugaan
sementara dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka
terdapat korelasi
2.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon
Jambu, maka terdapat korelasi
3.
Jika
keterampilan literasi santri memberikan pengaruh terhadap keterampilan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi
Maka hal tersebut di atas ada pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dan critical thinking, hipotesisnya diterima.
Adapun hipotesis negatif yang dapat
peneliti kemukakan adalah sebagai berikut:
1.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu,
maka tidak terdapat korelasi
2.
Jika
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh
terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di
Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi
3.
Jika
keterampilan literasi santri tidak memberikikan pengaruh terhadap keterampilan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi
Maka hal tersebut di atas tidak ada
pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan
santri pada keterampilan literasi dan critical thinking, hipotesisnya
ditolak.
Dalam penelitian ini hipotesis statistiknya adalah:
1.
Hipotesis
(Ha): ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)
2.
Hipotesis
(Ho): tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)
I. SistematikaaPenulisan
Adapunssistematikappenulisantterbagiddalammbeberapabbabddan subbbab sebagaiiberikut:
Babbpertama,ppendahuluan, padappendahuluan akanddikemukakannlatar belakangmmasalah,iidentifikasi danbbatasannmasalah, rumusannmasalah, tujuan penelitian,kkegunaan,ppenelitian terdahulu,kkerangka pemikiran,
hipotesis, dan sistematikappenulisan.
Bab kedua, kajian pustaka, bab ini
menguarikan teori-teori tentang pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning terhadap keterampilan literasi dan critical thinking.
Bab ketiga, akan diurai tentang
metodologi penelitian, secara umum bab ini terdiri dari tempat dan waktu
penelitian, profil Pesantren Kebon Jambu, metodologippenelitian,ppopulasi danssampel, instrumen penelitian, ujiiinstrumen, teknikaanalisis dataadan uji hipotesis.
Bab keempat, akan dibahas tentang
temuan dan pembahasan penelitian pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical
thinking di pesantren kebon jambu.
Babbkelima,ipenutupiyangiberisiikesimpulanidanirekomendasi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS PENGARUH METODE MUSYAWARAH
DALAM PEMBELAJARAN KITAB
KUNING TERHADAP KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL
THINKING
A. Pengaruh
Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
1.
Teori Metode Musyawarah
Metode musyawarah dikategorikan sebagai pembelajaran kelompok
berbasis masalah, teori yang melandasi metode musyawarah atau pembelajaran
kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk
sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama
kelompok dan interaksi antar siswa, sebagaimana yang dinyatakan oleh Slavin
bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif[36]
yang anggotanya empat orang atau lebih dengan struktur kelompok heterogen.[37]
Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori konstruktivistik
Piaget dan Vigotsky. Menurut sudut pandang teori konstruktivistik Piaget lebih
menekankan kepada kondisi individu, belajar yang baik yaitu ketika siswa aktif
mencari
informasi yang mereka perlukan dan sekaligus mencari pemecahan masalahnya
sendiri.[38]
Sedangkan menurut Vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada
umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antar individu, sebelum fungsi
mental yang lebih tinggi terserap pada individu tersebut. Implikasi dari teori
Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif.[39] Dengan
demikian pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas kelompok-kelompok
siswa. Pernyataan Piaget dan Vigotsky tersebut sesuai apa yang dinyatakan oleh
Dhofier bahwa dalam musyawarah para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab
klasik untuk mencari pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai
pada masing-masing kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[40]
Menurut Lailatul Fitriyah (2019) pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok
belajar atau bisa disebut dengan musyawarah tersebut yang kemudian melatih
keterampilan peserta didik mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Latihan menyimak terjadi ketika peserta didik mendengarkan apa yang
disampaikan oleh teman musyawarah yang lain, latihan berbicara terjadi ketika
peserta didik menyampaikan argumentasinya dan latihan menulis terjadi ketika
menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.[41]Sementara
untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima, dibutuhkan adanya
kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning yang
menjadi rujukan pembahasan masalah.
Pembelajaran menggunakan metode musyawarah guru diharapkan
membentuk kelompok-kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua
anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajaranya
sendiri dan teman-teman satu kelompoknya. Masing-masing anggota kelompok
bertanggung jawab mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman-teman satu
anggota untuk mempelajarinya juga. Pembelajaran kooperatif mempunyai pendekatan
pembelajaran diantaranya STAD (Student Teams Achievement Divisions),
kelas jigsaw, belajar bersama, investigasi kelompok, dan penulisan kooperatif.[42]
Pendekatan pembelajaran kooperatif pada metode musyawarah yang
dipakai adalah belajar bersama, pendekatan belajar bersama diciptakan oleh David
dan Roger Johnson (1994) pendekatan ini mengandung empat komponen: (1)
interaksi tatap muka; (2) interdepedensi positif; (3) akuntabilitas individual;
dan (4) pengembangan keahlian kelompok interpersonal. Jadi selain aspek
prestasi seperti digagas Slavin, pendekatan pembejaran kooperatif Johnson ini
juga difokuskan pada perkembangan sosial emosional dan interaksi kelompok.
Dalam belajar bersama, murid bekerja dalam kelompok heterogen terdiri dari
empat sampai lima anggota untuk menyelesaikan tugas yang menekankan pada
diskusi dan team building.[43]
2.
Pengertian Metode Musyawarah
Secara etimologi, istilah metode
berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku
kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos”
yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk
mencapai tujuan. Dalam bahasa arab metode disebut dengan thariqat, sehingga
dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk
menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.[44]
Pendidikan di pondok pesantren mempunyai metode pembelajaran dalam mengkaji kitab kuning,[45] salah
satunya adalah metode musyawarah. Metode
musyawarah atau dalam bahasa lain bahtsul masa’il merupakan metode
pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar, sebagai mana
yang dikatakan oleh Dhofier bahwa musyawarah,..sistem..pengajaran sangat...berbeda dari...sistem…sorogan
dan...bandungan...Para...siswa..harus mempelajari...sendiri kitab-kitab...yang ditunjuk dan
dirujuk...Kyai
memimpin kelas musyawarah..seperti
dalam suatu..seminar
dan lebih..banyak
dalam bentuk tanya..jawab,
biasanya hampir..seluruhnya
diselenggarakan..dalam
bahasa..Arab, dan
merupakan..latihan
bagi..para siswa
untuk..menguji
keterampilannya...dalam
menyadap sumber-sumber..argumentasi
dalam kitab-kitab Islam klasik.[46]
Seringkali, pimpinan...pesantren beberapa
hari sebelum musyawarah dimulai menyiapkan...sejumlah pertanyaan bagi peserta kelompok musyawarah yang
akan bersidang. Hari-hari..siding
dijadwal..mingguan.
Hari-hari..sebelum
acaraidiskusi,ipesertaimusyawarah.biasanyaimenyelenggarakanidiskusi terlebih dahulu dan menunjuk..salah seorang juru..bicara. Diskusi..dalam kelas musyawarah..bernuansa bebas. Mereka..yang mengajukan
pendapat..diminta
untuk menyebutkan..sumber
sebagai dasar..argumentasi.[47]Musyawarah
juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap
rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa digunakan oleh
santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[48]
3.
Komponen Metode Musyawarah
Pada
setiap musyawarah yang..dilaksanakan
santri..tidak bisa..terlepas dari lima..komponen.
Komponen-komponen tersebut..adalah:[49]
1. Moderator
Moderator..adalah seseorang yang..ditunjuk untuk memimpin
jalannya..kegiatan..musyawarah. Seorang..moderator..diharuskan.orang.yang benar-benarimemiliki kecakapaniberdiskusiisekaligus mempunyaiiilmuiyang cukup terhadap..persoalan yang..dibahas. Sebab tugas..moderator tidak hanya
sebagai pengatur jalannya musyawarah, akan tetapi juga..harus bisa memahami, mengkordinir dan..menyimpulkan..berbagai pendapat dengan
bahasa yang lebih sederhana..dan
mudah dipahami oleh peserta.musyawarah.
2. Notulen
Notulen..merupakan.seorang yang bertugas..mencatat semua..hasil musyawarah berupa referensi yang digunakan
oleh peserta..dan..musahih. Hasil..catatan dari..notulen selanjutnya..diarsipkan untuk..dokumentasi.
3.
Peserta
Peserta..merupakan..orang..yang andil.dalam musyawarah.
Sebelum pelaksanaan musyawarah..para
peserta telah..disodori
persoalan yang akan dibahas dalam..musyawarah..beberapa hari..sebelumnya..Karena..itu,..dalam pelaksanaan..musyawarah..para peserta biasanya
membawa sebanyak mungkin..referensi
untuk dijadikan..sumber..argumentasi.
4.
Perumus
Perumus...merupakan..orang..yang...merangkum...jawaban-jawaban dan
argumentasi..yang..sudah...disampaikan dalam musyawarah...Perumus bertugas..meredaksikan...keputusan musyawarah
dalam redaksi yang sederhana...sehingga
dapat difahami...oleh
semua pihak...Perumus..juga berkewajiban..memilih..argumentasi..yang sangat..relevan dari..ta’bir atau dalil..yang..dikemukakan..peserta.
5.
Pentashih
Pentashih merupakani seorangiyangiimenjadiipengarah. Pada Posisi pentashih dalam...musyawarah..sangat...strategis,..karena...mereka..menjadi pihak..yang..memiliki..otoritas.memutuskan.hasil kajian dalam musyawarah. Mereka....yang...menduduki...posisi...tersebut dipersyaratkan mempunyai keilmuan....yang...baik...dan…diatas...rata-rata. Biasanya...posisi tersebut diduduki..oleh..kyai,..ustadz atau santri
senior, bergantung.level
musyawarah yang..diselenggarakan.
4.
Metodologi Pengambilan Keputusan Metode Musyawarah
Pengambilan..keputusan..dalam.musyawarah.ditentukan.pada.kerangka bermadzhab..dengan..mengikuti..pendapat yang.sudah jadi dalam ruang.lingkup mazhab..tertentu. Karenanya..pengambilan..keputusan jawaban..sesuai dengan prosedur..yang disusun..dalam urutan..sebagai..berikut:[50]
1. Keputusan..musyawarah..bersumber.dari.kitab-kitab.Madhahib
al-Arba'ah. Diluar.Madhahib
al-Arba’ah.tidak
boleh.dipakai sebab..madzhab-madzhab diluar....itu...belum…pernah...dibukukan,....namun...untuk permasalahan-permasalahan..yang...bisa..ditemukan..syarat..dan..rukunnya..boleh diikuti meskipun..diluar..Madhahib..al-Arba’ah.
2. Jika..dalam menyelesaikan..suatu kasus...kemudian
tidak ada satupun pendapat yang dianggap dapat menyelaikan suatu permasalahan,
maka dianjurkan dengan metode ilhaq al-masa’il binaza ‘iriha, namun hal
tersebut untuk..orang-orang
yang.sudah mencapai
derajat.faqih (ahli
bidang fikih) diperbolehkan menggunakan metode..ilhaq dengan syarat masalah-masalah
yang diilhaqkan bukan masalah-masalah yang..termasuk..kategori sulit..(membutuhkan..pemikiran..yang panjang untuk menemukan titik
persamaannya)..Begitu
pula seorang faqih diperbolehkan memakai..kaidah-kaidah..mazhab yang bersifat..umum.
3. Tidak..boleh..menggunakan..ta'bir berupa..ayat-ayat..al-qur’an..atau..hadis yang masih..mentah, tanpa
interpretrasi..dari
para ulama yang..memenuhi
kriteria..ahli dalam
bidang ilmu tafsir.
4. Jika menggunakan madzhab diluar Syafi’i
agar diperjelas syarat dan rukun yang bersangkutan dengan masalah demikian
berdasarkan madzhab yang dipilih, karena termasuk salah satu persyaratan taqlid
adalah mesti mengetahui syarat, rukun, dan kewajiban yang berkaitan dengan
madzhab tersebut.
5. Menurut ulama fikih sosial dan hasil
keputusan Nahdlatul Ulama, qaul da’if sebaiknya dipakai sebagai pegangan
untuk memutuskan suatu masalah yang telah berlaku di masyarakat. Karena
keputusan musyawarah bukanlah kategori fatwa melainkan sekedar memberikan
petunjuk dengan catatan pendapat yang dijadikan petunjuk tersebut tidak sangat
lemah sekali.
6. Teks-teks pendapat ahli fikih berkaitan
dengan suatu permasalahan yang terjadi perbedaan atau saling bertentangan, jika
masih bisa dicarikan titik temu, maka wajib dicarikan titik temunya.
7. Menurut qoul mu’tamad, pendapat
yang masih mutlak harus difahami menurut kemutlakannya, meskipun ada sebagian
pendapat ulama yang menentangnya.
8. Pada kasus saat jawaban dianggap cukup
oleh satu pendapat yang terdapat dalam satu kitab, maka boleh dipakai pendapat
tersebut sesusi yang telah diterangkan dalam kitab tersebut.
Prosedur memilih pendapat dilakukan sebagai berikut:
1. Saat dijumpai beberapa pendapat dalam
satu masalah yang sama maka diusahakan memilih salah satu pendapat.
2. Dalam memilih pendapat tersebut lebih
diprioritaskan pada pendapat yang lebih maslahat atau yang lebih kuat.
5.
Ketentuan Metode Musyawarah
untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan
metode musyawarah, kyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[51]
1. Peserta musyawarah merupakan santri yang
berada pada tingkatan menengah atau tinggi.
2. Peserta musyawarah tidak mempunyai
perbedaan yang sangat jauh. Hal ini dimaksudkan dalam usaha mengurangi
kegagalan musyawarah.
3. Topik atau persoalan ditentukan lebih
dahulu oleh kyai atau ustadz pada pertemuan sebelumnya.
4. Pada beberapa pesantren yang mempunyai
santri tingkat tinggi, musyawarah biasanya dilakukan secara terjadwal sebagai
latihan untuk para santri dalam mengasah keterampilan berfikir kritias dan
keterampilan menyadap literasi kitab kuning.
Kegiatan
musyawarah dimulai dengan penyajian masalah oleh narasumber yang menguasai
permasalahan yang akan diangkat. Sesudah narasumber menyajikan masalah,
selanjutnya moderator mempersilahkan peserta tiap kelompok untuk membahas dan
memberikan argumentasi. Argumentasi yang di jelaskan mesti menyertakan
referensi dari kitab kuning yang mereka
baca dan pelajari. Diakhiri dengan pembahasan, kesimpulan akhir, kemudian akan
dirumuskan oleh tim perumus atau musohih yang kemudian disahkan oleh majlis
pengesahan.[52]
6.
Indikator Metode Musyawarah
Indikator pencapaian metode musyawarah
kitab kuning antara lain sebagai berikut:[53]
1. Toleransi..berpendapat.
2. Berani..menyampaikan..gagasan..atau..ide.
3. Berfikir..dengan..objektif,..rasional,..kritis,..argumentatif,..dan..sistematis.
4. Mebentuk..wawasan..yang..luas..dan..lebih..komprehensif.
5. Mengasah..daya...kritis...terhadap...suatu…pernyataan dan kesadaran
membangun...alternatifnya.
B.
Keterampilan Literasi Kitab Kuning
1.
Teori Keterampilan Literasi Kitab Kuning
Keterampilan literasi kitab kuning
menggunakan teori dari Yunus Abidin yang menggagas istilah multiliterasi. Pada konsep
literasi ini, keterampilan literasi kususnya membaca..diartikan..sebagai..usaha untuk memahami, menggunakan,..merefleksi,..dan..melibatkan..berbagai..jenis teks untuk..mencapai tujuan.[54] Keterampilan literasi pada..pembelajaran..kitab kuning..mewujud..pada..metode..pembelajaran..musyawarah..diperoleh dengan membaca..teks...kitab..kuning. Kemampuan membaca
teks yang baik memungkinkan...untuk...membaca...beragam...referensi kitab kuning
yang menjadi...rujukan
dan..informasi
berkaitan...dengan...penjelasan-penjelasan permasalah
musyawarah. Dalam pengertian ini, kegiatan membaca membutuhkan..kemampuan..menganalisis..dan.menyintesis.informasi, sehingga pemahaman..yang..dihasilkan..memiliki..struktur..makna..yang..kompleks.
Lebih..lanjut,..upaya..menganalisis..dan..menyintesis.informasi hanya dapat..dilakukan..jika..seorang..pembaca..terlibat..langsung..dengan..teks, atau termotivasi..untuk..membaca..teks..tersebut. Teks.yang.dibaca.juga.dapat sangat beragam..baik..dari..segi..isi,..bentuk,..jenis,..maupun..media..yang..digunakan.
Pengertian literasi membaca juga
mengandung makna mendalam tersendiri. Frasa dalam rangka mencapai tujuan
mengindikasikan bahwa membaca tidak terlepas dari tujuan apa yang diharapkan
untuk dicapai oleh pembacanya. Dengan kata lain, membaca harus dilakukan dengan
berdasarkan pada tujuan membaca tertentu. Membaca juga harus dimanfaatkan untuk
mengembangkan pengetahuan dan potensi pembaca seihingga orang tersebut mampu
berpartisipasi. Partisipasi ini didasarkan atas teks yang berhasil dipahami
secara utuh.[55]
Keterampilan literasi membaca..lebih..berkenaan..dengan konsep membaca..cermat...Menurut..Sisson (2014) membaca..cermat..adalah..proses membaca...yang...dilakukan...secara...berulang...terhadap...teks...yang bersifat kompleks. Hal..ini..bertujuan..untuk..mencapai..tiga..tahap..pemahaman, yakni pemahaman..literal,..pemahaman...inferensi,..dan..pemahaman evaluatif. Guna mencapai..ketiga..level.pemahaman.ini, proses.membaca.dilakukan.berdasarkan kerangka kerja.membaca.cermat.yang..meliputi..aktifitas mengidentifikasikan
teks, menetapkan tujuan...membaca,...memilih..model..membaca, mengakses teks, menyelesaikan siklus…membaca...dan...menyajikan pertanyaan…dan mendiskusikan..isi..teks.
Lebih..lanjut..tentang..membaca..cermat, Lapp..(2015) menyatakan bahwa membaca..cermat..merupakan..proses..membaca..yang..sangat penting karena..sejalan…dengan..standar..pembelajaran...literasi..dewasa ini…Melalui kegiatan...membaca...cermat,...pembaca...diharapkan dapat…mengembangkan
kemampuannya..dalam..memahami..isi..teks..secara..umum, menemukan..detail kunci..teks,.mengembangkan.kosokata.dan.memahami.struktur teks,.memahami tujuan..penulis,..membuat..inferensi..isi..bacaan,..serta mengembangkan opini, argumen,..dan..menghubungkan..berbagai.teks. Berdasarkan fungsinya,.melalui membaca..cermat..inferensi..tidak..hanya..akan..beroleh pemahaman…dangkal terhadap..teks..kompleks,.namun.lebih.jauh.mampu.mengevaluasi beragam.teks yang..kompleks.[56]
Literasi..yang..dalam..bahasa..Inggrisnya..literacy.berasal.dari bahasa Latin..yaitu..litera..(huruf)..yang..pengertiannya..melibatkan..pengertian sistem-sistem..tulisan..konvensi-konvensi yang..menyertainya, literasi juga...sering diartikan..sebagai..keaksaraan.[57]Jika...dilihat..dari...makna…harfiah, menurut Adibah
(2018) literasi..berarti..keterampilan..seseorang..untuk..membaca dan menulis. Seringkali orang..yang..bisa..membaca..dan..menulis..disebut literat, sedangkan..orang..yang..tidak..bisa..membaca..dan..menulis.disebut iliterat.atau buta..aksara.[58] Menurut
Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana bahwa literas
adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk
mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar.[59] Kirsch
juga mengemukakan bahwa literasi pada dasarnya adalah kemampuan menggunakan
informasi cetak atau tertulis untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi.[60]
Sedangkan menurut Evelyn Williams English, literasi diartikan sebagai kemampuan
membaca, menulis, dan memecahkan masalah.[61]
Jadi keterampilan literasi merupakan..keterampilan..tertentu..yang diperlukan..untuk..mendapatkan..informasi, sehingga.dapat.berpartisipasi.dalam meyampaikan sebuah
pendapat atas teks yang berhasil dipahami. Tradisi literasi bisa diamati dari
aktifitas pribadi seseorang, oleh karenanya ketika berbicara tradisi literasi juga
berkaitan erat dengan pendidikan, kecendekiawanan dan status sosial seseorang.[62]
2.
Jenis Literasi
Menurut.Ibnu.Adji.Setyawan[63]
istilah.literasi.sudah.mulai.digunakan dalam..skala..yang..lebih..luas..tetapi..tetap..merujuk..pada kemampuan atau kompetensi..dasar..literasi..yakni..kemampuan..membaca.serta.menulis. Intinya, hal..yang..paling..penting..dari..istilah.literasi.adalah.bebas.buta aksara.supaya bisa..memahami..semua...konsep...secara...fungsional, sedangkan...cara…untuk mendapatkan..kemampuan..literasi..ini..adalah..dengan melalui…pendidikan. Sejauh..ini,..terdapat..9..macam..literasi,..antara..lain:
1.
Literasi..kesehatan..merupakan.kemampuan.untuk.memperoleh, mengolah serta.memahami.informasi.dasar.mengenai.kesehatan.serta layananlayanan apa..saja..yang..diperlukan..di..dalam..membuat.keputusan kesehatan.yang tepat.
2.
Literasi.finansial.yakni.kemampuan.di.dalam.membuat.penilaian terhadap informasi..serta..keputusan..yang..efektif...pada...penggunaan dan…juga pengelolaan..uang,..dimana…kemampuan…yang…dimaksud mencakup berbagai..hal..yang...ada..kaitannya...dengan..bidang..keuangan.
3.
Literasi..digital merupakan...kemampuan...dasar...secara teknis...untuk menjalankan..komputer..serta..internet..yang.ditambah dengan.memahami serta..mampu..berpikir..kritis..dan..juga..melakukan..evaluasi pada..media digital..dan..bisa..merancang..konten..komunikasi.
4.
Literasi..data..merupakan..kemampuan.untuk.mendapatkan.informasi dari data,..lebih..tepatnya..kemampuan.untuk.memahami.kompleksitas analisis data.
5.
Literasiiiikritikaluumerupakanuusuatupppendekatanooinstruksional yang menganjurkan..untuk..adopsi..perspektif..secara..kritis terhadap..teks,.atau dengan..kata..lain,..jenis..literasi..yang..satu..ini..bisa kita..pahami.sebagai kemampuan...untuk...mendorong…para…pembaca…supaya…bisa aktif menganalisis…teks..dan..juga.mengungkapkan..pesan.yang.menjadi dasar argumentasi..teks.
6.
Literasi..visual..merupakan kemampuaniuntukimenafsirkan,klmenciptakan dan..menegosiasikan makna
dari informasi yang berbentuk gambar visual. Literasi visual bisa juga kita
artikan sebagai kemampuan dasar di dalam menginterpretasikan teks yang tertulis
menjadi interpretasi dengan produk desain visual seperti video atau gambar.
7.
Literasi.teknologi..merupakan kemampuan seseorang.untuk bekerjaisecara independen maupun
bekerjasama dengan orang lain secara efektif, penuh tanggung jawab dan tepat
dengan menggunakan instrumen teknologi untuk mendapat, mengelola, kemudian
mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat serta mengkomunikasikan informasi.
8.
Literasiistatistikimerupakanuukemampuan…untuk…memahami statistik. Pemahaman..mengenai..ini..memang..diperlukan..oleh.masyarakat supaya bisa...memahami..materi-materi..yang..dipublikasikan..oleh..media.
9.
Literasi..informasi..merupakan..kemampuan..yang..dimiliki.oleh seseorang di.dalam.mengenali.kapankah.suatu.informasi.diperlukan.dan kemampuan untuk.menemukan.serta.mengevaluasi,.kemudian.menggunakannya secara efektif.dan.mampu.mengkomunikasikan..informasi..yang..dimaksud dalam berbagai..format..yang..jelas..dan..mudah..dipahami.
Sesuai
uraian di atas keterampilan literasi kitab kuning tergolong pada keterampilan literasi
kritikal dan informasi karena dalam kegiatan mencari referensi dalam musyawarah
tidak hanya membaca kitab kuning tetapi mendorong pembaca...aktif..menganalisis..teks..dan..juga…mengungkapkan informasi..pesan..yang..menjadi..dasar..argumentasi.
Sedangkan menurut Ferguson,[64]
literasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1.
Literasi dasar (basic literacy), literasi jenis
ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara,
membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk
mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting)
berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating),
mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta
menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan
kesimpulan pribadi.
2.
Literasirrperpustakaanrr(library
literacy),rrlebihkklanjut,hsetelahlmemiliki kemampuankkdasarmmmakallliterasikperpustakaan.untuk mengoptimalkan literasikkperpustakaanuuyangakada. Maksudnya,kkpemahamanuitentang keberadaanmperpustakaanyysebagaikyusalahunsatu akses mendapatkan informasi.ePadamudasarnyakliterasi.perpustakaan,iantara lain, memberikan pemahamanukcaraimembedakanibacaanufiksiadan.nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensiajdankkperiodikal,ggmemahamillDewey DecimaliSystem sebagaikkklasifikasiupengetahuaniyangimemudahkan dalamimenggunakan
perpustakaan, memahamililpenggunaankkkatalogmmdanmpengindeksan, hinggakmemilikijpengetahuankhdalamimemahamiiinformasi ketikaisedang menyelesaikankksebuahuhtulisan,lkpenelitian,mpekerjaan, atauomengatasi masalah.
3.
Literasikkmediao(media literacy),yyyaitukukemampuankuntukimengetahui berbagaiubentukiumediaklyangkuberbeda,husepertikomedialucetak, media elektroniko(mediaoradio,umediautelevisi),omediakdigitalk(media internet), dankmemahamiktujuankupenggunaannya.kiSecarakogamblang.saat iniibisa dilihataldiomasyarakatobahwaimediailebihosebagaiihiburanisemata. Belum terlaluijauhomemanfaatkanimediaysebagai.alat.untuk.pemenuhan informasi tentangkkpengetahuankdan.memberikanlpersepsiipositifidalam menambah
pengetahuan.
4.
Literasikuteknologioo(technology literacy),oyaituikemampuanomemahami kelengkapanyyangymengikutikteknologiiseperti perantiikeraso(hardware),
perantiilunakoo(software),kksertaooetikakdanietiketidalam memanfaatkan teknologi.muBerikutnya,oodapatkjmemahamilteknologikuntuk mencetak,
mempresentasikan,oudankumengaksesuiinternet. Dalamoupraktiknya, juga
pemahamanmumenggunakanulkomputer (ComputerooLiteracy)myangidi dalamnyaimencakupimenghidupkanidanimematikan komputer,imenyimpan danimengelolaiidata,isertaimenjalankaniprogramiperangkat lunak.oSejalan denganomembanjirnyauinformasipkarena perkembanganooteknologiosaat ini,mdiperlukanopemahamanuyangobaikpdalam mengelolakinformasi yang
dibutuhkanomasyarakat.
5.
Literasievisualo(visualoiliteracy),eadalahopemahamanitingkatilanjut antara literasiomediaodanoliterasipteknologi,oyang mengembangkanpkemampuan danokebutuhanpbelajarkdenganpmemanfaatkan materikvisualodanpaudio visualmsecaraokritiskdanllbermartabat. Tafsiroterhadapimateriivisual.yang setiapmharikmembanjiri,llbaikodalamkbentukktercetakodiotelevisi maupun internet,oharuslahpterkelolaoodenganppbaik. Bagaimanapun dilldalamnya banyakonmanipulasioodanpphiburanooyangkkbenar-benarooperlu disaring
berdasarkanaketikakidankikepatutan.
Sesuaiouraianodiaatas
literasi kitab kuning tergolong pada literasi dasar karena kemampuan
berbicara dan membaca berkaitan dengan kemampuan analisis untuk mempersepsikan
informasi, mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan
pemahaman dan pengambilan kesimpulan dalam musyawarah.
3.
Tingkatan Literasi
Literasi tidaklah seragam karena literasi memiliki
tingkatan-tingkatan yang menanjak. Jika seseorang sudah menguasai satu tahapan
literasi maka ia memiliki pijakan untuk naik ke tingkatan literasi berikutnya.
Wells (1987) menyebutkan bahwa terdapat empat tingkatan literasi, yaitu: performative,
functional, informational, dan epistemic. Orang yang tingkat
literasinya berada pada tingkat performative, ia mampu membaca dan
menulis, serta berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan (bahasa). Pada
tingkat functional orang diharapkan dapat menggunakan bahasa untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari seperti membaca buku manual. Pada tingkat informational
orang diharapkan dapat mengakses pengetahuan dengan bahasa. Sementara pada
tingkat epistemic orang dapat mentransformasikan pengetahuan dalam
bahasa.[65]
Dengan demikian tingkatan literasi dimulai dari tingkatan paling
bawah yaitu performative, functional, informational, dan epistemic.
4.
Keterampilan Literasi
Menurut National
Center for Education Statistics (NCES, 2017)[66]
terdapat tujuh kunci dasar dalam literasi, yaitu:
1. Keterampilan mencari teks, mencari teks secara efisien.
2. Dasar-dasar membaca, menemukan dan mengucapkan dengan lancar.
3. Keterampilan bahasa, memahami struktur dan maksud kalimat yang berhubungan
dengan kalimat lainnya.
4. Keterampilan inference,
menggambar teks yang sesuai berdasarka inferense.
5. Keterampilan aplikasi, menerapkan hal baru dengan teliti, disimpulkan,
atau informasi dihitung untuk menyelesaikan berbagai tujuan.
6. Keterampilan mengidentifikasi perhitungan, mengidentifikasi
perhitungan-perhitungan yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan
kuantitatif.
7. Keterampilan keahlian perhitungan, keahlian melakukan perhitungan
yang diperlukan dengan tangan atau menggunakan mesin kalkulator.
5. Asas
Dasar Penilaian Literasi
Asas dasar penilaian literasi
matematika, literasi sains, literasi membaca, maupun literasi menulis menurut
Yunus Abidin (2018) adalah:[67]
1. Berfikir kritis
Konsep berfikir kritis sebenarnya
bukanlah konsep baru. Dewey telah memperkenalkan konsep berfikir reflektif
sebagai padanan konsep berfikir kritis. Dalam pandangannya, berfikir kritis
merupakan pertimbangan aktif, terus-menerus, dan teliti terhadap sebuah
keyakinan atau pengetahuan yang diterima, berdasarkan alasan yang mendukungnya
dan kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.
2. Berfikir kreatif
Keterampilan berpikir kedua
yang menjadi standar penilaian literasi adalah keterampilan berpikir kreatif.
Secarauumum, berpikir kreatif senantiasapdihubungkanodenganoketerampilankiberpikiroikritis danopemecahanomasalah. Hal ini
dipahami karena berpikir kritis juga memiliki hasil akhir berupa argumen kuat
atas sebuah informasi yang bersifat multiperspektif. Dalam konteks ini, argumen
yang unik, kuat, dan baru menjadi argumen yang berfungsi menambah khazanah ilmu
pengetahuan. Letak kreatif dalam hal ini adalah pada domain unik dan baru.
Dengan alasan, sebuah pemikiran yang unik dan baru diyakini mengandung kadar
kreativitas di dalamnya. Dalam kaitannya dengan pemecahan masalah, pemecahan
masalah yang dilakukan dengan cara-cara nontradisional dan nonkonvensional
dianggap sebagai pemecahan masalah yang baik. Dalam konteks ini, pemecahan
masalah tersebut dapat pula dikatakan sebagai solusi yang mengandung kadar
kreativitas.
3. Berpikir pemecahan masalah
Keterampilan yang ketiga dalam penilaian literasi adalah keterampilan
berpikir pemecahan masalah. Dewasa ini, kompetensi pemecahan masalah merupakan
tujuan utama proses pendidikan berbagai negara di dunia. Hal ini sejalan dengan
keyakinan bahwa pemerolehan dan peningkatan kompetensi pemecahan masalah
menjadi dasar bagi siswa untuk belajar di masa depan, berpartisipasi secara
efektif dalam masyarakat, serta untuk melakukan berbagai kegiatan pribadinya.
Dalam hal ini, siswa harus mampu menerapkan apa yang telah mereka pelajari ke
dalam situasi baru yang akan dialaminya dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk
saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa kekuatan pemecahan masalah yang dimiliki siswa menjadi hal
utama yang akan bermanfaat baginya, dalam menghadapi tantangan dalam hidup
dimasa depan.
6. Indikator
Literasi
Indikator
literasilmengukurolimaoaspekpsebagai berikut:[68]
1. Kemampuannmengambiloinformasi.
2. Kemampuankmembentukkpemahamanlyangnluas.
3. Kemampuanamengembangkanpinterpretasi.
4. Kemampuanpmerefleksikankdannmengevaluasimisioteks.
5. Kemampuankmerefleksikanadanomengevaluasilbentukpteks.
Kemampuanocmengambilpiinformasioyaitukkkemampuan mengambil informasioyangnkdisajikanooterpisahkkdalameteks. Kemampaun membentuk pemahamaniyang.luas.dan.mengembangkan.interpretasi.menghendaki pembaca untukisecaramfokuskmembangunihubunganoantariinformasiidalam teks. Tugas iniimengharuskan.pembaca.untuk.membentuk,pemahaman.yang.luas, sekaligus mengembangkanlkinterpretasi.ooPadappdasarnya,lkkemampuanknini adalah kemampuanunpembacappuntuklkmengintegrasikanokdan menginterpretasikan
berbagaipiinformasikidalamoksebuahkuiteks. Kemampuan merefleksiokdan mengevaluasinkisiokteks, sertakmerefleksiokdanokmengevaluasilbentuk teks, dikelompokkan bersamaokkeokdalamuykategoriokaspekmkmerefleksilkhdan mengevaluasi.
Keduanyaomembutuhkanipembacaiuntukumenarik pengetahuan diiluariteksidanimengaitkannyaidenganiapaiyangisedangidibaca. Merefleksikan dankmengevaluasikisimtekslsenantiasakberkenaanldenganisubstansiiteks, serta merefleksimdanimengevaluasiibentukiteksiberkenaanidenganistrukturidan fitur formalosebuahoteks.[69]
C. Keterampilan Berfikir Kritis (Critical
Thinking)
1.
Teori Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)
Keterampilan berfikir kritis (Critical Thinking) dalam
pembelajaran kitab kuning menggunakan teori John Dewey. Menurut John Deway
berfikir kritis adalah pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti
mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja
dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang
rasional.[70]
Berdasarkan pengertian tersebut, dalam pandangan Dewey menjelaskan bahwa kata
kunci berfikir kritis terletak pada kata aktif. Artinya, berfikir kritis
merupakan proses aktif dalam memahami dan mengevaluasi sebuah informasi, dan
tidak begitu saja menerima semua informasi tersebut. Kata kunci kedua terletak
pada kata terus-menerus dan teliti, yakni berfikir kritis adalah proses
memikirkan sesuatu secara mendalam sebelum membuat sebuah kesimpulan ataupan
membuat kesimpulan akhir. Kata kunci berikutnya adalah alasan, kesimpulan, dan
kecenderungan, yang menandakan bahwa konsep berfikir kritis adalah penalaran.
Walaupan penalaran bukan satu-satunya aspek berfikir kritis, keterampilan
bernalar diyakini sebagai elemen utama bagi terbentuknya keterampilan berfikir
kritis.
Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir.yang.aktif.dan bertujuan.kkBerfikirmkritiskmerupakanlsebuahuusahahyanggdilakukan secara terorganisasiuyangoumemahamiuydunialkdenganokhati-hati,omelalui kegiatan menimbang.pemikiran.sendiri,danlpemikiraniorangilainiuntuk memperjelas dan meningkatkan pemahamanoisendiriiuatasoksegalalksesuatu.lkSejalanlkdengan pengertianlkini, ButterworthkjdanlkThwaiteslmenyatakanibahwa berfikirikritis senantiasaiditandaiidenganiadanyaitigaaaktivitasidasar, yakniianalisis, evaluasi, dan argumen. Analisismberartikmengidentifikasikanmnkata-kataikunciosebuah informasi danlmerekonstruksiminformasiitersebut,magarmmampunmenangkap maknaksecaraiutuhodanmmemenuhiuaspekikecukupan. Evaluasi berarti.menilai kekuatan.informasikatasisdasarkibaikimataukkurangkhbaiknyakhargumen yang mendukunghukesimpulankjdalamokinformasiitersebut,.atauiseberapa.kuat bukti yangydisajikaniatasuklaimiyangidisampaikan. Argumenuberartiipenjelasan atau tanggapanyiyangodiberikanuoleheoseseorangutpengkritikkuatasiinformasi yang diperolehnya.[71]
Berdasarkan ketiga aktivitas berfikir kritis diatas, dapat
dikemukakan bahwa salahasatutihaloyangomenjadikdasarpkemampuanpberfikirokritiskadalah kemampuankberargumentasi.
Kemampuanuberargumentasiosendiri akan sangat
berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat
diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat
argumentasi yang dibuat. Bertemali dengan konsep ini, Harrison (2009)
menyatakankbahwaoargumenusangatiberhubungan dengan.kebenaran, kekuatan logika, danuhal-halpyangomenguatkannya. Kebenaran
merupakan bagian dari pernyataan, kekuatan logika merupakan bagian dari argumen
(hubungan antara premis dan kesimpulan), dan hal-hal yang menguatkan merupakan
properti menyeluruh atas semua argumen. Berdasarkan kenyataan ini, fokus utama
berfikir kritis padaidasarnyaoberkenaanodenganpbagaimanapsebuahuargumen dibunyikan.mOlehosebaboitu, keterampilanuberfikirokritisolebihujauhpsering dikaitkanodenganoketerampilanpmenginterpretasi,iketerampilan memverifikasi, danmketerampilanobenalar.
Lebih jauh tentang keterkaitan antara berpikir kritis dan kemampuan
berargumen, Rainbolt dan Dwyer menyatakanubahwaoberpikirkkritisoadalah keterampilanomengevaluasiuargumen-argumenlyang dibuatporang lainodengan benar, sertaumembuatisendiri argumen-argumenoyang baikudanibenar. Berpikir kritis
juga dapat dikatakan sebagai keterampilan membuat keputusan berdasarkan alasan
yangobaikpdanobenar. Keterampilan ini
diperolehomelalui
serangkaian prosesumerefleksi,umenganalisis,udanomengevaluasiisecara.efektif berbagai isuiatauomasalahoyanguditemukanidalamukehidupan. Melaluioproses ini, akanodiketahui alasan-alasan
yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai premis, serta akan diperoleh keyakinan
yang didukung alasan tersebut yang selanjutnya disebut sebagai sebuah simpulan.
Bertemali dengan tiga aktivitas dasar berpikir kritis, berpikir
kritis dapat dipandang sebagai aktivitas berpikir secara analitis dan
disengaja, serta melibatkan pemikiran alamiah. Berpikir kritis merupakan upaya
mengolah pengetahuan untuk mengidentifikasi hubungan antara disiplin ilmu dalam
rangka mencari solusi potensial kreatif, untuk memecahkan masalah tertentu.
Seseorang pemikirokritisoakanumenggunakanukemampuanireflektifnyaodalam mengambilukeputusanudanobijaksanaudalamumemecahkan masalahiomelalui kemampuanyammenganalisisosituasi, mengevaluasi
argumen danpmenarik
kesimpulanoyangootepat. Pemikir kritis
memiliki gairah untuk mencari kebenaran bahkan ketika kebenaran tersebut
bertentangan dengan keyakinan lama yang dipegangnya.
Facione menyatakan bahwa mendefinisikan berfikir kritis sangat
mudah, yakni berfikir kritis adalah kemampuan memberikan jawaban yang bukan
bersifat hafalan. Berfikir kritis bukanlah mengingat kembali informasi yang
diperoleh secara sederhana, serta bukan pula keterampilan berfikir yang tidak
logis dan tidak rasional. Berfikir kritis adalah berfikir reaktif dan naluriah.
Seseorangotidak
berfikirokritisocenderungolangsungimembuatikesimpulaniatas sebuahpinformasioyangosebenarnyapbelumujelas. Ia akan gagal
mengenali bias informasi tersebut dan cenderung tidak mempertimbangkan berbagai
perspektif yang mungkin ada. Seseorangoyangikemampuaniberfikirikritisnyairendah,iakan mengalamiukesulitanodalamomengtasiomasalahiatauitantangan. Hal.ini.kareana gagalountukimemahamiidanimengaturifakta-faktaipentingidariusebuah situasi, merasautergangguoolehuinformasiyyangutidakypenting,ykurang tekunuidalam memecahkanomasalahudanomerancangosolusiiyangibersifat samar-samar,iserta tidakosesuaiidenganosituasiotertentu.[72]
Selain sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman, berpikir
kritis juga dilandasi oleh sikap dan perilaku seseorang. Bertemali dengan
kenyataan ini‚ pemikir kritis adalah seseorang yang memiliki sikap dan perilaku
adil, berpikiran terbuka, analitis, reflektif, aktif, skeptis, dan bebas dari
Pengaruh pihak lain (merdeka). Dalam konteks ini, pemikir kritis harus siap
menerima kenyataan bahwa keyakinan yang dipegangnya selama ini bisa saja harus
diubah dengan keyakinan baru. Pemikir kritis bukanlah seseorang yang mendebat
segala sesuatu, melainkan hanya mengkritisi hal atau informasi yang tingkat
kebenaran bukti dan faktanya rendah. Pemikir kritis adalah orang merdeka yang
menyampaikan segala pandangannya dengan hanya berdasar pada pengetahuan dan
pengalamannya, dan bukan berdasarkan atas pengaruh orang lain. Sejalan dengan
kenyataan ini, berpikir kritis seyogianya tidaklah dilekati nilai negatif,
melainkan harus dimaknai dan nilai secara positif. Berpikirakritisaadalahoketerampilanomengevaluasiopengetahuan untukosecara kreatifomengembangkanopengetahuanobaruosehingga keterampilanoinioijuga seringodipadankanodenganoistilahoketerampilanoberpikirokritisokreatif.
Lebih jauh, berpikir kritis adalahovkemampuanasuntuk mempertimbangkanooberbagaioinformasiiyangidiperolehidariiberbagai sumber, memprosesiinformasiiini secaraokreatif dan.logis, menantang.dan mengevaluasi
kebenaranminformasiotersebut,omenganalisis dan membuatokesimpulanoakhir yangodianggapoodapatpdipertahankanodanpdibenarkan.oDalampptataran lain, berfikir
kritis juga dapat diartikan sebagai keterampilan menganalisis situasi
berdasarkan fakta atau peristiwa untuk membuat sebuah keputusan atau kesimpulan
dengan mempertimbangkan faktor empati, sejarah, dan budaya. Berpikir kritis
juga dapat dikatakan sebagai upaya memahami sebuah subjek, memikirkan kebenaran
subjek tersebut, mengapresiasi subjek tersebut. memahami keunggulan dan
kelemahannya, serta mengembangkan satu sudut pandang atas subjek tersebut.
Dalamakaitannyaadengan dunia pendidikan, The.Partnership.for.21st CenturyaSkills Trilling dan
Fadel mengidentifikasioempatkbidangiketerampilan berpikirokritis,oyakniopenalaran secara
efektif,ipenggunaanosistemoberpikir‚ pembuatan penilaian
dan keputusan, serta pemecahan masalah. Proses berpikiriiniimengharuskaniseseorangiuntukimenelitiiberbagai sumberiinformasi dan mengidentifikasiiinformasiikuncioyang relevan. Pemikirykritisoadalah seseorangoyangimemilikiorasayinginitahu iyangitinggi, memilikiidedikasiiyang baik dalamtmemahami keinginannyaiuntuk mendapatkan informasi atauibukti yangidapatidipercaya,idan memilikiikemampuan menilaiitujuan secaraireflektif berdasarkanipertimbanganiatasibuktiitertentu. Untuk membuat
keputusan dan mengevaluasi dampak dari tindakan yang dipilihnya, pemikir kritis
menggunakan beberapa proses berpikir sekaligus.[73]
Keterampilan berfikir kritis (critical thinking) dapat
dilatih salah satunya dengan melalui metode musyawarah kitab kuning, karena dalam
metode musyawarah kitab kuning dibutuhkan argumentasi. Argumentasi yang disampaikan
mengandung proses berpikir yang mengharuskan seseorang untuk menganalisis,
mengevaluasi, dan memilih pendapat yang paling baik dari berbagai kitab kuning
yang telah dibaca sebelumnya.
2.
Langkah-Langkah Dalam Berfikir Kritis (Critical Thinking)
Sebagai
sebuah keterampilan atau kecakapan, berpikir kritis tidak bisa diperoleh dalam
waktu singkat tanpa latihan atau pembiasaan. Karena berpikir kritis adalah
sikap (attitude), kebiasaan (habit), keterampilan (skills),
dan komitmen untuk terus mempertanyakan sesuatu, satu-satunya jalan untuk
memiliki sikap demikian adalah dengan melatih diri dan terus mengembangkannya.
Beberapa tahapan atau langkah di bawah ini diusulkan sebagai upaya untuk
mengembangkan kemampuan bersiap kritis. Sekali lagi, langkah-langkah ini jangan
sekadar dihafal tanpa mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.[74]
Dalam
mengembangkan berpikir kritis, langkah-langkah berikut perlu dilakukan.
1.
Mengenali
masalah, pengenalan terhadap masalah merupakan langkah pertama untuk
menunjukkan berpikir kritis. Jangan pernah menanggapi sesuatu, kalau Anda tidak
pernah mengenal apa masalah utamanya. Seperti seorang dokter yang tidak mungkin
mendiagnosa suatu penyakit tanpa mengenal dan mengerti gejala-gejala penyakit
yang diderita pasien, demikian juga seorang yang berpikir kritis harus
mengidentiükasi persoalan lebih dulu sebelum menarik kesimpulan atasnya.
2.
Menemukan
cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah, setelah berhasil
mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah mencariicaraimemecahkan masalahitersebut. Pengetahuaniyangilebihiluas danousahaokreatifountukimencarinyaiadalahosesuatuoyangipenting untuk mendukungoberpikirokritis.
3.
Mengumpulkanodan0menyusunisebuahiinformasioyangidiperlukan untuk penyelesaianomasalah,osepertiopengetahuanoyangoluasidiperlukan dalam mengatasiimasalah, demikianihalnyaiinformasiiyangipentingoyangiterkait denganopersoalanoperluodikumpulkan. Informasioyangocukupomembuat seseorangomampuomenilaiosesuatuosecaraotepatodanoakurat.
4.
Mengenaloasumsi-asumsiodan0nilai-nilaioyangitidakidinyatakan, artinya, seorangoberpikirikritisiperluomengetahuiomaksudiatauigagasan-gagasan di0balikosesuatuoyangotidakodinyatakanoolehiorangilain. Di siniidituntut kemampuanoanalisisoyangotajam.
5.
Menggunakan0bahasaoyangotepat,ojelas,odanikhasidalam membicarakan suatuopersoalanoiatauosuatuoihaloiyangoiditerimanya,iistilah-istilah yang gunakanodalamomenanggapiopersoalanoharuslahoberkaitanidengan topik yangidibahas. Janganomenggunakaniistilahiyangisamaisekaliitidakiterkait denganopembahasan. Penggunaanoistilah demikianoakanomengaburkan persoalanodan menambahomasalahobaru.
6.
Mengevaluasiodata danomenilai faktaosertaopernyataan-pernyataan.
7.
Mencermatioadanya hubunganologis antaraomasalah-masalahodengan jawaban-jawabanoyangodiberikan.
8.
Menarikikesimpulan-kesimpulan
atauipendapatitentang isuiatauipersoalan sedangodibicarakan.
3.
Kemampuan Dasar Berfikir Kritis (Critical Thinking)
Satu halopenting
yangisangat
ditekankanidalam
berpikirikritis dan
ini tampakiterutama
dalamipemikiran
Edward Glaseromaupun
Richard W. Paul adalahibahwa
berpikir kritis menuntutidipenuhinya
beberapa.kemampuan.dasar.
Kemampuan-kemampuan.dasar.itu.dapat.diuraikanssecaraisingkat berikut ini:
1.
Kemampuankuntukimenentukan danomengambiloposisi yang tepatidalam mendiskusikanoatau menyoalosebuahoisu. Artinya, terlebih
dahulu harus menentukan posisi yang tepat terhadap sebuah permasalahan yang dihadapi.
Dengan kata lain, tidak boleh berada dalam posisi yang tidak jelas. Harus
menempatkan diri pada tempat yang jelas. Jangan membiarkan diri bimbang dalam
menentukan posisi.
2.
Pemikiran
yang diberikan harusorelevanodenganotopikpyangpsedang dibicarakan.
3.
Argumenoyang disampaikan harusorasional, denganikata lainiklaimiharus bisaodipertanggung jawabkan
secaraorasional.
4.
Denganoalasan-alasanoyangojelas, memutuskanountukomenerima atau menolakosebuahokeputusanoatas klaimoyangodibuat olehoorangylain.
5.
Keputusanotersebutoharusidatangodariodalam diriosendiri danobukan karenaodipengaruhioolehofaktor-faktoroluar.
4.
Komponen Dalam Berfikir Kritis (Critical Thinking)
Brookfield mendefinisikan
lima aspek dan empat komponen berpikir kritis. Menurutnya, berpikir kritis
terdiri dari aspek-aspek aktivitas yang produktif dan positif, berpikir kritis
adalah proses bukan hasil, perwujudan berpikir kritis sangat beragam tergantung
dari konteksnya, berpikir kritis dapat berupa kejadian yang positif maupun
negatif, dan berpikir kritis dapat bersifat emosional dan rasional. Sedangkan
komponen berpikir kritis, yaitu:[75]
1.
Identifikasi
dan menarik asumsi adalah pusat berpikir kritis.
2.
Menarik
pentingnya konteks adalah penting dalam berpikir kritis.
3.
Pemikir
kritis mencoba mengimajinasikan dan menggali alternatif.
4.
Mengimajinasikan
dan menggali alternatif akan membawa pada skeptisisme reflektif.
5.
Karakteristik Dalam Berfikir Kritis (Critical Thinking)
Berpikir kritis merupakan suatu bagian dari kecakapan praktis, yang
dapat membantu seorang individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh
sebab itu kemampuan berpikir kritis ini mempunyai karakteristik tertentu yang
dapat dilakukan dan dipahami oleh masing-masing individu. Seifert dan Hoffnung
menyebutkan beberapa komponen berpikir kritis, yaitu:[76]
1.
Basic
operations of reasoning. Untuk
berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan,
menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkahlangkah
logis lainnya secara mental.
2.
Domain
specific knowledge. Dalam
menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau
kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki
pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut.
3.
Metakognitive
knowledge. Pemikiran kritis yang efektif
mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika mencoba untuk benar-benar
memahami suatu ide, menyadari kapan memerlukan informasi baru dan mereka-reka
bagaimana dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.
Sedangkan menurut Beyer Karakteristik berpikir kritis, dijelaskan
secara lengkap sebagai berikut:[77]
1.
Watak,
seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis,
sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan
pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan
lain yang tidak sama, dan akan beralih sikap pada saat terjadi sesuatu argumen yang
menurutnya dianggap benar.
2.
Kriteria,,berfikir.kritispmestiomemilikipsuatupketentuan.atau standarisasi Agarodapatomengarah kesanaimaka mestiimenemukanisuatu hal untuk
diputuskaniataukdiyakini.
3.
Argumen,
argumenamerupakanopendapatoyangoberdasarkanopadaohasil data. karanaoketerampilanoberfikir kritisomeliputiokegiatanopengenalan, penilaian, dan
peninjauanoargumen.
4.
Pertimbangan,
merupakanoketerampilanomerangkumosimpulan dariosatu atauobeberapaopremis.
5.
Sudutopandang,omerupakanucarampandang atauointerpretasi terhadap
duniapsebagai
penentuokontruksi
sebuah.makna.
6.
Prosedur
penerapan kriteria, prosedurmini
mencakupimerumuskan.sebuah masalah,omenentukanosebuahokeputusan,odan.mengidentifikasikan.suatu peluang.
6.
Indikator Critical Thinking
Indikator berfikir kritis menurut
Enniss terbagi atas 12 diantaranya sebagai berikut:[78]
1.
Pertanyaanmyangomengarahopadaoinvestigasi
2.
Berargumentasiosesusiosituasi dan kondisi
3.
Dapatnmenunjukanosuatuopersamaanodan0perbedaan
4.
Mendeduksiosecaraologis
5.
Menginterpretasiodenganotepat
6.
Menganalisis
data
7.
Membuat
generalisasi
8.
Menarik
kesimpulan
9.
Mengevaluasi
berdasarkan fakta
10.
Memberikan
alternatif lain
11.
Menentukan
jalan keluar
12.
Memilih
kemungkinan yang akan dilaksanakan
D.
Kitab Kuning
1.
Pengertian Kitab Kuning
Kitabokuning
secaraobahasa
adalahokitab yang
berwarna0kuning,
dapat dimungkinkan0karena
kertas0dalam kitab0tersebut dicetak0berwarna kuning atau0bisa jadi karena0kitab tersebut0disimpan atau digunakan0terlalu lama hingga0kelihatan berwarna0kuning. Ciri0yang lebih0mencolok dari0kitab tersebut adalah0setiap lembarannya0sengaja tidakodijilid, hal tersebut0suapaya memudahkan para0santri untuk0mengambil bagian0yang diperlukan saat
mengaji tanpa membawaokitab
secara utuh. Sedangkanosecara
istilahokitab
kuning0dimaknai
sebagai0kitab yang0didalamnya berisikan
ilmu0agama Islam
seperti0akidah,
tasawuf,0fikih,
nahwu, shorof dll.0Kitab-kitab
tersebut ditulis dengan huruf Arab, baik dengan menggunakan bahasa0Arab,aJawa,0Melayu, ataupun Sunda0tanpa adanya harkat atau
tanda baca sehingga kitab tersebut juga bisa disebut kitab gundul.[79]
Kitab kuning0juga
disebut kitab0kuno
karena mungkin kitab tersebut di tulis atau dikarang dalam waktu yang0sangat jauh dari
kehadirannya0sekarang.
Pembelajaranpkitab kuning, meskipun
bertingkat tapi tetap sepadan dengan berat atau ringannya pembahasan, materi
yang terdapat0dalam
kitab kung terkadang hampir sama, meskipun pada prinsipnya pada tingkat yang lebih
tinggi0terjadi
pendalaman dalam0pokok
bahasan.[80] Jumlah
teks0kitab kuning
yang0diterima
pesantren sebagai0ortodoks
(al-kutub al-mu’tabaroh) pada prinsipnya0terbatas. Ilmu yang terkandung0dalam kitan klasik0tersebut dianggap
sesuatu yang0sudah
bulat dan0tidak
dapat ditambah, hanya0bisa
diperjelas dan dirumuskan kembali. Meskipun terdapat0karya-karya baru, namun0kandungannya tidakoberubah.[81]
2.
Sejarah Perkembangan Kitab Kuning
Sangatlahimungkin sejauhibukti-buktiihistoris yang tersediaidikatakan bahwa kitab
kuning menjadi text book, reference, dan kurikulumodalam sistem pendidikan
pesantren, kitab kuning seperti yang dikenal sekarang baru ada di abad ke-18 M.
bahkan,icukup
realistis juga memperkirakan pengajaran kitab kuning secara masal dan permanen
itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-19 M, ketika sejumlah ulama
Nusantara, khususnya jawa, kembali dariiprogram belajarnya di0Mekkah.[82]
Realitasiini0tidak
berarti0bahwa kitab0kuning, sebagai0produk intelektual,
belum0ada pada
masa-masa0awal perkembangan
keilmuan0di0Nusantara. Sejarah0mencatat, paling0sejak abad0ke-16 M. Sejumlah0kitab0kuning, baik dengan0menggunakan bahasa0Arab, Melayu, maupun0Jawa, sudah0beredar dan menjadi0bahan informasi dan0kajian mengenai0Islam. Kenyataan ini0menunjukkan bahwa0karakter dan0corak keilmuan0yang dicerminkan0kitab kuning0bagaimanapun0juga tidak0bisa dilepaskan0dari tradisi0intelektual Islam0Nusantara yang0panjang0kira-kira sejak lima0abad sebelum0pembakuan kitab0kuning di0pesantren-pesantren.[83]
Hal
tersebut0diperkuat
dengan0pernyataan
Martin0Van0Bruinessen bahwa lembaga0pesantren belum0ada sebelum0abad ke-18 tidak0berarti bahwa kitab0kuning tidak dipelajari0sebelumnya. Kitab-kitab0klasik berbahasa0Arab jelas sudah0dikenal dan0dipelajari pada0abad ke-16. Beberapa0kitab pada zaman itu0sudah diterjemahkan0kedalam bahasa0Jawa dan Melayu0sementara beberapa
pengarang0Indonesia
telah menulis0kitab-kitab
dalam0bahasa
tersbut dengan gaya0dan
isi yang0serupa
dengan kitab0ortodoks.
Sekitar0tahun 1600,
sejumlah0naskah
Indonesia0berbahasa0Melayu, Jawa0dan Arab0dibawa0ke Eropa. Mereka0memberi gambaran0berharga, meskipun0belum sempurna, tentang
tradisi0keilmuan
Islam0di Nusantara0saat0itu.[84]
Kitab-kitab0yang merupakan0penopang utama0tradisi keilmuan0Islam ditulis0pada abad0ke-10 sampai dengan0abad0ke-15 M. Beberapa0karya penting ditulis0sebelum periode0tersebut, dan beberapa0karya baru0dengan corak yang sama0terus0ditulis, tetapi0sejak akhir0abad ke-15, pemikiran0Islam tidak mengalami0kemajuan yang0berarti. Pola pemikiran0dalam ilmu-ilmu
keislaman0tetap0sama.[85]
Menurut Taufik0Abdullah
yang dikutip0oleh0Affanfi Mochtar[86]
pada abad0ke-16 M.
ajaran-ajaran0Islam
mulai0dalam
kehidupan masyarakat0luas,
mulai0tingkat atas
di pemerintahan0ihingga
lapisan masyarakat0kecil.
Sejak itulah0kitab
kuning0mulai masuk0dan menjadi0teks resmi yang
dijadikanopegangan
dalam hidup0beragama
dan0bermasyarkat.
Penulisan-penulisan kitab0kuning
juga0mulai
dilakukan oleh0ulamaiNusantara, sepertia di0Aceh pada0tahun 1603 M. Bukhari0al-Jauhari sudah0menulis0kitab Tajus-Salathin
yang0berisikan teori-teori0mengatur0negara. Kitab inilah0yang diyakini0oleh taufik0Abdullah yang0memiliki peran dalam0merumuskannya ortodoks0kraton di0Nusantara.
Kemudian,0abad ke-12 H0atau abad0ke-17 M hingga0abad ke-13 H/19 M0adalah masa0keemasan Islamodi Nusantara0dengan lahirnya0ilmuwan muslim dan0ratusan kitab0kuning karya0anak0bangsa. Sebut0saja0Syekh Nawawi0Banten yang0karya-karyanya mewarnai0dinamika intelektual0Islam di0Nusantara, bahkan Asia0Tenggara. Karya0ulama yang dijuluki0Ulama al-Hijaz0oleh ulama di dua kota0suci Makkah0dan Madinah0ini
diperkirakan memiliki0karya
kitab lebih0dari0100 buah. Diantara0karyanya0digunakan dalam
kurikulum0pesantren-pesantren
di0Indonesia dan0Malaysia.[87]
3.
Materi Ajar Kitab Kuning
Kitab-kitabmkuning yang0diajarkan sebagai0materi pembelajaran0di pesantren secara0sederhana dapat0dikelompokkan0kedalam delapan0bidang ilmu, yaitu nahwu0(syntax) dan0sharaf (morfologi),
fikih,0ushul fikih,0hadis, tafsir,0tauhid, tasawuf,0dan0etika, dan cabang-cabang
lain seperti0tarikh
dan balaghah. Kitab-kitab0tersebut
meliputi0teks yang0sangat pendek0sampai teks yangssangat panjang terdiri
dari0berjilid-jilid
tebalnya kitab. Kitab kuning0dapat
pula digolongkan0ke
dalam tiga0kelompok0tingkatan, yaitu: 1.
Kitab0dasar, 2.
Kitab0tingkat0menengah, dan 3. Kitab0tingkat0tinggi.[88]
Pembelajaran biasanya0berlangsung0mengikuti pola0pengajaran tuntas0kitab yang0dijadikan rujukan0utama suatu0pondok pesantren.[89]
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di
Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy yang terletak di Desa Babakan Kecamatan
CiwaringinoKabupaten
Cirebon ProvinsioJawahBarat. Untuk waktu yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu terhitung dari tanggalk20 September sampai 20
Desembero2019.
Adapun jadwal penelitian adalah sebagai berikut:
B.
Profil Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy
1.
Sejarah Singkat Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy
Pondok Kebon0Jambu Al-Islamy0didirikan oleh0KH. Muhammadidan Nyai Hj.0Masriyah0Amva pada0tanggal 07 November01993[90]
di0bawah naungan0Yayasan Tunas0Pertiwi. Terletak0di Desa0Babakan0Kecamatan Ciwaringin0Kabupaten0Cirebon.[91]
Pengambilan0nama “Kebon
Jambu” dilatar belakangi0upaya
mengabadikan0aspek
sejarahan0geografisnya,
di manaidahulu
adalah belantara0kebun
yang0ditanami
pepohonanojambu
bijiooleh KH. Amrin
Hannan bapak dari Nyai Hj. Masriyah Amva sekitar tahun 1980-an.[92]
Sedangkan0sebutan “Al-Islamy”
bukanlah0suatu
sebutan yang0tanpa
sejarah. Mulanya0nama
pondok0ini adalah
Kebon0Jambu. Pada
masa0awal berdiri,
Pondok0Kebon Jambu0menerima kiriman0bantuan buku-buku0dan kitab-kitab0untuk pembuatan0perpustakaan dari0suatu lembaga0pemerintah di Jakarta.
Pada0waktu itu0team pengirim0bantuan buku-buku0dan kitab-kitab yangobertugas mencari0alamat kebingungan,
setelah0berkeliling0mencari-cari pondok yang0bernama Pondok0Al-Islamy di desa0Babakan0kecamatan Ciwaringin0kabupaten Cirebon0ternyata tidak0ditemukan. Akhirnya0mereka berinisiatif untuk mendatangi balai desa Babakan dan menanyakan langsung0kepada aparat0desa, ternyata0aparat desa0tidak mengetahui0nama Pondok0Al-Islamy (karena0memang0tidak0ada). Setelah0itu, ada0dari salah satu aparat0yang menanyakan, siapa0nama0pengasuhnya,
disebutkanlah0nama
KH.iMuhammad, maka0jadi jelaslah, alamat0yang mungkin0dimaksud pengirim0tersebut0adalah Pondok0Kebon0Jambu (karena0hanya ada0satu nama0pengasuh KH. Muhammad0pada0masa0itu). Setelah0kejadian itu, Pondok0Kebon Jambu diberi0tambahan nama menjadi0Pondok Kebon0Jambu0Al-Islamy, hal ini
dilakukan0agar
laporan0pengiriman
buku-buku0dan
kitab-kitab0telah
sampai pada0alamat
yang0dituju, yaitu
Pondok0Al-Islamy
alias0Pondok KeboniJambu Al-Islamy0yang diasuh0oleh KH.0Muhammad.[93]
Sama seperti pondok
pesantren lainnya, Pondok Kebon Jambu mengajarkan kitab-kitab klasik atau yang
biasa disebut dengan kitab kuning sebagai kurikulumnya, dengan menggunakan
metode pengajaran klasikal khas pesantren seperti bandungan, sorogan, dan
musyawarah. Pondok Kebon Jambu termasuk dalam
kategori pesanten khalaf dimana0pondok pesantren0dengan pendekatan0modern, melalui0satuan pendidikanimadrasah, maupunipendidikan Formal0ataupun yang lainnya, tetapi tetap mempertahankan
pendekatan klasikal khas pesantren. Pembelajaran0pada0pondok pesantren0khalaf0juga
dilakukan0secara
berjenjang0dan0berkesinambungan, dengan0satuan0program yang0didasarkan0pada0satuan0waktu, seperti0catur0wulan,0semester,0tahun ataupun0kelas dan0seterusnya.[94]
Di Pondok Kebon Jambu terdapat madrasah yang dulu dikenal dengan Madrasah
Tahsinul Akhlaq Assalafiyah (MTAS), sekarang berganti nama menjadi Madrasah
Tahsinul Akhlaq Kebon Jambu (MTAKJ).[95]
Dan juga terdapat sekolah formal seperti SMPTP, MATP dan Ma’had Aly Kebon
Jambu.[96] Tidak hanya itu Pondok Kebon Jambu
menerapkan sebuah sistem pengajaran kitab kuning di luar pendidkan Madrasah dan pendidkan formal berupa
jenjang kelas dari mulai tingkat persiapan lalu naik ke tingkat satu (fasholatan)
hingga tingkat enam (fathul mu’in). Kenaikan tingkatan ini dilakukan
setiap tahunnya dengan seleksi dan ujian semester setiap enam bulan sekali
yang dilakuan sangat ketat.[97]
2.
Musyawarah di Pesantren Kebon Jambu
Sebuah0model pembelajaran0akan berjalan0dengan
maksimal0apabila
didukung oleh0sistem
yangibaik.iKarenanya, diiPondokiKebon Jambuidibentuk suatuilembaga khususountuk mengakomodir0kegiatan musyawarah0yaitu Majelis Musyawaroh
(MAJROH). Lembaga0ini sebagai0manifestasi0program kerja0Departemen Musyawarah0Pondok Kebon Jambu.
Dalam0program
kerjanya0departemen0ini0bertugas (1)
Meningkatkan0kualitas0musyawarah, (2)
Mengadakan0musyawarah0shughro satu
bulan sekali setiap selasa wage, dan musyawarah kubro satu tahun dua
kali se-wilayah Pesantren Babakan Ciwaringin, dan musyawarah yang biasa disebut
dengan Bahtsul Masail se-wilayah III Ciayumajakuning ataupun Se-Jawa Barat
(jangka panjang pra akhirussanah) (3) Membukukan0hasil musyawarah0serta mengumumkan0pada publik0dan (4) Meningkatkan0pemantauan musyawarah0kitab0kuning.
Majelis Musyawaroh
(MAJROH) dalam kinerjanya akan bersinergi dengan
pengurus madrasa, Pendidikan Pondok Kebon Jambu dan organisasi santri di0semua0tingkatan. Dimana pada masing-masing0pengurus0madrasah, pengurus
pendidikan Pondok dan0organisasi
santri di kelas0juga0memiliki semacam0seksi khusus0yang menangani0musyawarah dengan0program0kerja yang hampir0sama dengan Majelis
Musyawaroh.
Di Pondok Kebon Jambu, musyawarah
menjadi salah satu forum diskusi yang sering dilakukan oleh para santri,
dengan eksistensi memecahkan sebuah masalah baik itu yang sudah terungkap dalam
ta’bir-ta’bir kitab salaf atau masalah-masalah kekinian yang
belum terdeteksi hukumnya.
Sebetulnya metode musyawarah ini, diselenggarakan
hampir oleh seluruh pondok pesantren Babakan. Ada yang menjadi program harian,
mingguan, bulanan bahkan tahunan, tergantung dari jadwal yang dibuat oleh
pengurus pondok setempat. Karena musyawarah sebagai wadah diskusi yang paling
efektif di pondok pesantren. Dengan adanya musyawarah santri bisa lebih berkembang dalam pemikiran dan
pengetahuanya untuk memahami masalah-masalah agama yang di hadapi masyarakat
modern. Seperti yang biasa diketahui bahwa masih banyak permasalahan
kontemporer yang belum terbahas secara mendetail di dalam Al-Quran dan Al-Hadist, Ijma,
ataupun Qiyas sehingga dengan adanya
Musyawarah permasalahan-permasalahan tersebut bisa terjawab secara mendetail
dalam musyawarah kitab kuning.
Musyawarah kitab kuning di Pondok Kebon Jambu sangat digemari oleh para santri
dibandingkan dengan metode sorogan atau bandungan, karena didalam musyawarah
antara santri satu dengan yang lain bisa saling beradu argumentasi tentang
masalah yang di bahas, dan saling menguatkan pendapatnya masing-masing yang
tentunya mempunyai dasar untuk mempertahankan argumentasinya, dengan cara ini
santri bisa berfikir kritis dan menambah kemampuan literasi keilmuan baik dalam
hal kecerdasan intelektual maupun emosionalnya.
Sementara itu kyai menggunkan forum musyawarah bertujuan untuk membahas masalah-masalah waqiiyah
yang dicarikan dalilnya didalam kitab-kitab fikih yang populer disebut dengan kutubul
mu’tabaroh ‘ala madzahibul arba’ah, didalam kitab tersebut terdapat banyak
perbedaan pendapat (khilafiyyah)
antara pendapat yang satu dengan yang lain, ada yang membolehkan, ada yang
memakruhkan, bahkan ada yang mengharamkan, oleh karena itu perlu dibahas
bersama santri dengan santri yang lain. Mana pendapat yang lebih kuat dan mana
pendapat yang lemah, dengan adanya pembahasan ini para santri bisa saling
mufakat dan membuahkan hasil keputusan yang memuaskan.
Di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy kegiatan musyawarah sudah ada sejak awal berdirinya. pada perkembangannya,
kegiatan musyawarah semakin di perbaharui, dengan tujuan untuk
melestarikan warisan khazanah keilmuan Islam dan menumbuhkan gairah belajar
para santri dalam mempelajari kitab
kuning. Musyawarah ini juga diharapkan para santri mampu untuk
menganalisa masalah dengan sudut pandang fikih dan mampu memberikan solusi yang
sesuai dengan kemaslahatan umum yang lebih kompleks.[98]
3.
Majlis Musyawaroh (MAJROH)
Kegiatan MAJROH merupakan rutinitas Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin
Cirebon dan merupakan hasil rapat panitia Majroh 1440-1441 H.
Peserta Majlis Musyawaroh adalah seluruh
tingkat empat, lima, enam yang berada di Pondok Kebon Jambu dan MTAKJ, Pondok
Jambu Putri, Ma’had aly, Pondok Melati, Pondok Assanusi Putra dan Pondok
Pesanten yang dapat undangan musyawarah.
Kegiatan MAJROH diawalioidengan penyajian0masalah oleh0nara sumber0yang0menguasai persoalan0yang diangkat. Setelah0nara0sumber menyajikan0masalah yang0sebenarnya, moderator0mempersilahkan0peserta untuk0membahas dan0memberikan pendapatnya0disertai dengan0argumen-argumennya0masing-masing, dimana0setiap pendapat0harus dilengkapiidengan argumen0dari pendapat0lain. Argumen0yangodiutarakan diambil0dari0kitab-kitab0kuning yang0mereka0pelajari. Diakhiri0denganipembahasan, kesimpulan
akhir0dan akan0dirumuskan oleh0tim perumus0atau musohih0untukikemudian disahkan0oleh majlis0tashih (majlis0pengesahan).[99]
4.
Komponen Majlis Musyawaroh Pesantren Kebon Jambu
Pada setiap musyawarah yang dilakukanooleh paraosantri tidakobisa dilepaskanodari dariolima komponenoutama. Masing-masingoikomponen bekerjaoiiosama dalamo mensukseskanoijalannyaokegiatan musyawarah.
Komponen-komponenotersebutoadalah:[100]
1. Moderator
Moderatoroadalah seseorang0yang ditunjukoiuntukoomemimpin jalannyaoikegiatanomusyawarah. Seorangomoderator diharuskanoorang yang benar-benaromemiliki kecakapanoberdiskusi sekaligusomempunyai ilmu yangocukup terhadapopersoalan yangodibahas. Sebab tugasomoderator tidak hanyaosebagai pengaturojalannyaomusyawarah, akanotetapi jugaiharus bisaomemahami, mengkordinirodan
menyimpulkanoiberbagai
pendapat denganobahasa
yangolebih
sederhanaodan mudahodipahami olehopeserta musyawarah.
2. Notulen
Notulenoadalah seseorangoyang bertugasomenulis semuaohasil musyawarahodan ta’biroyang dipakaiooleh paraopeserta danomusahih. Hasil
catatanodari
notulenoselanjutnya
diarsipountuk keperluanodokumentasi.
3.
Peserta
Peserta0adalah orang-orangoyang terlibatodalam musyawarah.
Sebelumopelaksanaan
musyawarahopara
pesertaotelah
disodorippersoalan
yangoakan dibahasodalam musyawarahobeberapa hariosebelumnya. Karena itu,
dalamopelaksanaan
musyawarahopara
pesertaobiasanya
membawa sebanyakomungkin
referensiountuk
dijadikanosumberoargumentasi.
4.
Perumusss
Perumusioadalah seseorangoyang bertugasoimerangkumoiberbagai jawabanoidan argumentasiopyang telahpdisampaikanodalamomusyawarah. Perumuspbertugas meredaksikanokeputusan musyawarahodalamoredaksi
yangosederhana
sehinggaodapat
difahamiooleh semuaopihak. Perumusojuga berkewajibanomemilih argumentasioyang sangatorelevan daripjsekian ta’bir/daliloyang dikemukakanopeserta.
5.
Pentashih
Pentashihnadalah seseorangoyang diposisikanosebagai pengarah. Posisiopentashih dalamomusyawarah sangatostrategis, sebaboimereka menjadioipihak yang mempunyaioiotoritas memutuskanoihasil kajianodalam
musyawarah. Karena strategisnyaoposisi
pentashih,omaka
merekaoyang mendudukioposisi iniodipersyaratkan memilikiikeilmuan yangimumpuni dan diatasorata-rata. Biasanyaoposisi iniodiduduki olehoparaokyai, ustadzoatau santriosenior, bergantungolevel musyawarahoyangodiselenggarakan.
5.
Ketentuan Metode Musyawarah Kitab Kuning
Untuk
melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode musyawarah, kyai atau ustadz
biasanya mempertimbangkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[101]
1. Peserta musyawarah adalah para santri
yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.
2. Peserta musyawarah tidak memiliki
perbedaan kemampuan yang mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk
mengurangi kegagalan dalam musyawarah.
3. Topik atau persoalan (materi) yang
dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kyai atau ustaz pada
pertemuan sebelumnya.
4. Musyawarahodapat dilakukanosecara terjadwalosebagai latihanountukipara santri.
C.
MetodeoPenelitian
Penelitianoini menggunakanopendekatan kuantitatifoiyangoibersifat korelasionalodalam rangkaoimengetahui hubunganoisetiap variabeloipenelitian dengan menggunakanoiteknik analisisoiregresi.[102] Penelitian
kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan
angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta
penampilan hasilnya.[103]
Skema
untuk mengetahui Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking
di Pesantren Kebon Jambu:[104]
r 1 Y1 X r 2 Y2
Gambar
3.1 Skema Paradigma Penelitian
keterangan:
X = Metode Musyawarah Kitab Kuning
Y1 = Keterampilan Literasi
Y2 = Keterampilan Critical Thinking
r1,
r2 = Korelasi Sederhana
Adapunometode dalamopenelitianoini, langkahopertamaomengumpulkan dataoyang terkumpuloselama penelitianodianalisis gunaomenjawabopermasalahan yang telahodiajukanosebelumnya. Angketoyang dirancangodalam 23opertanyaan untuk paraosantri tingkat enamoPesantren Kebon Jambu
Al-Islamy. Jawaban setiap item instrumen menggunakan skala likert yang
ditentukanodengan
sekori1-3 denganokategori yang telahoditetapkanopeneliti. Adapun sekor 3
menunjukan kategoriobaik,
sekor 2 menunjukan kategoriocukup,
sekor 1 menunjukanokategori
kurang.[105]
Adapun kisi-kisi angket dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2
Kisi-Kisi Angket
|
VARIABEL |
TEORI |
INDIKATOR |
NOMERIK |
|
Metode
Musyawarah |
Metode musyawarah bisa dikategorikan sebagai pembelajaran
kelompok berbasis masalah. Teori yang melandasi metode musyawarah atau
pembelajaran kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif Piaget dan Vigotsky |
1.
Argumen yang
baik 2.
Referensi
kitab yang dapat dipertanggung jawabkan 3.
Pembahasan
tidak menyimpang dari pokok permasalahan |
2 1, 3, 4 5, 6, 7 |
|
Keterampilan
Literasi |
Jean E Spencer dalam
The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa literas adalah kemampuan
membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat
sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu
pengetahuan yang luas |
1. Mampu mengambil informasi. 2. Mampu membentuk pemahaman yang luas. 3. Mampu merefleksikan dan mengevaluasi
isi teks. 4. Mampu merefleksikan dan mengevaluasi
bentuk teks. |
6 1 2, 3 5 |
|
Keterampilan Critical
Thinking |
Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang
aktifodan bertujuan.
Berfikirokritis
merupakanousahaouyang diperbuat dengan
terorganisasioiuiytiuuntuk
memahami sesuatu dengan teliti, melalui proses menimbang pemikiranoiksendirioidan pemikiran orang
lain guna memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri terhadap segala sesuatu |
1.
Mampu
merumuskan masalah 2.
Mampu
memberikan argumentasi 3.
Mampu
melakukan deduksi dan induksi 4.
Mampu
melakukan evaluasi 5.
Mampu
mengambil keputusan dan tindakan |
1 2, 8, 10 3, 4 5, 6, 9 7 |
Adapunitahapanimenganalisisidataiyangipenulisilakukan dalam penelitian
inioadalah:
1.
Tahapan
analisis pendahuluan
Setelahosemua dataoyang dibutuhkanoterkumpul, langkahoberikutnya
melakukan analisis terhadap semua data yang terkumpul. Yaitu dengan cara
memberikan angka sekor pada setiapojawaban
peroitem soalodari angketiyang disebarkanoikepada paraoiresponden (santri)
kemudianoiseluruh
sekor dijumlahkanoisecaraoikeseluruhan, laluoidianalisis secamostatistik. Dariihasil tersebut dibuatitiga0kategori, yaitu tinggi0(baik), sedang0(cukupobaik)adan rendaho(kurangobaik).
2.
Tahapan
analisis uji hipotesis
Analisis korelasi untuk mengetahui pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2) yaitu
Analisis regresi sederhana.[106] Apabilaoangka probabilitasohasil anlisa < 0,05omakaohipotesis (H0)oditolak danohipotesisokerja (Ha)
diterima[107]
atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Dalam penelitian
ini terdapat satu variabel bebas (independent variabel) dan dua variabel
terikat (dependent variabel) yaitu: 1). Variabel bebasnya metode musyawarah
dalam pembelajaran kitab kuning. 2). Variabel terkikatnya kemampuan literasi
dan critical thinking santri.
Adapun langkah-langkahnya dengan
menggunakan SPSS 25ofor
windowoadalahosebagaioberikut:
1.
Bukaolembar kerjaoSPSS
2.
Buat
semuaoketeranganovariabel dariovariabeloview
3.
Klik
dataoview
dan masukanodata
4.
Lalu
analisisodengan
cara: klikoAnalize-Regression-Linier,okemudian akan munculodialog. Selanjutnyaoisilah kotakomenu dependentodengan variabeloiterkait, yaitu Y1 atau
Y2 dan kotakomenu independentodenganovariabel bebas, yaituovariabel X
5.
Selanjutnyaoketik kotakomenuoStatistics. PilihoEstimates,oDescriptives dan ModeloFit laluoklikoContinue
6.
KotakomenuoPlots, berfungsiountuk menampilkanografik padaoanalisis regresi. Klikokotak menuoPlots, kemudianoklik NormaloProbabilityiPlot yang terletakopada kotak menuoStandardizediResidualiPlots. Selanjutnya
klikoContinue
7.
SetelahoklikoContinue klikoOk, beberapaosaat akanomunculohasilnya.[108]
D.
Instrumen Penelitian
1.
Angket
atau kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan
tertulis yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden dalam arti
laporan tentang pribadinya atau hla-hal yang diketahui.[109]
Dalam penelitian ini penulis menggunakan angketotertutup, sehinggaoresponden cukupomenjawabopertanyaan-pertanyaan yang telahodisediakan. Tujuanokuesioner disiniodigunakan sebagaiometode pokok dalamomemperoleh informasiotentang pengaruhometodeomusyawarah dalam
pembelajaranokitab
kuning terhadapokemampuan
santriiopada
keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu
Al-Islami.
Skala pengukuran yang digunakan
dalam angket ini menggunakan skala likert. Sekala likert berfungsi
untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang
tentang fenomena sosial.[110]
Dalam penelitiaan ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang
selanjutnya disebut variabel penelitian. Variabeloyang akanodiukur dijabarkanomenjadioindikator sebagaiotitik tolakountuk
menyusunoitem
instrumentoberupaopertanyaan.
2.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat
kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.[111]
Dokumen dalam penelitian iniodigunakanosebagai buktiotelah melakukanopenelitian dilokasiotersebut (berupaopoto) danosebagai pendukungomemperkuat dataoyang diperolehodengan caraomengambilohal yangoberkaiatan denganodata penelitianoyang adaodi PesantrenoKebon Jambu.
3.
Observasi
Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang
tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang
terpenting dalah proses-proses pengamatan dan ingatan.[112]
Observasiodalam
penelitian iniodigunakan
sebagaiobahan
tambahanomemperkuat
dataoyang diperolehomelalui angketodengan mengumpulkanoketerangan dariobeberapa respondenoatau santrioyang adaodi PesantrenoKebon Jambu.
E.
Populasi Dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah para santri tingkat atau kelas
enam di Pesantren Kebon Jambu. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian,
sedangkan sampel adalah sebagai wakil yang diteliti.[113]
Populasi dalam penelitian ini sejumlah 30 orang.
2.
Sampel
Sampel0adalah
sebagiandariojumlah
danokarakteristik
yangodimiliki oleh
populasiotersebut.
Bilaopopulasi besarodan penelitiotidak0mungkin mempelajri0semua yangoada padopopulasi, misalnyaikarena keterbatasanidana, tenagaidaniwaktu, makaopenelitian dapatomenggunakan sampeloyangidiambil dariipopulasiiitu.[114]
Berdasarkan haloitu,
apaoyang dipelajariodari sampeloitu, kesimpulannyaoakan diberlakukanountuk populasi. Untuk
ituosampel yang
diambilodari
populasioharus
betul-betulorepresentativeo(mewakili).
Dalamomenentukanojumlahosampel apabila subjekokurang dario100, lebihobaik diambilosemua sehinggaopenelitiannya merupakanopenelitian populasi.oSelanjutnyaokalau sebjeknyaolebih besarobisa diambiloantarao10-15%oatau 20-25%oatauolebih. Sehinggaopenelitiannya disebutopenelitian sampling.[115]
Pada penelitian ini diambil semuanya karena subjeknya kurang dari 100 sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi sebanyak 30 santri.
F.
Uji Instrumen
1.
Uji Validitas
Uji validitas adalah suatau ukuran yang menunjukan tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrument, uji validitas berguna untuk
mengetahui apakah ada pertanyaan-pertanyaan pada instrument yang harus di buang
atau diganti, karena dinggap tidak relevan. Untuk menguji kevalidan angket
dalam penelitian ini menggunakan uji validitas product moment dengan aplikasi
SPSS for windows versi 25. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:[116]
1.
Persiapkanotabulasi dataoangket yangoingin diouji. Kemudianobuka programoSPSS, klikiVariableiView, dibagianipojok kiriibawah.program. Padaibagian nameotuliskanoItem_1 keobawah sampaioItem_7 (jika item angket
berjumlah 7 jika Itemnya berjumlah 10 maka pada bagian name juga ditulis Item_1
sampai Item_10 dan seterusnya). Terakhirotulis Skor_Total.oPada Decimalsoubah semuaomenjadi
angkao0, untuk
bagianoMeasure
pilihoScale danoabaikan sajaountuk pilihanoyang lainnya
2.
KlikoDataoView (dibagianopojok kiriobawah) dan masukanodata angketosekaligus skorototalnya. Bisapdilakukan denganocara copyopaste dariotabulasi dataoangket yangosudahkdipersiapkanotadi
3.
Selanjutnyaopilih menuoAnalyze, kemudianopilih subomenuoCorrelate, laluopilihoBivariate
4.
Kemudianokmuncul kotakobaru, dariojkotakkkdialog “Bivariate
Correlations”, masukanoisemua
variabeloike kotakoiVariables:,opada bagiano“Correlation
Coefficients” centango(v)oPearson, padaobagian “Test of
Significance” pilihoTwo-tailed.
CentangoFlagoSignificant Correlationsolalu klikoOkmuntukomengakhirioperintah. Selanjutnya
akanomuncul outputohasilnya
Adapunodasar
pengambilanokeputusan
dalamoujioini, bisaodilakukan denganocara:
Ø Membandingkanonilai
rohitung denganonilai ritabel. Jikainilai rihitung > rotabel, makaoitem soaloangket tersebutodinyatakan validodanojika nilai rohitung < rotabel, makaoitem soal0angket tersebutodinyatakan tidakovalid.
2.
Uji
Reliabilitas
Uji
reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang digunakan lebih
dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data
yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrument mencirikan tingkat
konsistensi. Karena instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan angket
berbentuk soal pilihan ganda, checklist, dan ratingscale. Untuk
menjaga reabilitasnya tiap pilihan jawaban memiliki bobot tertentu. Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:[117]
1.
Persiapkan
data yang akan di uji reliabilitas dalam tabulasi
2.
BukaoprogramoSPSS danoklik VariableoView, dibagianopojokokiri bawahoprogramoSPSS. Kemudianopada bagianoName tulisoItem_1oke bawahosampai Item_7o(jikaoitem angketoberjumlah 7ojikaoItemnya berjumlah 10omaka pada bagian name
juga ditulis Item_1 sampai Item_10). Padaobagian Decimalsoubah semuaomenjadi
angkao0,olalu pada bagianoMeasure gantiomenjadioScale. Abaikanopilihan yangolain atauobiarkan tetapodefault
3.
Selajutnya
klikoDataoView (dibagianopojok kiriobawahoprogram)olalu masukanodata tabulasioangket yangosudahodipersiapkan
4.
Selanjutnya,
dari menu SPSS pilih Analyze, lalu klik Scale, kemudian klik Reliability
Analysis
5.
Muncul
kotak dialog baru dengan nama “Reliability Analysis”. Kemudian masukan
semua variabel Item keokotakoItems:, padaobagian “model”
pilihoAlpha
6.
Langkahoselanjutnya pilih Statisticsomaka munculokotak dialog “Reliability
Analysis: Statistics”. Kemudianopada “Descriptives for”, klikoScaleiifiitemideleted, laluoklikoContinue. Abaikanopilihanoyang lain. Terakhiropilih Okountuk mengakhirioperintah, setelahoituoakan unculotampilanooutputohasilnya.
Adapunodasar pengambilanokeputusan dalamouji ini, bisaodilakukan denganocara:
Ø Membandingkanonilai
Cronbach'soAlpha
denganonilai rotabel. Apabila nilaioCronbach's Alpha
> rotabel makaokuesioner dinyatakanoreliable dan apabilaonilai Cronbach'siiAlpha < rotabel makaokuesioner dinyatakanotidakoreliable.
G.
Teknik Analisis Data
Adapun
teknik analisis data sebagai berikut:
1.
Mengumpulkan
angket yang disebarkan ke responden (30)
2.
Memeriksa
tiap item soal angket dari setiap variabel dan dimasukan ke tabel seperti
dibawah ini
Tabel 3.3
Contoh format tabel tabulasi angket variabel X
|
No.
Res |
Nama
Responden |
Jawaban
angket variabel |
Skor
Total |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
Buat
tabel daftar tentang distribusi frekuensi jawaban tentang metode musyawarah
kitab kuning
Tabel 3.4
Contoh format tabel distribusi frekwensi variabel X
|
No.
Res |
Alternatif
jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
A |
B |
C |
|||
|
|
|
|
|
|
|
4.
Dari
data di atas dapat dicari skor tertinggi
dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
I =
interval
Xt =
nilai tertinggi
Xr =
nilai terendah
Ki =
kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[118]
Maka berdasarkan tabel di atas dapat
diketahui pada variabel metode musyawarah kitab kuning, nilaiotertinggi ….. danonilaioterendah …… dalam haloini dapatodihitung denganorumus diatasosebagaioberikut:
Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatodikategorikanivariasiitinggi, sedang, rendahisebagaioberikut:
a.
Untukokategoriotinggiomendapatpnilai …….
b.
Untukokategoriosedangomendapatonilai …….
c.
Untukokategoriorendahomendapatonilai …….
Kemudianodicarioprosentaseometode
musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:
1.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yangotinggi,
antaraoskor……sebanyak…..santri:
2.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yang sedang, antara skor……sebanyak…..santri:
3.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yangorendah,
antaraiskor……sebanyak…..santri:
Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanidalam bentukitabelidistribusi frekuensiimetode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning
Tabel 3.5
Contoh format tabel hasil distribusi
frekwensi variabel X
|
No. |
Metode
musyawarah |
Interval |
Frekuensi |
Prosentase |
|
1.
|
Tinggi |
|
|
|
|
2.
|
Sedang |
|
|
|
|
3.
|
Rendah |
|
|
|
|
|
Jumlah |
|
|
|
H.
Uji Hipotesis
Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2).
Dalamopenelitian
iniomenggunakan
bantuanokomputerisasi
programoSPSSofor windowsoversi 25. Adapun langkah
langkahnya sebagai berikut:
1.
Buka
lembar kerja SPSS
2.
Buatosemua keteranganovariabel dariovariabeloview
3.
Klikodataoview danomasukanodata
4.
Laluoanalisisodenganocara: klikoAnalize-Regression-Linier,
kemudianoakan
munculodialog.
Selanjutnyaoisilah
kotakomenu dependentodenganovariabel terkait,oyaitu Y1 atau Y2 danokotak menuoindependent
denganovariabel
bebas, yaituovariabel
X
5.
Selanjutnyaoketik kotakomenuoStatistics. PilihoEstimates, Descriptivesodan ModeloFit laluoklikoContinue
6.
KotakomenuoPlots, berfungsiountuk menampilkanografik padaoanalisis regresi. Klikokotak menuoPlots, kemudianoklik NormaloProbabilityoPlot yang terletakopada kotakomenu StandardizedoResidualoPlots. Selanjutnya
klikoContinue
7.
Setelahoklik ContinueoklikoOk, beberapaosaat akanomunculohasilnya.[119]
BAB
IV
TEMUAN
DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A.
Temuan Penelitian
1.
Instumen Variabel Pengaruh Metode Musyawarah
Data
nilai variabel pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning di
Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.
Tabeli4.1
DistribusiaNilaiaAngket Metode Musyawarah
Dalam Pembelajan Kitab Kuning
|
No. |
Nomor Item
Dan Skor |
Skor Total |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
||
|
1.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
21 |
|
2.
|
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
17 |
|
3.
|
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
2 |
12 |
|
4.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
18 |
|
5.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
18 |
|
6.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
15 |
|
7.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
18 |
|
8.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
9.
|
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
2 |
3 |
14 |
|
10. |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
11. |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
18 |
|
12. |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
1 |
2 |
15 |
|
13. |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
2 |
12 |
|
14. |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
15. |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
16. |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
17. |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
17 |
|
18. |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
17 |
|
19. |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
15 |
|
20. |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
13 |
|
21. |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
17 |
|
22. |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
15 |
|
23. |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
24. |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
16 |
|
25. |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
3 |
19 |
|
26. |
2 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
27. |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
17 |
|
28. |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
18 |
|
29. |
2 |
2 |
2 |
1 |
3 |
3 |
2 |
15 |
|
30. |
2 |
3 |
3 |
1 |
2 |
2 |
1 |
14 |
Berdasarkanodataotabel dioatas
dapatodijelaskan
sebagaioberikut:
1.
Dariosoaliangketinomor 1 yangiselalu berargumentasiidenganimenyertakan referensi
dalam musyawarah sebanyak 10 orang responden, sebanyak 20 responsenimenjawabokadang-kadang, danitidak.ada seorangpunimenjawab tidakopernah.
2.
Dari
soal angket nomor 2 yang selalu berpendapat dengan bahasa yang singkat, padat
dan jelas dalam musyawarah sebanyak 4 orang responden, sebanyak 24 respondenimenjawabikadang-kadang, dan 2
orangomenjawab
tidakopernah.
3.
Dari
soal angket nomor 3 yang selalu berpendapat dengan menyertakan dalil yang dapat
dipertanggung jawabkan dalam musyawarahisebanyak 19 orangoresponden, sebanyak 21 respondenomenjawabokadang-kadang, dan tidakoada seorangpunomenjawab tidakopernah.
4.
Dari
soal angket nomor 4 yang selalu
menjelaskan referensi dalam musyawarah dengan menyertakan nama kitab,
nama pengarang, cetakan dan juga halaman
kitabnya sebanyak 9 orang responden, sebanyak16 respondenomenjawabikadang-kadang, dan 5iorangimenjawabitidakipernah.
5.
Dari
soal angket nomor 5 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman
atau kelompok lain yang tidak sependapat dalam musyawarah sebanyak 18 orang
responden, sebanyak 12oresponden
menjawabokadang-kadang,
danotidak adaoseorangpun menjawabotidak pernah.
6.
Dari
soal angket nomor 6 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman
atau kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat dan meminta untuk
menjelaskanya kembali 12 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 3 orangomenjawabotidakopernah.
7.
Dari
soal angket nomor 7 yang selalu berpendapat semaksimal munkin dalam musyawarah
dengan cara mencari referensi meskipun dari kitab yang belum dipelajari di
kelas ataupun sekolah sebanyak 10 orang responden, sebanyak 19 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 1 orangomenjawabotidakopernah.
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Jawaban Pengaruh
Metode Musyawarah
|
No. |
Alternatif
Jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
S |
KK |
TP |
|||
|
1.
|
21 |
|
|
21 |
A |
|
2.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
3.
|
|
10 |
2 |
12 |
C |
|
4.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
5.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
6.
|
3 |
12 |
|
15 |
B |
|
7.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
8.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
9.
|
6 |
6 |
2 |
14 |
C |
|
10.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
11.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
12.
|
6 |
8 |
1 |
15 |
B |
|
13.
|
|
10 |
2 |
12 |
C |
|
14.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
15.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
16.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
17.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
18.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
19.
|
3 |
12 |
|
15 |
B |
|
20.
|
|
12 |
1 |
13 |
C |
|
21.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
22.
|
3 |
12 |
|
15 |
B |
|
23.
|
|
14 |
|
14 |
C |
|
24.
|
6 |
10 |
|
16 |
B |
|
25.
|
15 |
4 |
|
19 |
A |
|
26.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
27.
|
9 |
8 |
|
17 |
B |
|
28.
|
12 |
6 |
|
18 |
B |
|
29.
|
6 |
8 |
1 |
15 |
B |
|
30.
|
6 |
6 |
2 |
14 |
C |
Dari data di atas dapat dicari skor
tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
i
= interval
Xt
= nilai tertinggi
Xr
= nilai terendah
Ki
= kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[120]
Maka berdasarkan tabel di atas dapat
diketahui pada variabel metode musyawarah dalam
pembelajan kitab kuning, nilaiotertinggi 21 danonilai terendaho12 dalamohal iniodapat dihitungodenganorumus diatasosebagai berikut:
Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatodikategorikanivariasiitinggi, sedangidan rendahisebagaioberikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai 19-21
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai 15-18
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai 12-14
Kemudianodicari prosentaseometode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning dengan rumus:
1.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuning yangitinggi,
antaraoskor 19-21osebanyak 2 santri:
2.
3.
Untuk metode musyawarah dalam pembelajan kitab
kuningoyang rendah,oantaraiskor 12-14 sebanyaki9 santri:
Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanodalamobentukotabel distribusiofrekuensiometode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning.
Tabel 4.3
Hasil Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi diatas
menunjukan bahwa frekuensi data pengaruh metode
musyawarah dalam pembelajan kitab kuning,itertinggi padaokategoriisedang, yaitu sebanyak
19 jawabanidari 30 santriisebagai responden.oKareanaonilaioirata-rata
jawaban responden berada pada interval 15-18, haloini menunjukan bahwaometode
musyawarah dalam pembelajan kitab kuning kategori
sedang, yaitu 63,33%.
2.
Instumen Variabel Keterampilan Literasi
Data nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan literasi di
Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.
Tabel 4.4
DistribusiaNilaiiAngket Kemampuan Santri
Pada Keterampilan Literasi
|
No. |
Nomor Item Dan Skor |
Skor
Total |
|||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
||
|
1.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
2.
|
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
3.
|
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
15 |
|
4.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
16 |
|
5.
|
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
6.
|
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
1 |
13 |
|
7.
|
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
16 |
|
8.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
14 |
|
9.
|
2 |
1 |
2 |
2 |
1 |
2 |
10 |
|
10.
|
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
14 |
|
11.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
13 |
|
12.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
15 |
|
13.
|
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
14 |
|
14.
|
3 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
14 |
|
15.
|
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
16.
|
3 |
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
12 |
|
17.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
16 |
|
18.
|
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
15 |
|
19.
|
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
11 |
|
20.
|
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
10 |
|
21.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
18 |
|
22.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
13 |
|
23.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
12 |
|
24.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
13 |
|
25.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
15 |
|
26.
|
3 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
16 |
|
27.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
17 |
|
28.
|
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
10 |
|
29.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
14 |
|
30.
|
3 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
11 |
Berdasarkanodata tabelodi atasodapat dijelaskanosebagaipberikut:
1.
Dariosoal angketinomor 1 yangiselalu mengambiloinformasi atau referensi
dari berbagai kitab kuning sebanyak 18 orang responden, sebanyak 1 responden menjawab kadang-kadang, dan 11
orangomenjawabotidak pernah.
2.
Dari
soal angket nomor 2 yang selalu lebih dahulu menganalisis pendapat yang
terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang, dan 2
orangomenjawaboitidak pernah.
3.
Dari
sola angket nomor 3 yang selalu lebih dahulu mengevaluasi pendapat yang
terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 13 respondenimenjawabikadang-kadang, dan 4
orangimenjawab
tidakipernah.
4.
Dari
soal angket nomor 4 yang selalu lebih dahulu menganalisis bentuk teks yang
terdapat didalam kitab sebanyak 14 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang, dan 1
orangomenjawabotidak pernah.
5.
Dariosoal angketonomor 5 yangoselalu mendapatkanopemahaman baru dari
hasil mencarai referensi yang tidak didapat dalam kelas pengajian sorogan atau
bandungan sebanyak 18 orang responden, sebanyak 12 respondenomenjawaboikadang-kadang, danoitidak adaoiseorangpun menjawabotidakopernah.
6.
Dari
soal angket nomor 6 yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mencarai
referensi terbaik sebagai rujukan sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15
respondenomenjawabokadang-kadang, dan 2 orangomenjawabotidakopernah.
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Jawaban Kemampuan
Santri
Pada Keterampilan Literasi
|
No. |
Alternatif
Jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
S |
KK |
TP |
|||
|
1.
|
18 |
|
|
18 |
A |
|
2.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
3.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
4.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
5.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
6.
|
6 |
6 |
1 |
13 |
B |
|
7.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
8.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
9.
|
|
8 |
2 |
10 |
C |
|
10.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
11.
|
3 |
10 |
|
13 |
B |
|
12.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
13.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
14.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
15.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
16.
|
6 |
4 |
2 |
12 |
C |
|
17.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
18.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
19.
|
3 |
6 |
2 |
11 |
C |
|
20.
|
|
8 |
2 |
10 |
C |
|
21.
|
18 |
|
|
18 |
A |
|
22.
|
3 |
10 |
|
13 |
B |
|
23.
|
|
12 |
|
12 |
C |
|
24.
|
3 |
10 |
|
13 |
B |
|
25.
|
9 |
6 |
|
15 |
B |
|
26.
|
12 |
4 |
|
16 |
A |
|
27.
|
15 |
2 |
|
17 |
A |
|
28.
|
|
8 |
2 |
10 |
C |
|
29.
|
6 |
8 |
|
14 |
B |
|
30.
|
3 |
6 |
2 |
11 |
C |
Keterangan:
i
= interval
Xt
=
nilai tertinggi
Xr
= nilai terendah
Ki = kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[121]
Makaiuberdasarkan tabeloidi atasoidapat diketahuiopadaoivariabel kemampuan
santri pada keterampilan literasi,
nilaiotertinggi 18
danonilai terendahi10 dalamihaliini dapatidihitung denganirumus diatasisebagaiiberikut:
Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatedikategorikanivariasiitinggi, sedang,idan rendahisebagaioberikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai 16-18
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai 13-15
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai 10-12
Kemudianodicari prosentaseokemampuan santri pada
keterampilan literasi dengan rumus:
1.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan literasi
yang tinggi, antara skor 16-18 sebanyak 10 santri:
2.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan literasi yang
sedang, antara skor 13-15 sebanyak 13 santri:
3.
Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanidalam bentukitabelidistribusi frekuensiikemampuan
santriopada
keterampilan literasi.
Tabel 4.6
Hasil Distribusi Frekuensi Kemampuan
Santri
Distribusi frekuensi diatas
menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan literasi,
tertinggiopada kategoriosedang, yaituosebanyak 13ojawabanodari 30 santriosebagaioresponden. Kareanaonilai rata-rataojawaban respondenoberada padaointerval 13-15, haloini menunjukan bahwaokemampuan santri pada
keterampilan literasi kategori sedang, yaitu 43,33%.
3.
Instumen Variabel Keterampilan Critical Thinking
Data nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket
di bawah ini.
Tabel 4.7
DistribusioNilai AngketoKemampuanoSantri
Pada Keterampilan Critical
Thinking
|
No.
|
Nomor Item Dan Skor |
Skor
Total |
|||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
||
|
1.
|
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
30 |
|
2.
|
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
23 |
|
3.
|
2 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
16 |
|
4.
|
2 |
1 |
3 |
3 |
2 |
1 |
1 |
2 |
1 |
2 |
18 |
|
5.
|
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
25 |
|
6.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
1 |
2 |
3 |
1 |
22 |
|
7.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
3 |
27 |
|
8.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
9.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
1 |
2 |
3 |
3 |
3 |
24 |
|
10.
|
3 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
21 |
|
11.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
12.
|
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
24 |
|
13.
|
1 |
1 |
2 |
2 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
15 |
|
14.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
23 |
|
15.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
2 |
24 |
|
16.
|
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
1 |
3 |
2 |
3 |
2 |
24 |
|
17.
|
3 |
3 |
3 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
23 |
|
18.
|
2 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
24 |
|
19.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
18 |
|
20.
|
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
1 |
18 |
|
21.
|
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
24 |
|
22.
|
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
16 |
|
23.
|
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
24.
|
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
2 |
25 |
|
25.
|
3 |
2 |
1 |
2 |
3 |
3 |
3 |
2 |
1 |
1 |
21 |
|
26.
|
3 |
3 |
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
2 |
25 |
|
27.
|
2 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
25 |
|
28.
|
3 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
3 |
2 |
2 |
23 |
|
29.
|
1 |
3 |
3 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
20 |
|
30.
|
3 |
3 |
2 |
1 |
2 |
1 |
3 |
1 |
2 |
1 |
19 |
Berdasarkanodata tabelidi atasodapat dijelaskanosebagaioberikut:
1.
Dariosoal angketonomor 1 yangoselalu bertanyaodengan menyertakan
deskripsi masalah dan merumuskan masalah terlebih dahulu sebanyak sebanyak 16 orang
responden, sebanyak 12 respondenomenjawab
kadang-kadang,odan 2 orangomenjawab tidakopernah.
2.
Dariosoal angketonomor 2 yangoselalu mendebatoatau berargumentasi setiap kali ada kelompok lain yang tidak
sependapat sebanyak 13 orang responden, sebanyak 14 respondenimenjawab kadang-kadang,odan 3 orangomenjawab tidakopernah.
3.
Dari
soal angket nomor 3 yang selalu melakukan deduksi sebanyak 8 orang responden,
sebanyak 17 respondenomenjawabokadang-kadang, dan 5 orangomenjawab tidakopernah.
4.
Dari
soal angket nomor 4 yang selalu melakukan induksi sebanyak 6 orang responden,
sebanyak 20oresponden
menjawabikadang-kadang,idan 4 orangomenjawab tidakopernah.
5.
Dari
soal angket nomor 5 yang selalu mengevaluasi pendapat sendiri atau kelompok
sendiri sebanyak 8 orang responden, sebanyak 20oresponden menjawabokadang-kadang,odan
2 orangomenjawabitidakopernah.
6.
Dari
soal angket nomor 6 yang selalu mengevaluasi pendapat kelompok lain sebanyak 10
orang responden, sebanyak 13 respondenomenjawab kadang-kadang,idan
7 orangomenjawab
tidakopernah.
7.
Dari
soal angket nomor 7 yang selalu mengambil keputusan dan tindakan sebagai solusi
terhadap perbedaan pendapat sebanyak 11 orang responden, sebanyak 16 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 3 orangomenjawab tidakopernah.
8.
Dari
soal angket nomor 8 yang selalu berkontribusi memberikan argumentasi pada
kelompok sebanyak 7 orang responden, sebanyak 20 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 3 orangomenjawabotidak pernah.
9.
Dari
soal angket nomor 9 yang selalu meninjau kembali pendapat teman atau kelompok
lain terhadap permasalahan yang dibahas sebanyak 10 orang responden, sebanyak
18 respondenomenjawabokadang-kadang,idan 2 orangomenjawab tidakopernah.
10.
Dari
sola angket nomor 10 yang selalu berargumentasi
meski referensinya sama dengan kelompok lain tapi berbeda dalam
interpretasi atau argumentasinya sebanyak 5 orang responden, sebanyak 20
respondenumenjawabokadang-kadang,odan 5 orangomenjawabotidak pernah.
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Jawaban
Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking
|
No. |
Alternatif
Jawaban |
Total |
Nominasi |
||
|
S |
KK |
TP |
|||
|
1.
|
30 |
|
|
30 |
A |
|
2.
|
9 |
14 |
|
23 |
B |
|
3.
|
|
12 |
4 |
16 |
C |
|
4.
|
6 |
8 |
4 |
18 |
C |
|
5.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
6.
|
12 |
8 |
2 |
22 |
B |
|
7.
|
21 |
6 |
|
27 |
A |
|
8.
|
|
20 |
|
20 |
B |
|
9.
|
15 |
8 |
1 |
24 |
B |
|
10.
|
6 |
14 |
1 |
21 |
B |
|
11.
|
|
20 |
|
20 |
B |
|
12.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
13.
|
|
10 |
5 |
15 |
C |
|
14.
|
9 |
14 |
|
23 |
B |
|
15.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
16.
|
15 |
8 |
1 |
24 |
B |
|
17.
|
12 |
10 |
1 |
23 |
B |
|
18.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
19.
|
|
16 |
2 |
18 |
C |
|
20.
|
3 |
12 |
3 |
18 |
C |
|
21.
|
12 |
12 |
|
24 |
B |
|
22.
|
|
12 |
4 |
16 |
C |
|
23.
|
|
20 |
|
20 |
B |
|
24.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
25.
|
12 |
6 |
3 |
21 |
B |
|
26.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
27.
|
15 |
10 |
|
25 |
B |
|
28.
|
9 |
14 |
|
23 |
B |
|
29.
|
6 |
12 |
2 |
20 |
B |
|
30.
|
9 |
6 |
4 |
19 |
C |
Keterangan:
i
= interval
Xt = nilai tertinggi
Xr = nilai terendah
Ki
= kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[122]
Jadiojelas bahwaopada
variabeloini dapatodikategorikan variasiitinggi, sedang,idan rendahosebagaioberikut:
a.
Untuk
kategori tinggi mendapat nilai 26-30
b.
Untuk
kategori sedang mendapat nilai 20-25
c.
Untuk
kategori rendah mendapat nilai 15-19
Kemudian dicari prosentase kemampuan
santri pada keterampilan critical thinking dengan rumus:
1.
Untuk kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking yang tinggi,oantarakskor 26-30osebanyako2 santri:
2.
Untuk
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang sedang, antara
skor 25-20 sebanyak 21 santri:
3.
Untuk
kemampuan santri pada keterampilan critical thinkingiyang rendah,bantaraoskor 19-15osebanyak 7 santri:
Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanidalam bentukitabel distribusi frekuensiikemampuan santriopada
keterampilanocriticalothinking.
Tabel 4.9
Hasil Distribusi Frekuensi Jawaban
Distribusi
frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada
keterampilan critical thinking, tertinggiopadaikategori sedang,oiyaituosebanyak
21ajawaban
respondenoidari 30oisantri sebagai
responden.oKareana
nilaiorata-rata
jawabanoiresponden
beradaopadaointerval 20-25,ohal iniomenunjukanobahwa kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking. Yaitu 70%.
B.
Pembahasan
1.
Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen
a.
Pengujian
Validitas Dan Reliabilitas Instrumen Pengaruh Metode Musyawarah Dalam
Pembelajaran Kitab Kuning
Pengujian validitas dan reliabilitas Instrumen angket kuesioner pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning menggunakan aplikasi SPSS for
windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:
Tabel 4.10
Uji Validitas Korelasi Pengaruh Metode Musyawarah
Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
|
Correlations |
|||||||||
|
|
Item_1 |
Item_2 |
Item_3 |
Item_4 |
Item_5 |
Item_6 |
Item_7 |
Skor_Total |
|
|
Item_1 |
Pearson
Correlation |
1 |
.213 |
.000 |
.387* |
.289 |
.110 |
.000 |
.478** |
|
Sig.
(2-tailed) |
|
.258 |
1.000 |
.035 |
.122 |
.561 |
1.000 |
.007 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_2 |
Pearson
Correlation |
.213 |
1 |
.230 |
.083 |
.123 |
.283 |
-.086 |
.415* |
|
Sig.
(2-tailed) |
.258 |
|
.221 |
.665 |
.517 |
.130 |
.651 |
.023 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_3 |
Pearson
Correlation |
.000 |
.230 |
1 |
.195 |
.089 |
.148 |
.318 |
.460* |
|
Sig.
(2-tailed) |
1.000 |
.221 |
|
.301 |
.640 |
.436 |
.087 |
.011 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_4 |
Pearson
Correlation |
.387* |
.083 |
.195 |
1 |
.366* |
.295 |
.454* |
.731** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.035 |
.665 |
.301 |
|
.047 |
.113 |
.012 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_5 |
Pearson
Correlation |
.289 |
.123 |
.089 |
.366* |
1 |
.383* |
.466** |
.672** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.122 |
.517 |
.640 |
.047 |
|
.037 |
.010 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_6 |
Pearson
Correlation |
.110 |
.283 |
.148 |
.295 |
.383* |
1 |
.228 |
.641** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.561 |
.130 |
.436 |
.113 |
.037 |
|
.226 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_7 |
Pearson
Correlation |
.000 |
-.086 |
.318 |
.454* |
.466** |
.228 |
1 |
.605** |
|
Sig.
(2-tailed) |
1.000 |
.651 |
.087 |
.012 |
.010 |
.226 |
|
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Skor_Total |
Pearson
Correlation |
.478** |
.415* |
.460* |
.731** |
.672** |
.641** |
.605** |
1 |
|
Sig.
(2-tailed) |
.007 |
.023 |
.011 |
.000 |
.000 |
.000 |
.000 |
|
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
*.
Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). |
|||||||||
|
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
|||||||||
Tabel 4.11
Perbandingan r Hitung Dan r Tabel
Ketetapan:
1.
Apabila
r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”
2.
Apabila
r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapat nilai
skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r
tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r
tabel 0.361. berdasarkan hasil analisis
didapat nilai korelasi untuk semua item 1-7 lebih besar dari 0.361. maka dapat
disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan
semua item soal valid).
Tabel 4.12
Uji Reliabel Korelasi Pengaruh
Metode Musyawarah
Dalam Pembelajaran Kitab Kuning
|
Reliability
Statistics |
|
|
Cronbach's
Alpha |
N
of Items |
|
.669 |
7 |
|
Item-Total
Statistics |
||||
|
|
Scale
Mean if Item Deleted |
Scale
Variance if Item Deleted |
Corrected
Item-Total Correlation |
Cronbach's
Alpha if Item Deleted |
|
Item_1 |
13.70 |
4.079 |
.285 |
.658 |
|
Item_2 |
13.97 |
4.240 |
.226 |
.671 |
|
Item_3 |
13.73 |
4.133 |
.269 |
.661 |
|
Item_4 |
13.90 |
3.128 |
.526 |
.583 |
|
Item_5 |
13.43 |
3.633 |
.516 |
.598 |
|
Item_6 |
13.73 |
3.444 |
.411 |
.626 |
|
Item_7 |
13.73 |
3.720 |
.414 |
.624 |
Ketetapan:
1.
Apabilaonilai Cronbach'suAlpha > rotabel makaokuesionerodinyatakan “RELIABLE”
2.
Apabilaonilai Cronbach'soAlpha < retabel makaokuesionerodinyatakan “TIDAK
RELIABLE”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapatkan nilai
Cronbach's Alpha sebesar 0,669, sedangkan r
tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat
disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut semua reliable.
b.
Pengujian
Validitas Dan Reliabilitas Instrumen Kemampuan Santri Pada Keterampilan
Literasi
Tabel 4.13
Uji Validitas Korelasi Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi
|
Correlations |
||||||||
|
|
Item_1 |
Item_2 |
Item_3 |
Item_4 |
Item_5 |
Item_6 |
Skor_total |
|
|
Item_1 |
Pearson
Correlation |
1 |
.076 |
.251 |
.281 |
.101 |
.372* |
.540** |
|
Sig.
(2-tailed) |
|
.691 |
.182 |
.132 |
.596 |
.043 |
.002 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_2 |
Pearson
Correlation |
.076 |
1 |
.455* |
.418* |
.244 |
.271 |
.662** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.691 |
|
.011 |
.022 |
.194 |
.148 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_3 |
Pearson
Correlation |
.251 |
.455* |
1 |
.613** |
.509** |
.056 |
.778** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.182 |
.011 |
|
.000 |
.004 |
.769 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_4 |
Pearson
Correlation |
.281 |
.418* |
.613** |
1 |
.249 |
.319 |
.764** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.132 |
.022 |
.000 |
|
.185 |
.086 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_5 |
Pearson
Correlation |
.101 |
.244 |
.509** |
.249 |
1 |
-.079 |
.517** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.596 |
.194 |
.004 |
.185 |
|
.678 |
.003 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_6 |
Pearson
Correlation |
.372* |
.271 |
.056 |
.319 |
-.079 |
1 |
.514** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.043 |
.148 |
.769 |
.086 |
.678 |
|
.004 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Skor_total |
Pearson
Correlation |
.540** |
.662** |
.778** |
.764** |
.517** |
.514** |
1 |
|
Sig.
(2-tailed) |
.002 |
.000 |
.000 |
.000 |
.003 |
.004 |
|
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
*.
Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). |
||||||||
|
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
||||||||
Tabel 4.14
Perbandingan r Hitung Dan r Tabel
Ketetapan:
1.
Apabila
r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”
2.
Apabila
r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapat nilai
skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r
tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r
tabel 0.361. berdasarkan hasil analisis
didapat nilai korelasi untuk semua item 1-6 lebih besar dari 0.361. maka dapat
disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan
semua item soal valid).
Tabel 4.15
Uji Reliabel Korelasi Kemampuan
Santri
Pada Keterampilan Literasi
|
Reliability
Statistics |
|
|
Cronbach's
Alpha |
N
of Items |
|
.700 |
6 |
|
Item-Total
Statistics |
||||
|
|
Scale
Mean if Item Deleted |
Scale
Variance if Item Deleted |
Corrected
Item-Total Correlation |
Cronbach's
Alpha if Item Deleted |
|
Item_1 |
11.53 |
4.120 |
.327 |
.691 |
|
Item_2 |
11.73 |
3.720 |
.463 |
.649 |
|
Item_3 |
11.80 |
3.200 |
.598 |
.596 |
|
Item_4 |
11.67 |
3.540 |
.623 |
.599 |
|
Item_5 |
12.03 |
4.240 |
.319 |
.691 |
|
Item_6 |
11.73 |
4.133 |
.274 |
.709 |
Ketetapan:
1.
Apabilaunilai Cronbach'soAlpha > rotabel makaokuesionerodinyatakan ”RELIABLE”
2.
Apabilaonilai Cronbach'suAlpha < rotabel makapkuesionerodinyatakan “TIDAK
RELIABLE”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapatkan nilai
Cronbach's Alpha sebesar 0,700, sedangkan r
tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat
disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian tersebut semua reliable.
c.
Pengujian
Validitas Dan Reliabilitas Instrumen Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical
Thinking
Tabel 4.16
Uji Validitas Korelasi Kemampuan Santri
Pada Keterampilan Critical Thinking
|
Correlations |
||||||||||||
|
|
Item_1 |
Item_2 |
Item_3 |
Item_4 |
Item_5 |
Item_6 |
Item_7 |
Item_8 |
Item_9 |
Item_10 |
Skor_Total |
|
|
Item_1 |
Pearson
Correlation |
1 |
.360 |
.050 |
.194 |
.247 |
.332 |
.366* |
.301 |
.401* |
.000 |
.591** |
|
Sig.
(2-tailed) |
|
.051 |
.794 |
.304 |
.188 |
.073 |
.047 |
.106 |
.028 |
1.000 |
.001 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_2 |
Pearson
Correlation |
.360 |
1 |
.237 |
.030 |
.294 |
.344 |
.598** |
.061 |
.388* |
.267 |
.662** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.051 |
|
.208 |
.876 |
.115 |
.063 |
.000 |
.749 |
.034 |
.154 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_3 |
Pearson
Correlation |
.050 |
.237 |
1 |
.339 |
.044 |
.048 |
-.147 |
.055 |
.375* |
.355 |
.425* |
|
Sig.
(2-tailed) |
.794 |
.208 |
|
.066 |
.817 |
.801 |
.439 |
.774 |
.041 |
.054 |
.019 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_4 |
Pearson
Correlation |
.194 |
.030 |
.339 |
1 |
.266 |
.218 |
-.142 |
.386* |
.047 |
.503** |
.498** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.304 |
.876 |
.066 |
|
.155 |
.247 |
.455 |
.035 |
.804 |
.005 |
.005 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_5 |
Pearson
Correlation |
.247 |
.294 |
.044 |
.266 |
1 |
.499** |
.334 |
.340 |
.166 |
.298 |
.630** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.188 |
.115 |
.817 |
.155 |
|
.005 |
.071 |
.066 |
.379 |
.110 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_6 |
Pearson
Correlation |
.332 |
.344 |
.048 |
.218 |
.499** |
1 |
.227 |
.366* |
.171 |
.077 |
.620** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.073 |
.063 |
.801 |
.247 |
.005 |
|
.227 |
.047 |
.365 |
.684 |
.000 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_7 |
Pearson
Correlation |
.366* |
.598** |
-.147 |
-.142 |
.334 |
.227 |
1 |
-.101 |
.080 |
.092 |
.432* |
|
Sig.
(2-tailed) |
.047 |
.000 |
.439 |
.455 |
.071 |
.227 |
|
.597 |
.674 |
.629 |
.017 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_8 |
Pearson
Correlation |
.301 |
.061 |
.055 |
.386* |
.340 |
.366* |
-.101 |
1 |
.304 |
.308 |
.529** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.106 |
.749 |
.774 |
.035 |
.066 |
.047 |
.597 |
|
.103 |
.097 |
.003 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_9 |
Pearson
Correlation |
.401* |
.388* |
.375* |
.047 |
.166 |
.171 |
.080 |
.304 |
1 |
.302 |
.576** |
|
Sig.
(2-tailed) |
.028 |
.034 |
.041 |
.804 |
.379 |
.365 |
.674 |
.103 |
|
.105 |
.001 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Item_10 |
Pearson
Correlation |
.000 |
.267 |
.355 |
.503** |
.298 |
.077 |
.092 |
.308 |
.302 |
1 |
.559** |
|
Sig.
(2-tailed) |
1.000 |
.154 |
.054 |
.005 |
.110 |
.684 |
.629 |
.097 |
.105 |
|
.001 |
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
Skor_Total |
Pearson
Correlation |
.591** |
.662** |
.425* |
.498** |
.630** |
.620** |
.432* |
.529** |
.576** |
.559** |
1 |
|
Sig.
(2-tailed) |
.001 |
.000 |
.019 |
.005 |
.000 |
.000 |
.017 |
.003 |
.001 |
.001 |
|
|
|
N |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
30 |
|
|
*.
Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). |
||||||||||||
|
**.
Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
||||||||||||
Tabel 4.17
Perbandingan r Hitung Dan r Tabel
Ketetapan:
1.
Apabila
r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”
2.
Apabila
r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapat nilai
skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r
tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r
tabel 0.361. berdasarkan hasil analisis
didapat nilai korelasi untuk semua item 1-10 lebih besar dari 0.361. maka dapat
disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan
semua item soal valid).
Tabel 4.18
Uji Reliabel Korelasi Kemampuan Santri
Pada Keterampilan Critical Thinking
|
Reliability Statistics |
|
|
Cronbach's Alpha |
N of Items |
|
.745 |
10 |
|
Item-Total Statistics |
||||
|
|
Scale Mean if Item Deleted |
Scale Variance if Item
Deleted |
Corrected Item-Total
Correlation |
Cronbach's Alpha if Item
Deleted |
|
Item_1 |
19.43 |
9.840 |
.453 |
.718 |
|
Item_2 |
19.57 |
9.426 |
.532 |
.705 |
|
Item_3 |
19.80 |
10.510 |
.251 |
.748 |
|
Item_4 |
19.83 |
10.351 |
.355 |
.732 |
|
Item_5 |
19.73 |
9.789 |
.509 |
.710 |
|
Item_6 |
19.80 |
9.338 |
.455 |
.718 |
|
Item_7 |
19.63 |
10.516 |
.265 |
.745 |
|
Item_8 |
19.77 |
10.254 |
.395 |
.727 |
|
Item_9 |
19.63 |
10.033 |
.447 |
.719 |
|
Item_10 |
19.90 |
10.093 |
.425 |
.722 |
Ketetapan:
1.
Apabilaonilai Cronbach'suAlpha > rotabel makaokuesionerodinyatakan “RELIABLE”
2.
ApabilaonilaioCronbach'soAlpha < rotabel makaokuesionerodinyatakan “TIDAK
RELIABLE”
Kesimpulan:
Dari hasil analisis didapatkan nilai
Cronbach's Alpha sebesar 0,745, sedangkan r
tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat
disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian tersebut semua reliable.
2.
Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis
a.
Analisis
regresi pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan literasi
Analisis regresi pengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan literasi menggunakan aplikasi SPSS for windows versi 25,
adapaun hasilnya sebagai berikut:
Tabel.4.19
Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah
Terhadap Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi
|
Variables Entered/Removeda |
|||
|
Model |
Variables Entered |
Variables Removed |
Method |
|
1 |
Metode Musyawarahb |
. |
Enter |
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
|||
|
b. All requested variables entered. |
|||
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
.432a |
.186 |
.157 |
2.09279 |
|
a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
28.066 |
1 |
28.066 |
6.408 |
.017b |
|
Residual |
122.634 |
28 |
4.380 |
|
|
|
|
Total |
150.700 |
29 |
|
|
|
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
|
b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||||
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
Secaraoumum
rumusppersamaan
regresiisederhana
adalah Y =ia + bX.
Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi tersebutiudapat berpedoman pada output
yang berada pada tabel Coefficients berikut:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
1.
Penjelasan
ai=iAngka konstanodari UnstandardizedoCoefficients. Dalamikasus inionilainyausebesar 6.946. angkaoini merupakanpangka konstanoyang mempunyaiiuarti jikamimenggunakan metodekimusyawarah dalam pembelajaranokitab kuning (X) makaonilai konsisten kemampauan
santri pada keterampilan literasi (Y1) adalah
sebesar 6.946.
b =
Angkaokoefisienoregresi. Nilainyaosebesar 0,446. Angkaoini mengandungaoiartiuibahwa setiapuipenambahan
1%uitingkat metode
musyawarah dalam pembejaran kitab kuning (X), maka kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1)
akanomeningkatosebesarp0,446.
Karenaonilai koefisieniuregresiobernilaioipositif, makakidengan demikianidapat dikatakanibahwaometode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X)
berpengaruh positif terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1). Sehinggaopersamaan regresinyaoadalah Y1= 6.946 +i0,446iX
2.
UjioHipotesis
Ujiohipotesis atauiuji pengaruhiberfungsi untukimengetahuiiapakah koefisienoregresi tersebutosignifikan atauotidak. Adapunohipotesisnya sebagaioberikut:
1.
Ho =
Tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X)
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1).
2.
Ha =
Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan
santri pada keterampilan literasi (Y1).
Sementaraoitu, untukomemastikan apakahikoefisien regresiitersebut signifikanoatau tidako(dalam artiivariabel Xiberpengaruh terhadapivariabel Y1) dapatomelakukan ujiohipotesis inihdengan caraomembandingkaninilai signifikansio(Sig.) denganoiprobabilitas 0,05 atauoidengan cara
membandingkanonilai
tohitung dengan totabel.
1.
Ujiuhipotesisomembandingkan nilaiosignifikansil(Sig.)edengan 0,05
Adapunoyang menjaditdasar pengambilanokeputus dalamoanalisis regresiodengan melihatinilai signifikansih(Sig.) hasiluoutput SPSSoadalah:
Ø Jikaonilai
signifikansioi(Sig.)
lebihokecil <
darioiprobabilitas
0,05 mengandungoarti
bahwaoada pengaruhometode musyawarahodalam pembelajaran kitab
kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).
Ø Sebaliknya,oiJika
nilaioisignifikansi
(Sig.) lebihoibesar
> dari probabilitaso0,05
mengandungoarti
bahwaotidak adaoipengaruh metodeomusyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan
literasi (Y1).
Adapun hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
Berdasarkanuautput di atasodiketahui nilaiosignifikansi (Sig.)osebesar 0.017 lebihikecil dari <iprobabilitas 0,05, sehinggaidapat disimpulkan bahwa
Hoeditolak dan Hauditerima, yang berartiobahwa “ada pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri
pada keterampilan literasi (Y1)”
2.
Ujiohipotesis membandingkanonilai tohitung dengan totabel
Pengujianohipotesis iniosering disebutojuga dengan ujiot, dimana dasaropengambilan keputusanodalam ujiotoadalah:
Ø Jikaonilai
tohitung lebihobesar > dari totabel makaiadaoipengaruh metodeomusyawarah dalam
pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan
literasi (Y1).
Ø Jikaonilai
tohitung lebihokecil < dari totabel makaotidak adaopengaruh metode
musyawarahodalam
pembelajaranokitab
kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1).
Hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
6.946 |
2.852 |
|
2.436 |
.021 |
|
Metode Musyawarah |
.446 |
.176 |
.432 |
2.531 |
.017 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi |
||||||
Berdasarkanooutput
dioatas diketahuionilai tohitungisebesar 2,531. karenainilai tohitung sudahiditemukan, makaiselanjutnya mencariinilai totabel. Adapunirumus untukimencari totabeliadalah:
Nilaiia/2i=i0,05/2
=i0,025
Derajadokebebasan (df) =in-2= 30-2 =28
Nilaio0,025
; 28 kemudianylihat
padaodistribusionilai totabel. Maka didapatinilai titabelusebesar 2,048
Karenannilai
tohitungssebesar 2,531 lebihebesar dari > t tabel
2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang
berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
(X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y)“.
|
Model
Summary |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted
R Square |
Std.
Error of the Estimate |
|
1 |
.432a |
.186 |
.157 |
2.09279 |
|
a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapatbberpedomanopada nilaioR Squareoatau R2tterdapat padaooutput
SPSSbbagianomodel summary.
Dariooutput
diatas diketahuionilaioR squareosebesari0,186. Nilaiiini mengandungiarti bahwaipengaruh metodeimusyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh
variabel yang lain yang tidak diteliti.
Merujuk pada pembahasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi denganototal pengaruhosebesar 18,6%. Pengaruhppositifoini bermaknaosemakin tinggiometodeomusyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan
santri pada keterampilan literasi.
b.
Analisis
regresi pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking
Tabel.4.20
Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah Terhadap
Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking
|
Variables
Entered/Removeda |
|||
|
Model |
Variables
Entered |
Variables
Removed |
Method |
|
1 |
Metode Musyawarahb |
. |
Enter |
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
|||
|
b. All requested variables entered. |
|||
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R
Square |
Std. Error of
the Estimate |
|
1 |
.659a |
.434 |
.414 |
2.65437 |
|
a.
Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of
Squares |
Df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
151.420 |
1 |
151.420 |
21.491 |
.000b |
|
Residual |
197.280 |
28 |
7.046 |
|
|
|
|
Total |
348.700 |
29 |
|
|
|
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
|
b.
Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||||
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode
Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Secaraoumum rumusopersamaan regresiisederhanaiadalah Yi=ia +ibX.
Sementaraountuk
mengetahuionilai
koefisienoregresi
tersebutodapat
berpedomanipada outputiyang beradaipada tabelicoefficientsoberikut:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std.
Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
1.
Penjelasan
ai=iAngka konstanadari unstandardizeducoefficients. Dalamikasus ini nilainyadsebesar 5,283. Angkauini merupakanhangka konstanyyang mempunyaibarti jikanbmenggunakan metodeuimusyawarah dalam
pembelajaranhkitab
kuning (X) maka nilai konsisten terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2) adalah sebesar 5,283.
bi=iAngka koefisieniregresi. Nilainyaosebesar 1,036. Angkaoini mengandungaiarti bahwaosetiapopenambahan 1% tingkat pengaruhimetode musyawarah dalam pembelajaran kitab
kuning (X), maka terhadap kemampuan
santri pada keterampilan critical thinking (Y2)uiakan meningkatusebesari1,036.
Karenaonilai koefisien regresibbernilaippositif, makaoidengan demikianidapatydikatakan bahwaimetode musyawarahidalamipembelajaran kitab
kuning (X) berpengaruhipositifoterhadap kemampuan
santri pada keterampilan critical thinking (Y2). Sehingga persamaan regresinya adalah Y2 = 5,283 + 1,036 X
2.
Uji
Hipotesis
Ujiohipotesis atauiuji pengaruh berfungsiiuntuk mengetahuiiapakah koefisienoregresi tersebutpsignifikan atauotidak. Adapunoihipotesisnya sebagainberikut:
Ø Ho = Tidakiadaopengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada
keterampilan critical thinking (Y2).
Ø Ha = Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
(X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).
Sementaraoitu, untukomemastikan apakahikoefisien regresiitersebut signifikanoatau tidako(dalamiartiivariabeliX berpengaruhiterhadapivariabel Y2) dapatimelakukan ujihhipotesis iniidengan caraimembandingkaninilai signifikansioi(Sig.) denganoiiprobabilitas 0,05oiatau denganoicara membandingkanonilai tihitung denganotatabel.
1.
Ujiohipotesisomembandingkan nilaiosignifikansio(Sig.) denganp0,05
Adapuniyang menjadiidasar pengambilanikeputusidalamianalisis
regresitdenganymelihat nilaiisignifikansi (Sig.) hasiliioutputiiSPSS adalah:
Ø Jika nilaiosignifikansioi(Sig.) lebihokecil < daripprobabilitaso0,05 mengandungoarti bahwaoada pengaruhometode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2).
Ø Sebaliknya,oJika
nilaioisignifikansi
(Sig.)oilebihoibesar > dari
probabilitaspo0,05
mengandungoiarti
bahwa tidakoiada
pengaruh metodeomusyawarah
dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan
critical thinking (Y2).
Adapun hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std.
Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Berdasarkan autput di atasodiketahui nilaiosignifikansi (Sig.)
sebesaro0,000 lebihoikecil darioi< probabilitaso0,05, sehinggaodapat disimpulkanobahwa Hoiditolak dan Hauditerima, yangoberarti bahwa “ada
pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)”
2.
Ujiohipotesis membandingkanonilai tyhitungidengan totabel
Pengujian hipotesis ini sering
disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t
adalah:
Ø Jika nilaiot
hitungolebihobesar > dariot tabelomaka adaopengaruh metodeomusyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2)
Ø Jika nilaiut
hitungolebihoikecil < dariot tabelomaka tidakoada pengaruhmmetode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking (Y2)
Hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std.
Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
5.283 |
3.617 |
|
1.461 |
.155 |
|
Metode Musyawarah |
1.036 |
.224 |
.659 |
4.636 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar
4,636. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t
tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:
Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025
Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2
=28
Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada
distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048
Karena nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel
2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang
berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X)
terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)“
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R
Square |
Std. Error of
the Estimate |
|
1 |
.659a |
.434 |
.414 |
2.65437 |
|
a.
Predictors: (Constant), Metode Musyawarah |
||||
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi,oidapat berpedomanoipada nilaioiR Squareiatau R2iterdapat pada output
SPSS bagianoimodelssummary. Dariooutput diatas
diketahuionilai Risquare sebesaro0,434. Nilaioini mengandungoarti bahwaopengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada
keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6%
keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang
tidak diteliti.
Merujuk pada pembahasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical
thinking denganiototal
pengaruhsusebesaroi43,4%.opengaruh positifoini bermaknaosemakin tinggiometode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan
santri pada keterampilan critical thinking.
c.
Analisis
regresi pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical
thinking
Tabel.4.21
Output
SPSS Regresi pengaruh keterampilan literasi
terhadap keterampilan critical
thinking
|
Variables
Entered/Removeda |
|||
|
Model |
Variables
Entered |
Variables
Removed |
Method |
|
1 |
Keterampilan
Literasib |
. |
Enter |
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
|||
|
b.
All requested variables entered. |
|||
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R
Square |
Std. Error of
the Estimate |
|
1 |
.429a |
.184 |
.155 |
3.18804 |
|
a.
Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi |
||||
|
ANOVAa |
||||||
|
Model |
Sum of
Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
|
1 |
Regression |
64.120 |
1 |
64.120 |
6.309 |
.018b |
|
Residual |
284.580 |
28 |
10.164 |
|
|
|
|
Total |
348.700 |
29 |
|
|
|
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
|
b.
Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi |
||||||
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Keterampilan
Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Secaraoumumorumus persamaaniregresi sederhanaiadalah Yi=ia +ibX. Sementaraountukoimengetahui nilaioikoefisien regresioitersebut dapat
berpedomanopada outputoyang beradaipada tabelccoefficientsiberikut:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Keterampilan
Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
1.
Penjelasan
a = Angka konstan dari unstandardized coefficients. Dalam kasus ini
nilainya sebesar 12,703. Angka ini merupakan angka konstan yang mempunyai arti
jika keterampilan literasi meningkat (Y1) maka nilai konsisten keterampilan critical
thinking (Y2) adalah sebesar 12,703.
b =
Angka koefisien regresi. Nilainya sebesar 0,652. Angka ini mengandunga arti
bahwa setiap penambahan 1% tingkat
keterampilan literasi (Y1), maka
keterampilan critical thinking (Y2) akanimeningkat sebesari0 ,652.
Karenaonilai koefisienoiregresi bernilaiiopositif, makaoidengan demikianoidapat dikatakanoibahwa peningkatanoketerampilaniliterasi (Y1) berpengaruh positif terhadap
keterampilan critical thinking (Y2).uSehingga persamaanoregresinyaoadalah Y1 = 12.703 + 0,652 X
2.
Uji0Hipotesis
Ujiihipotesis atauiuji pengaruhoberfungsi untukimengetahuiiapakah koefisien regresiotersebut signifikanoatauotidak. Adapunohipotesisnya sebagaioberikut:
Ø Ho = Tidak ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan
critical thinking (Y2).
Ø Ha = Ada pengaruh peningkatan keterampilan literasi (Y1) terhadap
keterampilan critical thinking (Y2).
Sementaraiitu, untuk memastikanoapakah koefisienoregresi tersebut
signifikaniatau
tidaki(dalamiartiivariabeliY1 berpengaruhiterhadap variabel Y2)idapat melakukaniuji hipotesisoini denganocara membandingkanonilai signifikansi
(Sig.) denganoiprobabilitasoi0,05 atauoidengan cara
membandingkaniunilai
tihitung denganototabel.
1.
Ujiihipotesisomembandingkanonilai signifikansio(Sig.) dengano0,05
Adapunoiyang menjadiodasar pengambilanokeputus dalamianalisis regresiodengan melihatinilaiosignifikansi (Sig.) hasilooutputiSPSSiadalah:
Ø Jikaoinilaioisignifikansi (Sig.)
lebihoikecil <
darioiprobabilitaso0,05 mengandung artiobahwa adaoipengaruhoiketerampilan literasi
(Y1) terhadapoiketerampilan
critical thinking (Y2).
Ø Sebaliknya, Jikaiunilai
signifikansioi(Sig.)
lebihoibesar >
dari probabilitasoi0,05
mengandungoiarti
bahwaoitidak adaoipengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadapoiketerampilan critical thinking (Y2).
Adapun
hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Keterampilan
Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Berdasarkan autputodi atasidiketahui nilaiosignifikansi (Sig.)isebesar 0,018ilebih kecilidari < probabilitasi0,05, sehingga.dapat disimpulkan bahwa
Hoiditolak dan Haiditerima, yang berarti.bahwa “ada pengaruh keterampilan
literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)”
2.
Uji
hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel
Pengujian hipotesis ini sering
disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t
adalah:
Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh
keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)
Ø Jikaunilai
tohitung lebihkkecil < dariot tabel makaitidak adaopengaruh keterampilan literasi
(Y1) terhadapoketerampilan
critical thinking (Y2)
Hasil output SPSS adalah:
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
12.703 |
3.708 |
|
3.426 |
.002 |
|
Keterampilan
Literasi |
.652 |
.260 |
.429 |
2.512 |
.018 |
|
|
a.
Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking |
||||||
Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar
2,512. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t
tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:
Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025
Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2
=28
Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka
didapat nilai t tabel sebesar 2,048
Karena nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel
2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang
berarti bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical
thinking (Y2)“.
|
Model Summary |
||||
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R
Square |
Std. Error of
the Estimate |
|
1 |
.429a |
.184 |
.155 |
3.18804 |
|
a.
Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi |
||||
Untuk mengetahui besarnya pengaruh
keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam
analisis regresi,oidapat
berpedomanoipada
nilaiiuR Squareiuatau R2oiterdapat padapoutputiSPSS bagianoimodeloisummary. Dari outputoidiatas diketahuioinilai Risquare sebesaroi0,184. Nilai ini
mengandungoiarti
bahwaipengaruh keterampilan
literasi terhadapoketerampilan
critical thinking adalahoisebesar
18,4% sedangkanoi81,6%
keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang
tidak diteliti.
Merujuk pada pembahasan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa keterampilan literasi berpengaruh positif terhadap
keterampilan critical thinking dengan total pengaruh sebesar 18,4%.
pengaruh positif ini bermakna semakin tinggi keterampilan literasi dalam
pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan
santri pada keterampilan critical thinking.
3.
Hasil Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis
Berdasarkan
hasil analisis regresi diatas dapat diketahui bahwa:
1.
Metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi apabila nilaiiusignifikansi (Sig.)olebihokecil < darioiprobabilitas 0,05iuatau jika nilai t
hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak
dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25
diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari <
probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t
tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang
berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran
kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi. Untuk
mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning
terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dalam analisis regresi,
dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilaioR squareosebesaroi0,186. Nilaiuiinioimengandung arti bahwauipengaruh metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuninguiterhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi
adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak diteliti.
2.
Metode
musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan
terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking apabila
nilaiuysignifikansi
(Sig.) lebihiukecil
< dari probabilitasi0,05
atau jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows
versi 25 diketahuionilai
signifikansiu(Sig.)
sebesaru0.000 lebihukecil dario< probabilitaso0,05 dan nilai t hitung
sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking. Untuk mengetahui besarnya pengaruh
metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri
pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat
berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilaivR squareusebesar 0,434. Nilaioini mengandunguyarti bahwa pengaruhuymetode musyawarah dalam
pembelajaran kitab kuninguiterhadap
kemampuan santri pada keterampilan critical thinking adalah sebesar
43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhiuoleh variabelulain yangitidak diteliti.
3.
Keterampilan
literasi mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap ketermpilan critical
thinking santri apabila nilaiusignifikansi
(Sig.)ilebih kecil
< darioprobabilitasi0,05 atau Jika nilai t
hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak
dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25
diketahuionilai
signifikansio(Sig.)
sebesar 0.018 lebihhkecilidari <iprobabilitas 0,05 dan
nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada
pengaruh signifikan antara ketermpilan literasi terhadap ketermpilan critical
thinking. Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap
keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman
pada nilai R Square. Adapun nilaiyR squareyusebesar
0,184. Nilaiuini
mengandunggarti
bahwaopengaruh
keterampilan literasiuterhadap
keterampilan critical thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6%
keterampilan critical thinking dipengaruhiuoleh variabelylain yang tidakkditeliti.
4.
Keterbatasan Penelitian
Penelitianyiniuterbatas hanyatdi PesantrenuKebon Jambu pada tiga
variabel saja, yaitu metode musyawarah, keterampilan literasi dan keterampilan critical
thinking.
Metode musyawarah di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy memang tidak
semuanya mengunakan pembahasan metodologi atau penggalian hukum yang banyak di
pelajari dalam kitab-kitab usul fikih, namun kitab usul fikih tetap diajarkan
di madrasah maupun di tingkat pengajian pondokidimanaipadaisituasi
tertentuhhsantri
terkadanghidituntut
untuk menerapkannya dalam pencarian suatu hukum fikih. Hal ini dilakukan supayausantri tidakilangsungimengambil keputusanuhukum yangusebenarnya keputusan itu
telahuterumuskan
secara sistematisudalam
kitabuklasik.
Pesantren Kebon Jambu selain menggunakan metode musyawarah juga
menggunakan metode sorogan, bandungan, hafalan dan al-miftah dalam menunjang
keterampilan literasi dan critical tinking santri pada kajian kitab kuning.
Di perpustakaan Pondok Kebon Jambu menyediakan berbagai kitab
kuning diantaranya kitab fikih, usul fikih, tafsir, hadis, tasawuf, akidah dan
lain sebagainya. Kitab-kitab tersebut kebanyakan dikarang ulama bermazhab
Syafi’i sebagai bahan rujukan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar
khususnya dalam kegiatan musyawarah kitab kuning.[123]
Karena penelitianainiaterbatashhanyahdihPesantren Kebon Jambuapada tigaavariabel, yaitu metode
musyawarah, keterampilan literasi dan keterampilan critical thinking, sehingga
pada penelitian selanjutnya, diharapkan dapat lebih mendalam membahas metode
pembelajaran lainnya seperti yang telah dijelaskan ditas atau hal lain yang
belum diungkap dalam penelitian ini yang dapat meningkatkan keterampilan
literasi, critical thinking dan ketrampilan lainnya.
aBABiVa
aPENUTUPa
A.
Kesimpulanah
Berdasarkanahasilapenelitianadi
Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islami dapat disimpulkan bahwa Semua variabel
berpengaruh signifikan meskipun pengaruhnya tidak sampai pada taraf 50%. Adapun pengaruh metode musyawarah terhadap
keterampilan literasi sebesar 18,6%. Pengaruh metode musyawarah terhadap
keterampilan critical thinking sebesar 43,4%. Sedangkan besarnya
pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking sebesar
18,4%.
B.
Rekomendasi
Rekomendasi kepada peneliti
selanjutnya, didasarkan keterbatasan penelitian. Keterbatasan penelitian ini
meliputi instrumen, pemilihan populasi dan sampel, pengaruh metode musyawarah terhadap
keterampilan literasi dan critical thinking, sehingga direkomendasikan
pada penelitian selanjutnya:
1.
Pada
penelitian ini, pengungkap data peserta didik hanya menggunakan instrumen untuk
data kuantitatif, sehingga penelitian selanjutnya direkomendasikan dalam
membuat instrumen pengungkap data menggunakan alat pengumpul data instrumen
lebih beragam tidak hanya membuat instrumen mengungkap data kuantitatif, akan
tetapi juga menggunakan instrumen pengungkap data kualitatif. Instrumen
tersebut dibuat berdasarkan kisi-kisi yang sama pada instrumen untuk data
kuantitatif maupun data kualitatif, seperti pada panduan observasi dan pedoman wawancara.
2.
Pada
penelitian ini, pemilihan populasi dan sampel sebanyak 30 santri kelas VI
Pesantren Kebon Jambu, sehingga pada penelitian selanjutnya direkomendasikan memperluas
populasi penelitian di berbagai tingkat pendidikan.
3.
Pada
penelitian ini, hanya membahas pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan
literasi dan critical thinking, sehingga pada penelitian selanjutnya
dapat lebih mendalam membahas metode pembelajaran lainnya yang dapat
meningkatkan keterampilan literasi dan critical thinking.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abidin, Yunus, Tita Mulyati, & Hana Yunansah, Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
Dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2018)
Antoro, Billy, Gerakan Literasi Sekolah, Dari
Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)
http://repositori.kemdikbud.go.id
Arief, Armai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi
Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu
Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014)
Bobbi, DePorter, & Mike Hernacki, Quantum
Learning Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, (Bandung: Mizan
Pustaka, 2010)
Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning Pesantren
Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012)
Burhanudin, Jajat, & Dira Afriyanti, Mencetak
Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2006)
Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal
Kelembagaan Agama Islam, Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah (Jakarta:
Deperteman Agama RI, 2003)
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi
Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9 (Jakarta: LP3ES, 2015)
Donni, Yudha Prawira, Pengembangan Koleksi Dan
Pengetahuan Literasi (Medan: UPT. Perpustakaan Universitas Negeri Medan,
2019) https://perpustakaan.unimed.ac.id
English, Evelyn Williams, Pendidikan Literasi
(Bandung: Nuansa Cendekia, 2017)
Filsaine, Dennis K., Menguak Rahasia Berfikir
Kritis Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008)
FIP-UPI, Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu
Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT
IMTIMA, 2007)
Ghofur, Abd., Pendidikan Anak Pengungsi; Model
Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang:
UIN-Malang Press, 2009)
Haedari, Amin, & Dkk, Masa Depan Pesantren
Dalam Tantangan Modernis Dan Tantangan Kompleksitas Global, Cetakan 2
(Jakarta: IRD PRESS, 2006)
Hayat, Bahrul, & Suhendra Yusuf, Mutu
Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)
Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas
Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010)
Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan
Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003)
Kompri, Manajemen & Kepemimpinan Pondok Pesantren, (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2018)
Kuswana, Wowo Sunaryo, Taksonimi Kognitif
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012)
Madjid, Nurcholis, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah
Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010)
Mas’ud,
Abdurrahman, intelektual Pesantren, Cetakan 1 (Yogyakarta, 2004)
Mochtar, Affandi, Kitab Kuning Dan Tradisi
Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009)
Panitia Majroh, Proposal Kegiatan Majelis
Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat 1440-1441
H/2019-2020 M (Cirebon, 2019)
Pondok Kebon Jambu, Buku Panduan: Masa Ta’aruf
Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H (Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019)
Prijosaksono, Aribowo, & Roy Sembel, Self
Management Series Maximize Your Strength Kiat-Kiat Meningkatkan Dan
Memaksimalkan Kinerja (Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia,
2003)
Qomar, Mujamil, Pesantren Dari Transformasi
Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005)
Romdhoni, Ali, Al-Qur’an Dan Literasi
(Depok: Literatur Nusantara, 2013)
Santrock, John w., Psikologi Pendidikan
(Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015)
Saputra, Mundzier, Perubahan Orientasi Pondok
Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat (Jakarta: Asta
Buana Sejahtera, 2009)
Sihotang, Kasdin, Febian Rima K., Benyamin Molan,
Andre Ata Ujan, & Rodemeus Ristyantoro, Critical Thinking Membangun
Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2012)
Sofan, Amri, & Iif Khoiru Ahmadi, Proses
Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis Dan
Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010)
Sugiyono, & Agus Susanto, Cara Mudah
Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017)
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018)
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017)
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan
(Bandung: Alfabeta, 2016)
Surya, Hendra, Strategi Jitu Mencapai
Kesuksesan Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011)
Universitas Negeri Semarang, Konferensi Bahasa
Dan Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017)
Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik
Nurcholish Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat
Press, 2005)
Jurnal
Abdullah, Moh, ‘Studi Komparasi Penerapan Metode
Al-Miftah Lil Ulum Dan Nubdatul Bayan Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab
Kuning’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018)
http://digilib.uinsby.ac.id
Adibah, Nuryana, & Nasehudin, ‘Hubungan
Gerakan Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di
SMP Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018 http://sc.syekhnurjati.ac.id
Adrian, Yudha, I. Nyoman S, & Sugeng Utaya,
‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah
Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26 http://journal.um.ac.id
Fathin, Nur Azzah, ‘Peningkatan Berfikir Kritis
Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 http://digilib.uinsby.ac.id
Ferguson, Brian, ‘Information Literacy’
http://bibliotech.us
Fitriyah, Lailatul, Marliana, & Suryani,
‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul
Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30 https://journal.stkipnurulhuda.ac.id
Hakim, Moh. Abdul, ‘Pemikiran Keagamaan KH.
Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin
Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon,
2014)
Masjaya, & Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan
Literasi Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam
Meningkatkan SDM’, PRISMA, 1.1 (2018) https://journal.unnes.ac.id
Rakhmawati, Rani, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode
Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat ,
Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet,
V.2 (2016), 349–60 http://journal.unair.ac.id
Rohman, Fathur, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis
Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal
Pendidikan Islam, 8.II (2017), 179–200 http://ejournal.radenintan.ac.id
Sholeh, Mohammad, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis
Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan
Widang Tuban Jawa Timur’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya, 2018) http://digilib.uinsby.ac.id
Sulaiman, Ahmad, & Agustin Syakarofath Nandy,
‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi
Islam’, Buletin Psikologi, 26.2 (2018), 86–96 https://jurnal.ugm.ac.id
Taufina, Muhammadi, & Chandra, ‘Literasi
Membaca Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian Bahasa Sasatra
Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12 https://journal.uny.ac.id
Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan
Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’
(Pascasarjana Iain Tulungagung, 2018) http://repo.iain-tulungagung.ac.id
Wawancara
Rusmana, Nana, Wawancara Musyawarah Di Pondok
Kebon Jambu
Yakin, Alamul, Wawancara Seputar Pendidikan Di
Pondok Kebon Jambu
Web
Akhmad, Harits Tryan, Mendikbud Siapkan 5
Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0, 2018
https://news.okezone.com
Detik.com, Kominfo Rilis 10 Hoax Paling
Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018 https://news.detik.com
Devega, Evita, Teknologi Masyarakat Indonesia:
Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 10 Oktober 2017 https://www.kominfo.go.id
Harususilo, Yohanes Enggar, Skor PISA Terbaru
Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem Makarim, 2019
https://edukasi.kompas.com
Mikhael, Gewati, Minat Baca Indonesia Ada Di
Urutan Ke-60 Dunia, 2016 https://edukasi.kompas.com
Muftisany, Hafidz, Sorogan Dan Bandongan Metode
Khas Pesantren (Jakarta, 2016) https://www.republika.co.id
Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’
https://kebonjambu.org
Raharjo, Sahid, ‘Cara Melakukan Uji Reliabilitas
Alpha Cronbach’s Dengan SPSS’, 2019 https://www.spssindonesia.com
Raharjo, Sahid, ‘Cara Melakukan Uji Validitas
Product Moment Dengan SPSS’, 2019 https://www.spssindonesia.com
Setyawan, Ibnu Aji, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan
Pengertian Literasi’, 2018 https://gurudigital.id
Twin, Anik, Hubungan Budaya Literasi Dan
Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018
https://www.kompasiana.com
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Majelis Musyawaroh (MAJROH)
a. Dasar Kegiatan MAJROH
1.
Rutinitas Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren
Babakan Ciwaringin Cirebon.
2.
Rapat
panitia Majroh 1440-1441 H.
b. Sasaran
Peserta Majlis
Musyawaroh (Majroh) adalah seluruh tingkat empat, lima, enam
tingkatan yang berada di Pondok Kebon Jambu dan MTAKJ, Pondok Jambu Putri,
Ma’had aly, Pondok Melati dan Pondok Assanusi Putra.
c. Tujuan
Kegiatan ini bertujuan:
1.
Menanamkan
rasa solidaritas antar sesama tingkatan dan perbedaan tingkatan ataupun beberapa
pesantren.
2.
Tersiarnya
syiar Islam melalui kajian-kajian kutubut
turots
3.
Memperkuat
ukhuwah islamiyah
d.
Struktur kepengurusan majelis musyawaroh (MAJROH) masa khidmat tahun 1440-1441 H Pondok Kebon Jambu Al-Islamy
1.
Pengasuh
PKJ:
Ny. Hj. Awanilah Amva
2.
Pembimbing
MAJROH:
Kyai Mahsus
Iskandar, dan Ust. Moh. Harir
3.
Kepala
Pondok:
Ust. Erman
Maulana
4.
Pengarah
MAJROH:
Ust. Nana
Rusmana, dan Ust. Syahrudin
5.
Ketua
Panitia:
Ust. Abdul
Ghofar
6.
Sekretaris:
Ust. Naupal
Irsyad
7.
Bendahara:
Ust. Hadi
Sa’dullah danUst. Muhammad Firdaus
8.
Sie.
Acara & Lapangan:
Ust. Arif
Afifudin, Ust. Jamaluddin, Ust. Makinun Amin, Ust. Lukmanul Hakim, Ust. Dika
Faiz H dan Ust. M. Ahadun
9.
Sie.
Konsumsi:
Ust. Faiz
Mubarok (Idr), Ust. Ae lailil mubarok, Ust. Affan Afnan, Ust. Tedy Khoirurijal,
Ust. Abi Dimyati dan Ust. Hasby Awla Nufus
10.
Sie.
Dekorasi & Akomodasi:
Ust. Wihar
Suratman, Ust. Abu Bakar, Ust. Nurul Fajri, Ust. Imamudin, Ust. Maulana
M.Zuhri, Ust. Dede Komarudin, Ust. Fiqih Hidayatur Rohman, Ust. Asep Saepudin,
Ust. Syamsul Arif, Ust. Syamsul Ma’arif, Ust. Abdurrohman Rohim, Ust. Hamdun
Syahrowi, dan Ust. Wihar Suratman
11.
Sie.
Dokumentasi:
Ust.
Alamul Yaqin, Ust. Nurul Fauzi, Ust. Ifan Fadilah, Ust. Mohammad Sa’dan, dan
Ust. Dzakwan Ali
12.
Sie
Humas dan Penerima Tamu:
Ust. Iip
Muhammad Al Muktapi, Ust. Muhammad Nur Pauzi Al Bustomi, Ust. Labibullah, Ust.
Ahmad Yahya, Ust. Rijal Huda, dan Ust. Irfan Diana
e.
Ketentuan MAJROH
1.
Peserta
MAJROH adalah, Pengurus komplek, pusat, Ma’had Aly, tingkat 4, 5, 6, kelas 4, 5, 6 MTAKJ, Pondok
Assanusi dan Pondok Melati.
2.
Soal-soal
MAJROH berasal dari peserta dan umum (Panitia MAJROH berhak untuk mengedit
redaksi, dengan tanpa merubah subtansi soal).
3.
Setiap kelompok terdiri dari dua orang jubir
(juru bicara) dan anggota kelompoknya.
4.
Untuk peserta Majroh Tingkat 4, 5, 6 berlaku
absensi pengajian ba’da Isya.
5.
Setiap Peserta Undangan diharapkan
mengkonfirmasi kepihak panitia untuk memberikan informasi bisa hadir atau
tidaknya minimal satu hari sebelum acara.
6. Setiap peserta wajib mengisi daftar hadir peserta Peserta.
7. Ibarot/Referensi dikumpulkan dalam bentuk hard file (diserahkan lansung ke panitia MAJROH).
f.
Etika dalam MAJROH
Etika dalam MAJROH adalah tatacara
yang harus diikuti oleh setiap peserta, diantaranya:
· Menggunakan bahasa yang baik, jelas, tegas dan singkat.
· Mengungkapkan argument yang baik dan meyakinkan berdasarkan
referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
· Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan.
· Menghormati pendapat orang lain.
g.
Tugas Notulen
Mencatat hasil-hasil Majroh dari awal sampai akhir.
h.
Tugas Moderator
1.
Mengatur
dan mengarahkan terciptanya pelaksanaan MAJROH yang tertib, objektif dan
terarah demi mencapai hasil yang mufakat.
2.
Mengkordinir
dan menyimpulkan berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah
dipahami oleh musyawir.
i.
Tugas Perumus
1.
Merumuskan
jawaban-jawaban yang telah masuk.
2.
Menentukan
pilihan jawaban yang tepat atau mendekati kebenaran dari jawaban yang masuk.
j.
Tugas Pentashih
1.
Mentashih jawaban yang telah dirumuskan oleh
perumus.
2.
Menjabarkan jawaban dari semua aspek yang
telah dibahas.
Angket
Pertanyaan
Nama :
Kelas/Tingkat :
Mohon dijawab pertanyaan- pertanyaan berikut sesuai dengan situasi
sebenarnya, dengan member tanda silang (X) pada salah satu jawababan yang
terdapat pada pilihan ganda (A, B, dan C) berikut ini:
1.
Apakah
setiap musyawarah anda berpendapat (berargumentasi) dengan menyertakan
referensi?
A.
Tidak
pernah
B.
Kadang-kadang
C.
Selalu
2.
Apakah
setiap musyawarah anda berpendapat dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas?
A.
Selalu
B.
Kadang-kadang
C.
Tidak
pernah
3.
Apakah
setiap musyawarah anda berpendapat dengan menyertakan dalil argumentasi yang
dapat dipertanggung jawabkan?
A.
Tidak
pernah
B.
Kadang-kadang
C.
Selalu
4.
Apakah
setiap musyawarah anda menjelaskan referensi
dengan menyertakan nama kitab, nama pengarang, cetakan dan juga halaman kitabnya?
A.
Tidak
pernah
B.
Kadang-kadang
C.
Selalu
5.
Apakah
setiap musyawarah anda menyanggah atau mengomentari pendapat teman anda atau
kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat?
A.
Selalu
B.
Kadang-kadang
C.
Tidak
pernah
6.
Apakah
setiap musyawarah anda menyanggah atau mengomentari pendapat teman anda atau
kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat dan meminta untuk
menjelaskanya kembali?
A.
Tidak
pernah
B.
Kadang-kadang
C.
Selalu
7.
Apakah
setiap musyawarah anda berupaya semaksimal munkin dalam berpendapat dengan cara
mencari referensi meskipun dari kitab yang belum dipelajari di kelas ataupun
sekolah?
A. Selalu
B.
Kadang-kadang
C.
Tidak
pernah
Mohon dijawab sesuai dengan situasi yang sebenarnya, dengan cara
memberi tanda silang (X) pada kolom jawaban yang telah tersedia. S= Selalu; KK= Kadang-kadang; TP= Tidak
pernah
|
No |
Pertanyaan
tentang kemampuan literasi |
S |
KK |
TP |
|
1.
|
Apakah dalam musyawarah anda mengambil informasi atau referensi
dari berbagai kitab kuning? |
|
|
|
|
2.
|
Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu menganalisis pendapat
yang terdapat didalam kitab? |
|
|
|
|
3.
|
Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu mengevaluasi pendapat
yang terdapat didalam kitab? |
|
|
|
|
4.
|
Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu menganalisis bentuk
teks yang terdapat didalam kitab? |
|
|
|
|
5.
|
Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu mengevaluasi bentuk
teks yang terdapat didalam kitab? |
|
|
|
|
6.
|
Apakah dalam musyawarah anda berusaha semaksimal mungkin dalam
mencarai referensi terbaik sebagai rujukan? |
|
|
|
Mohon dijawab item-item instrumen berikut ini. Jawablah dengan
member tanda lingkaran (O) pada angka yang sesusi dengan pendapat anda. 3= Selalu; 2= Kadang-kadang; 1=Tidak pernah
|
No |
Pertanyaan
tentang kemampuan critical thinking |
Tingkat
Persetujuan |
||
|
1.
|
Apakah setiap musyawarah anda bertanya dengan menyertakan
deskripsi masalah atau merumuskan masalah terlebih dahulu? |
3 |
2 |
1 |
|
2.
|
Apakah setiap musyawarah anda mendebat atau berargumentasi setiap kali ada kelompok lain yang tidak
sependapat? |
3 |
2 |
1 |
|
3.
|
Apakah setiap musyawarah anda melakukan deduksi? |
3 |
2 |
1 |
|
4.
|
Apakah setiap musyawarah anda melakukan induksi? |
3 |
2 |
1 |
|
5.
|
Apakah setiap musyawarah anda mengevaluasi pendapat sendiri atau
kelompok sendiri? |
3 |
2 |
1 |
|
6.
|
Apakah setiap musyawarah anda mengevaluasi pendapat kelompok
lain? |
3 |
2 |
1 |
|
7.
|
Apakah setiap musyawarah anda mengambil keputusan dan tindakan
sebagai solusi terhadap perbedaan pendapat? |
3 |
2 |
1 |
|
8.
|
Apakah setiap musyawarah anda berkontribusi memberikan
argumentasi pada kelompok? |
3 |
2 |
1 |
|
9.
|
Apakah setiap musyawarah anda meninjau kembali pendapat teman
atau kelompok lain terhadap permasalahan yang dibahas? |
3 |
2 |
1 |
|
10. |
Apakah setiap musyawarah anda berargumentasi meski referensinya sama dengan kelompok
lain tapi berbeda dalam interpretasi atau argumentasinya? |
3 |
2 |
1 |
Kisi-Kisi Angket
|
VARIABEL |
TEORI |
INDIKATOR |
NOMERIK |
|
Metode
Musyawarah |
Metode musyawarah bisa dikategorikan sebagai pembelajaran
kelompok berbasis masalah. Teori yang melandasi metode musyawarah atau
pembelajaran kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif Piaget dan Vigotsky |
4.
Argumen yang
baik 5.
Referensi
kitab yang dapat dipertanggung jawabkan 6.
Pembahasan
tidak menyimpang dari pokok permasalahan |
2 1, 3, 4 5, 6, 7 |
|
Keterampilan Literasi |
Jean E Spencer dalam
The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa literas adalah kemampuan
membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat
sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu
pengetahuan yang luas |
·
Mampu mengambil informasi. ·
Mampu membentuk pemahaman yang luas. ·
Mampu merefleksikan dan mengevaluasi isi teks. ·
Mampu merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks. |
6 1 2, 3 5 |
|
Keterampilan Critical Thinking |
Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang
aktif dan bertujuan. Berfikir kritis merupakan sebuah usaha yang dilakukan
secara terorganisasi yang memahami dunia dengan hati-hati, melalui kegiatan
menimbang pemikiran sendiri dan pemikiran orang lain untuk memperjelas dan
meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu |
6.
Mampu
merumuskan masalah 7.
Mampu
memberikan argumentasi 8.
Mampu
melakukan deduksi dan induksi 9.
Mampu
melakukan evaluasi 10.
Mampu
mengambil keputusan dan tindakan |
1 2, 8, 10 3, 4 5, 6, 9 7 |
[1]Devega Evita, Teknologi
Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 2017
<https://www.kominfo.go.id>. Hal 1. Diakses
tanggal 1 Desember 2019 pukul 13:00 WIB.
[2]Muhammadi, Taufina, and Chandra, ‘Literasi Membaca
Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian
Bahasa Sasatra Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12
<https://journal.uny.ac.id>. Hal 203.
Diunduh tanggal 1 Desember 2019 pukul 15:00 WIB.
[3]Gewati Mikhael, Minat
Baca Indonesia Ada Di Urutan Ke-60 Dunia, 2016
<https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 6 Desember 2019 pukul 20:00 WIB.
[4]Yohanes Enggar Harususilo, Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem
Makarim, 2019 <https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 2 Desember 2019 pukul 17:00 WIB.
[5]Billy Antoro, Gerakan
Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)
<http://repositori.kemdikbud.go.id>. Hal 5. Diunduh
tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[6]Harits Tryan Akhmad, Mendikbud Siapkan 5 Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0,
2018 <https://news.okezone.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[7]Sulaiman Ahmad and Agustin Syakarofath Nandy,
‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi
Islam’, Buletin Psikologi, 26.2
(2018), 86–96 <https://jurnal.ugm.ac.id>. Hal 5. Diunduh
tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[8]Detik.com, Kominfo
Rilis 10 Hoax Paling Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018
<https://news.detik.com>. Hal 2. Diakses
tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[9]Twin Anik, Hubungan
Budaya Literasi Dan Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018 <https://www.kompasiana.com>. Hal 1. Diakses
tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[10]Kitab
kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang
berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai
dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan
‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemasyarakatan
(mu’amalah) lainnya. Bruinessen Martin van, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading
Publishing, 2012).V. Istilah
kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan
Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Haedari Amin and Dkk, Masa Depan Pesantren, Cetakan 2 (Jakarta: IRD PRESS, 2006). 149.
[11]Metode
sorogan adalah metode pembelajaran diman santri mengajukan secara individu
kepada pengajar dengan..mebaca..kitab..yang diberikan arti
atau makna, yang bertujuan untuk membenarkan bacaan baik lafad atau maknanya. Dhofier Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9
(Jakarta: LP3ES, 2015). 54.
[12]Metode
bandungan adalah metode pengajaran kitab kuning yang mana pengajar mendikte sekaligus
menginterpretasikan isi yang terdapat dalam kitab sementara peserta didik menyimak
dengan seksama sekaligus memberi makna pada kitabnya. Kompri, Manajemen
& Kepemimpinan Pondok Pesantren (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2018). 31. Atau bisa
dilihat juga pada Madjid Nurcholis, Bilik-Bilik
Pesantren (Jakarta: Paramadina, 2010). 23.
[13]Metode
musyawarah adalah metode pengajaran..kitab kuning..yang
didalamnya terdapat diskusi..pelajaran yang hendak..atau telah diberikan
oleh pengajar, secara berkelompok. Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.
[14]Fitriyah Lailatul, Marliana, and Suryani, ‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab
Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30
<https://journal.stkipnurulhuda.ac.id>. Hal 24-25.
Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 22:34 WIB.
[15]Hafidz Muftisany, Sorogan
Dan Bandongan Metode Khas Pesantren (Jakarta, 2016)
<https://www.republika.co.id>. Hal 1. Diakses
tanggal 26 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[16]Rani Rakhmawati, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode
Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat ,
Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60
<http://journal.unair.ac.id>. Hal 352.
Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.
[17]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.
[18]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 174-175.
[19]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 98.
[20]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai.142.
[21]Alamul
Yakin, Wawancara Seputar Pendidikan Di Pondok Pesantren Kebon Jambu.
Tanggal 22 November 2019 Pukul 22:00 WIB.
[22]Rakhmawati. ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab
Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin ,
Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet,
V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>. Diunduh tanggal
20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.
[23]Fathur Rohman, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah
Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal Pendidikan Islam, 8.II (2017),
179–200 <http://ejournal.radenintan.ac.id>. Diunduh
tanggal 24 Desember 2019 pukul 21:00 WIB.
[24]Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan
Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Iain
Tulungagung, 2018) <http://repo.iain-tulungagung.ac.id>. Diunduh
tanggal 20 Desember 2019 pukul 20:54 WIB.
[25]Sholeh Mohammad, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis
Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan
Widang Tuban Jawa Timur’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. Diunduh
tanggal 20 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.
[26]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[27]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[28]Tim pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4
Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT IMTIMA, 2007). 455.
[29]Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi
Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005). 159.
[30]Martin van. Kitab Kuning
Pesantren Dan Tarekat. V.
[31]Ali Romdhoni, Al-Qur’an
Dan Literasi (Depok: Literatur Nusantara, 2013). 88-89.
[32]Yunus Abidin, Tita Mulyati, and Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan
Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis (Jakarta: Bumi
Aksara, 2018). 257.
[33]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 227.
[34]Dennis K. Filsaine, Menguak Rahasia Berfikir Kritis
Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008). 81.
[35]Kompri. Manajemen
& Kepemimpinan Pondok Pesantren.1. atau bisa
dilihat juga pada bukunya Yasmadi, Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish
Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. 61.
[36]Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010). 15.
[37]Santrock John w., Psikologi
Pendidikan (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015). Psikologi
Pendidikan. 397.
[38]Adrian and others, ‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif
Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26
<http://journal.um.ac.id>. Hal 222. Tanggal 19 Agustus 2019 pukul 00:59
WIB.
[39]Sofan Amri and IiF Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis
Dan Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010). 67.
[40]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[41]Lailatul, Marliana, and Suryani. Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di
Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja.
25.
[42]John w., Psikologi
Pendidikan. 398.
[43]John w., Psikologi
Pendidikan 399.
[44]Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi
Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002). 40.
[45]Kitab
kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang
berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai
dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan
‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemasyarakatan
(mu’amalah) lainnya. Martin van. Kitab Kuning
Pesantren Dan Tarekat . V. Istilah kitab kuning sebenarnya
dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan
pesantren hingga kini. Amin and Dkk. Masa Depan
Pesantren Dalam Tantangan Modernis dan Tantangan Kompleksitas Global. 149.
[46]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren.
57.
[47]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 57.
[48]FIP-UPI. Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi
Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang. 455.
[49]Nur Azzah Fathin, Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il, 42-44.
[50]Mohammad. Kajian
Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok
Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur.
66-68.
[51]Kementrian
Agama RI, Pesantren Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral
Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.
[52]Jajat
Burhanudin and Dira Afiyanti, Mencetak Muslim Modern (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2006). 85.
[53]Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi, 159.
[54]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
Dan Menulis. 165.
[55]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
Dan Menulis. 165-166.
[56]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis.167-168.
[57]Universitas Negeri Semarang, Konferensi Bahasa Dan
Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017). 3.
[58]Adibah,
Nuryana, and Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada
Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018
<http://sc.syekhnurjati.ac.id>. Hal 5. Diunduh
tanggal 26 Januari 2020 pukul 15:06 WIB.
[59]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 88-89.
[60]Bahrul Hayat and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011). 25.
[61]Evelyn Williams English, Pendidikan Literasi (Bandung: Nuansa Cendekia, 2017). 15.
[62]Romdhoni. Al-Qur’an
Dan Literasi. 90.
[63]Ibnu Aji Setyawan, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan Pengertian Literasi’, 2018
<https://gurudigital.id>. Hal 1. Diakses
tanggal 02 Oktober 2019 pukul 20:00 WIB.
[64]Brian Ferguson, ‘Information
Literacy’ <http://bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf>. Hal 10-14.
Diunduh tanggal 22 November 2019 pukul 14:30 WIB.
[65]Masjaya and Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan Literasi
Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam Meningkatkan
SDM’, PRISMA, 1.1 (2018)
<https://journal.unnes.ac.id>. hal 571.
Diunduh tanggal 14 April 2019 pukul 15:00 WIB.
[66]Yudha Prawira Donni, Pengembangan Koleksi Dan Pengetahuan Literasi (Medan: UPT.
Perpustakaan Universitas Negeri Medan, 2019)
<https://perpustakaan.unimed.ac.id>. hal 10.
Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.
[67]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 226-232.
[68] Yunus Abidin dkk, Pembelajaran Literasi. 257.
[69]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 257-258.
[70]Sihotang Kasdin and others, Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2012). 3.
[71]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 227.
[72]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 227.
[73]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran
Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca,
dan Menulis. 228-230.
[74]Kasdin and others. Critical
Thinking Membangun Pemikiran Logis. 7-8.
[75]Hendra Surya, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan
Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011). 130.
[76]Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2010). 154-155.
[77]Surya. Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar. 130.
[78]Filsaine. Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif.
81.
[79]Ghofur Abd., Pendidikan Anak Pengungsi; Model
Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang:
UIN-Malang Press, 2009). 28.
[80]Saputra Mundzier, Perubahan
Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat
(Jakarta: Asta Buana Sejahtera, 2009). 63.
[81]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 85.
[82]Mochtar Affandi, Kitab
Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009). 37.
[83]Affandi. Kitab Kuning
Dan Tradisi Akademik Pesantren. 38.
[84]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 96.
[85]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 99.
[86]Affandi. Kitab Kuning
Dan Tradisi Akademik Pesantren. 42.
[87]Mas’ud Abdurrahman, Intelektual Pesantren, Cetakan I (Yogyakarta, 2004). 111. Bisa dilihat juga pada bukunya Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 132- 134.
[88]Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren. 87.
[89]Martin van. Kitab
Kuning Pesantren dan Tarekat. 86.
[90]Pondok Kebon Jambu, Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H
(Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019). 12. Bisa
dilihat juga tanggal berdiri pondok kebon jambu pada Tesis Moh. Abdul Hakim, ‘Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad
Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon
Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2014). 90.
[91]Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’ <https://kebonjambu.org>. Hal 1. Tanggal
19 September 2019 pukul 21:22 WIB.
[92]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon
Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal
Al-Insan. 91.
[93]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon
Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal
Al-Insan. 92.
[94]Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam, Pondok Pesantren Dan
Madrasah Diniyah (Jakarta: Deperteman Agama RI, 2003). 30.
[95]Pondok
Kebon Jambu. Buku
Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru. 43.
[96]Pondok
Kebon Jambu. Buku Panduan:
Masa Ta’aruf Santri Baru. 30-31.
[97]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok
Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal
Al-Insan. 94.
[98]Panitia Majroh, Proposal
Kegiatan Majelis Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat
1440-1441 H/2019-2020 M (Cirebon, 2019). 1-2.
[99]Jajat Burhanudin and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam
Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). Mencetak
Muslim Modern Peta Pendidikan Islam di Indonesia. 85.
[100]Nur Azzah Fathin, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri
Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. Peningkatan
Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il. 42-44.
[101]Deperteman Agama Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.
[102]Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017). 45.
[103]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014). 12.
[104]Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018). 66.
[105]Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif. 152-153.
[106]Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif. 66.
[107]Arikunto,
Suharsimi. Prosedur
Penelitian Suatu Praktek. 68.
[108]Sugiyono and Agus Susanto, Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017). 292-295.
[109]Arikunto,
Suharsimi. Prosedur
Penelitian. 128.
[110]Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016). 134.
[111]Arikunto,
Suharsimi. Prosedur
Penelitian Suatu Praktek. 236.
[112]Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif. 223.
[113]Arikunto,
Suharsimi. Prosedur
Penelitian. 108.
[114]Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan. 56.
[115]Arikunto,
Suharsimi. Prosedur Penelitian.
115-117.
[116]Sahid Raharjo, ‘Cara Melakukan Uji Validitas Product Moment Dengan SPSS’, 2019 <https://www.spssindonesia.com>. diakses tanggal 12 Desember 2019 pukul 22:12 WIB.
[117]Sahid Raharjo, ‘Cara Melakukan Uji Reliabilitas Alpha Cronbach’s Dengan SPSS’, 2019 <https://www.spssindonesia.com>. diakses tanggal 12 Desember 2019 pukul 22:14 WIB.
[118]Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[119]Sugiyono and Susanto. Cara Mudah
Belajar SPSS Dan LISREL. 292-295.
[120]Sugiyono. Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[121]Sugiyono. Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[122]Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan. 134.
[123]Nana Rusman, Wawancara Musyawarah Di Pondok Kebon Jambu. Tangal 23 Oktober 2019 pukul 22:00 WIB.
Komentar
Posting Komentar