PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KEMAMPUAN SANTRI PADA KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING DI PESANTREN KEBON JAMBU

 

 

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat

           untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.)

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

 

 

 

 

Oleh :

MUHAMAD IRPAN

NIM :14166310049

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2020 M/ 1441 H

 

 

ABSTRAK

PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KEMAMPUAN SANTRI PADA KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING DI PESANTREN KEBON JAMBU

MUHAMAD IRPAN

NIM. 14166310049

Pascasarjana IAIN SyekhNurjati Cirebon

 

Keterampilan literasi dan critical thinking menjadi keterampilan yang harus dikuasi di abad XXI. Pendidikan di pesantren khususnya di Pesantren Kebon Jambu mempunyai metode pembelajaran yang dianggap mampu membentuk keterampilan literasi dan critical thinking, metode tersebut adalah musyawarah karena dalam musyawarah dibutuhkan argumentasi yang dibangun dari literasi membaca teks kitab kuning dan keterampilan critical thinking.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi, seberapa besar pengaruh metode musyawarah terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking, dan seberapa besar pengaruh keterampilan literasi terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.

Metode musyawarah menggunakan teori belajar kooperatif Piaget dan Vigotsky. Menurut keduanya pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas kelompok-kelompok siswa. Pernyataan tersebut sesuai yang dinyatakan oleh Dhofier bahwa dalam musyawarah siwa harus mempelajari sendiri kitab-kitab kuning untuk mencari pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi untuk mengetahui besarnya pengaruh antar variabel dengan bantuan SPSS 25 for windows. Populasi dan sampel sebanyak 30 santri. Data penelitian diperoleh melalui angket.

Pada penelitian ini pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi didapat nilai signifikansi 0.017 < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung 2,531 > t tabel 2,048. Pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking didapat nilai signifikansi 0.000 < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung 4,636 > t tabel 2,048. Sedangkan untuk pengaruh ketermpilan literasi terhadap critical thinking didapat nilai signifikansi 0.018 < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung 2,512 > t tabel 2,048. Dari tiga analisis regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan.

Kata Kunci: Metode Musyawarah, Literasi, Critical Thinking.

ABSTRACT

 

EFFECT OF DELIBERATION METHOD IN LEARNING THE YELLOW BIBLE ON ABILITY OF STUDENT IN LITERACY SKILLS AND CRITICAL THINKING AT KEBON JAMBU ISLAMIC BOARDING SCHOOL

 

MUHAMAD IRPAN

NIM. 14166310049

Pascasarjana IAIN SyekhNurjati Cirebon

 

 

Literacy and critical thinking skills become skills mastered in XXI century. Education at Islamic boarding schools especially at Kebon Jambu have learning method is considered capable of forming literacy and critical thinking skills, that method is deliberation because in deliberation needed argumentation is built from literacy in reading the yellow bible and critical thinking.

Based on above background, author conducted study to knowing how much effect deliberation method in literacy skills, how much effect deliberation in critical thinking skills, and how much effect literacy skills in critical thinking skills at Kebon Jambu.

Deliberation Method uses Piaget and Vigotsky's cooperative learning theory. According to Piaget and Vigotsky's cooperative learning depend on activities of student groups. This statement is line with Dhofier's opinion in deliberation, student study their own yellow Bible to find solution to problems that have been questioned a few days before deliberation begin in each group as a basis for arguments they use.

This research uses a quantitative approach with regression analysis techniques to determine magnitude of effect between variables with help of SPSS 25 for windows. Population and sample 30 students. Research data obtained through a questionnaire.

This research effect deliberation method on literacy skills obtained a significance value of 0.017 < probability 0.05 and t count value 2.531 > t table 2.048. effect deliberation method on critical thinking skills obtained a significance value of 0,000 < probability 0.05 and t count value 4.636 > t table 2.048. For effect literacy skills on critical thinking a significance value of 0.018 < probability 0.05 and t value of 2.512 > t table of 2.048 were obtained. From three regression analyzes it can be concluded that Ho was rejected and Ha was accepted, which means that there was a significant affect.

 
Keywords: Deliberation Method, Literacy, Critical Thinking.

الملخص

 

تأثير طريقة المشاورة في تعلم الكتاب السلف على قدرة الطلاب عن مهارة محو الأمية وتفكير النقدي

فى معهد كبون جامبو

 

 

محمد عرفان

14166310049NIM.

Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

 

               مهارة محو الأمية وتفكير النقدي في القرن21 كانت مهارة هامة التي تلزم إتقانها وفهمها وتعليم فى المعاهد خاصة  فى معهد كبون جامبو عندها طرق التعلم التي كانت لتكوين مهارة محو الأمية وتفكير النقدي وهي المشاورة لأنها تحتاج الى الحجة فالحجة تنبت من قراءة نصوص الكتب السلفية وتفكير النقدي.

               فلذالك الباحث يقدم البحث كم اكثر تأثيرطريقة المشاورة في تعلم الكتاب السلف على قدرة الطلاب عن مهارة محو الأمية كم اكثر تأثيرطريقة المشاورة في تعلم الكتاب السلف على قدرة الطلاب عن وتفكير النقدي كم اكثر تأثير مهارة محو الأمية في تعلم الكتاب السلف على قدرة الطلاب عن تفكير النقدي فى معهد كبون جامبو.

               وطريقة المشاورة تستخدم نظرية التعلم التعاوني فياغة و فيغثكي. وقالا التعلم التعاوني متعلق في فعالية فرقة التلاميد وبيان ذلك مطا بقة في رأي الضافير المشاورة تد رس التلاميد الكتاب السلف لبحث عن حلة المشكلة التي تبحث قبل ايام المشاورة لكل فرقة كأسا س الحجة يستخدمونها.

               هذا البحث يستخدم بمقاربة الكمي مع تقنية وكيفية تحليل الانحدار لمعرفة مقدارالتأثير بين المتغيرات بمساعدة سفسس25 للنوافذ كمية وتمثيل 30 طالبا وبيانات البحث تؤخذ من استبيان.

               في هذا البحث تأثير طريقة المشاورة على مهارة محو الأمية تحصل نتيجة الأهمية 0.017< احتمالية 0.05 ونتيجة t   2.531 > t جدول 2.048 تحصل تأثير طريق المشاورة على مهارة التفكير النقدي نتيجة الأهمية 0.000 < احتمالية 0.05 ونتيجة   t4.637  > t الجدول 2.048 أما بالنسبة لتأثير مهارة محو الأمية على التفكير النقدي فقد تم الحصول على نتيجة الأهمية 0.018< احتمالية 0.05 ونتيجةt   2.512 > t جدول 2.048 ومن تحليلات الانحدار الثلاثة تستنتج Ho مردود وHa مقبول يعني عندها تأثير الأهمية.

 

علامة  :طريقة المشاورة,محو الأمية, تفكير النقدي.        

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji hanya milik Allah SWT, berkat-Nya tesis ini dapat penulis susun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

Dengan selesainya tesis ini, tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu. Ucapan terimakasih secara khusus penulis sampaikan kepada:

1.      Bapak Dr. H. Sumanta, M.Ag, selaku Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

2.      Prof. Dr. H. Dedi Djubedi, M. Ag, sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

3.      Dr. H. Ahmad Asmuni, MA, sebagai dosen pembimbing I dan Dr. Saefudin Zuhri M.Ag, selaku pembimbing II.

Semoga Allah SWT akan selalu melimpahkan rahmat dan balasan yang tiada tara kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan tesis ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tesis ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati dan dengan tangan terbuka penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca tesis ini.

Akhir kata semoga tesis sederhana ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan seluruh pembaca pada umumnya Aamiin.

 

Cirebon, 29 Juni 2020

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................ i

PERNYATAAN KEASLIAN........................................................................ ii

NOTA DINAS................................................................................................. iii

PENGESAHAN.............................................................................................. v

ABSTRAK....................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR..................................................................................... ix

DAFTAR ISI................................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah....................................................................... 1

B.     Identifikasi Dan Batasan Masalah........................................................ 9

C.     Rumusan Masalah................................................................................. 9

D.    Tujuan Penelitian.................................................................................. 10

E.     Kegunaan Penelitian............................................................................. 10

F.      Penelitian Terdahulu............................................................................. 11

G.    Kerangka Pemukiran............................................................................ 15

H.    Hipotesis............................................................................................... 21

I.       Sistematika Penulisan........................................................................... 23

BAB II TINJAUAN TEORITIS PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING

A.       Pengaruh Metode Musyawarah Kitab Kunig

1.      Teori Metode Musyawarah....................................................... 24

2.      Pengertian Metode Musyawarah.............................................. 27

3.      Komponen Metode Musyawarah............................................. 29

4.      Metodologi Pengambilan Keputusan Musyawarah.................. 31

5.      Ketentuan Metode Musyawarah.............................................. 33

6.      Indikator Metode Musyawarah................................................ 34

B.     Keterampilan Literasi Kitab Kuning

1.      Teori Keterampilan Literasi...................................................... 35

2.      Jenis-Jenis Literasi.................................................................... 38

3.      Tingkatan Literasi..................................................................... 43

4.      Keterampilan Literasi............................................................... 44

5.      Asas Dasar Penilaian Literasi................................................... 45

6.      Indikator Literasi...................................................................... 47

C.  Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)

1.      Teori Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)............. 48

2.      Langkah-Langkah Berfikir Kritis............................................. 54

3.      Kemampuan Dasar Berfikir Kritis............................................ 57

4.      Komponen Berfikir Kritis......................................................... 58

5.      Karakteristik Berfikir Kritis...................................................... 58

6.      Indikator Berfikir Kritis........................................................... 60

D.  Kitab Kuning

1.      Pengertian Kitab kuning........................................................... 61

2.      Sejarah Perkembangan Kitab Kuning....................................... 62

3.      Materi Ajar Kitab Kuning........................................................ 65

BAB III METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian.............................................................. 66

B.     Profil Pesantren Kebon Jambu............................................................. 67

C.     Metode Penelitian................................................................................. 77

D.    Instrumen Penelitian............................................................................. 81

E.     Populasi dan Sampel............................................................................. 83

F.      Uji Instrumen........................................................................................ 84

G.    Teknik Analisis Data............................................................................ 87

H.    Uji Hipotesis......................................................................................... 90

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A.    Temuan Penelitian................................................................................ 92

1.      Instrumen Variabel Metode Musyawarah Kitab Kuning......... 92

2.      Instrumen Variabel Keterampilan Literasi................................ 99

3.      Instrumen Variabel Keterampilan Critical Thinking................. 106

B.     Pembahasan.......................................................................................... 114

1.      Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen.................................. 114

2.      Analisis Regresi dan Uji Hipotesis........................................... 125

3.      Hasil Analis Regresi dan Uji Hipotesis.................................... 145

4.      Keterbatasan Penelitian............................................................ 148

BAB V PENUTUP

A.    Kesimpulan........................................................................................... 150

B.     Rekomendasi........................................................................................ 150

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 152

LAMPIRAN.................................................................................................... 157

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikanssesungguhnya dirancang untuk meningkatkan sumberodaya manusiaayang berkualitasuunggul, baik di lembaga formal maupun nonformal. Salahssatu yang sering dibahas dari beberapaoistilah pendidikan sekarang ini adalahopendidikanoliterasi, pendidikan literasi dimungkinkanodapat menjawab permasalahan sebab rendahnya minatomembaca peserta didik. Hasil riset yang dilakukan oleh UNESCOotahunn2012 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah soal literasi, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001% artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.[1]

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu: perpustakaan, koran, input sistem pendidikan,


output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer.[2] Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.[3]

Hasil riset berbeda juga ditunjukan Proggramme for International Student Assesment (PISA) tentang literasi matematika, membaca, dan sains, skor literasi membaca di awal mengikuti tes PISA 371 dan mengalami peningkatan 382 (tahun 2003), 393 (tahun 2006), dan 402 (tahun 2009), kemudian terus mengalami penurunan 396 (tahun 2012), 397 (tahun 2015) dan titik terendah 371 (tahun 2018), sedangkan menurut PISA kemampuan baca negara-negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2018 berada dirata-rata angka 487, peringkat pertama diraih China (skor 555), kemudian diikuti Singapura (549), dan Makau (525).[4]

Pendidikan literasi menjadi penting karena keterampilan literasiimerupakan salahhsatu keterampilan yang mestiodikuasai padaaabad XXI. Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan oleh0Forum Ekonomi0dunia atau biasa disebut dengan WorldoEconomicoForum (WEF) padaotahuno2015 terkaitoketerampilan yang mesti dikuasai kususnya oleh peserta didik padauabad XXI. Keterampilan tersebut mencakupoketerampilanoliterasi,akompetensi,adanakarakter.[5]

Menurut WEF, tidak hanya pendidikan literasi namun karakter dan kompetensi juga dingaggap penting. Salah satu aspek kompetensi abad XXI menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Effendy khususnya di era industri revolusi 4.0 adalah berpikir kritis (critical thinking).[6] Menurut Larsson (2017) Berpikir kritis dapat diartikan sebagai upaya seseorang untuk memeriksa kebenaran dari suatu informasi menggunakan ketersediaan bukti, logika, dan kesadaran akan bias.[7]Mengingat kondisi sosial yang semakin kompleks dan kemajuan teknologi informasi, mendorong derasnya pertukaran informasi yang belum terverifikasi, tidak terverifikasinya pertukaran informasi berdampak terhadap munculnya berbagai persoalan. Menurut Al-Walidah (2017) ketidak mampuan masyarakat untuk mengkritisi kebenaran informasi yang diperoleh berdampak terhadap problematika sosial dalam berbagai aspek kehidupan manusia, salah satu contohnya, pada tahun 2018 masyarakat sempat ditimpa kekhawatiran dan resah oleh adanya informasi palsu yang menyebar luas tentang kebangkitan PKI yang sebenarnya bukanlah isu baru, tapi isu ini menjadi makin viral di tahun 2018, seiring dengan dinamika politik Indonesia. Beberapa kejadian seolah dikaitkan dengan kebangkitan PKI. Pada awal 2018 terjadi kasus pemukulan terhadap seorang kyai atau tokoh agama. Setelah tertangkap pelakunya ternyata adalah orang gila.[8]Kondisi ini menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat saat ini. Agar masyarakat dapat objektif menerima informasi yang diperoleh, keterampilan critical thinking menjadi penting karena akan menghalangi ketergesahan untuk menilai kebenaran data begitu saja, selain itu keterampilan critical thinking memberi ruang untuk memeriksa dan menolak kebohongan yang mungkin berada di dalamnya.

Seseorang tidak memiliki keterampilan literasi dan critical thinking sejak lahir, melainkan keterampilan ini diperoleh dari proses latihan, belajar, atau pengalaman. Penyiapan sumber daya manusia yang menguasai keterampilan abad XXI terutama literasi dan critical thinking akan efektif jika ditempuh melalui jalur pendidikan. Perubahan kurikulum telah dilakukan oleh pemerintah, pada jenjang sekolah menengah ke bawah telah diterapkan kurikulum 2013 dengan berbagai perbaikannya, kurikulum 2013 sesungguhnya telah mengakomodasi keterampilan abad XXI, baik dilihat dari standar isi, standar proses, maupun standar penilaian. Pada standar proses, terbukti menurut Anik Twin (2018) literasi dalam pendekatan scientific approach tersirat dalam skenario pembelajaran, skenario pembelajaran yang diharapkan berorientasi pada peningkatan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan penilaian hasil belajar berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills).[9]Sejatinya pendidikan literasi dan critical thinking dapat dijumpai implementasinya dihampir seluruh sektor pendidikan termasuk pendidikan di pondokkpesantren. Pendidikanndiipondokipesantren yanggpembelajaraniutamanya menggunakannkitabbkuning[10]mempunyai metode pembelajaran khas dalam mengkaji kitab kuning. Metode pembelajaran yang berjalan di pesantren sampai saat ini adalah metode sorogan,[11]metode wetonan atau bandungan,[12]dan metode musyawarah.[13]  

 

            Menurut Lailatul Fitriyah (2019) metode sorogan, pesetra didik hanya dilatih untuk membaca sebuah kitab kuninggdengan maksud untuk membenarkan bacaan, pada metodeebandungan, peserta didik hanya dilatih untuk menyimak apa yang guru bacakan sambil memberi makna, sedangkan metode musyawarah, tidak  hanya melatih peserta didik membaca dan menyimak, akan tetapi diperlukan argumentasiidalammberpendapat.[14]Argumentasiiyang dibangun dibentuk dari hasil literasi baca dan berfikir kritis, maksud literasi baca disini adalah membaca teks kitab kuning. Keterampilanmmembaca teks yang baik mengindikasikan untuk dapat membaca berbagai macam referensi kitab kuning yang menjadi tendensi dalammmusyawarah.

            Hal senada juga dinyatakan oleh Hafidz Muftisany (2016) menurutnya, metode sorogan dan bandongan pada intiya sama-sama memiliki ciri pemahaman yang sangat kuat dalam pengajaran kitab kuning. Namun, kedua metode tersebut dianggap tidak cukup efektif untuk mengembangkan nalar kritis peserta didik karena sedikitnya kesempatan yang diberikan untuk mempertanyakan kebenaran materi yang dipelajarinya.[15]Berbeda dengan metode musyawarah, menurut Rakhmawati (2016) metode musyawarah melatih para santri lebih aktif pada pendalaman kajian dan pemecahan solusi atas permasalahan yang terjadi sebagai suatu tanggapan para santri menjawab dengan merujuk pada referensi kitab kuning pesantren.[16]

            Sedangkan menurut Dhofier, dalam musyawarah para santri harus belajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[17]Sementara untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima tentunya dibutuhkan adanya kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning sebagai rujukan pembahasan masalah.

            Berbagai pendapat tersebut mengindikasikan bahwa metodemmusyawarah mesti ditelitiolebih dalam terkaitibagaimana menjadikan peserta didik yang literat dan mampu berfikir kritis (critical thinking). Pembelajaran kitab kuning yang notabennya menggunakan metode musyawarah dianggap memiliki kualitas yang baik, terbuktik menurut Dhofier, santri yang telah menyelesaikan kelas musyawarah di pesantren Tebuireng akhirnya menjadi ulama besar yang dapat mengembangkan pesantren-pesantren besar, namun pada saat itu santri yang dapat mengikuti musyawarah sangat sedikit karena seleksinya sangat ketat.[18]Diantara santri yang menjadi ulama besar setelah menyelesaikan musyawarah yaitu kyai Manaf Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo Kediri, KH Jazuli pendiri pesantren Ploso Kediri, dan kyai Zuber pendiri Pesantren Resosari di Salatiga.[19] Dan masing-masing memiliki santri lebih dari 1.000 orang yang datang dari daerah jauh.[20]

            Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy merupakan pesantren yang masih menjaga metodeemusyawarah. Metodeemusyawarah yang dipakai di pesantren ini, sebetulnya telah ada dan merupakan sebuah tradisi sejak awallberdirinya. Metode musyawarah diaplikasikan dengan berbagai sistematika dan terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun, hal tersebut dimungkinkan supaya metode musyawarah dapat lebih bernilaiimaksimal. Adapun musyawarah yang berjalan sampai saat ini adalah musyawarah harian, mingguan, bulanan, tahunan dan musyawarah sewilayah tiga Cirebon.[21]

Berdasarkanolatarobelakang tersebut, penelitiutertarik untukkmelakukan penelitianntentang seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu?

 

 

 

B.  IdentifikasiiMasalahiDaniBatasaniMasalah

1.    IdentifikasiiMasalah

Dari latarrbelakang masalah tersebut, maka dapat diidentifikasikan masalahhsebagai berikut:

a.    Pendidikannliterasi diindikasikan dapat menjawab permasalahan terhadap keterampilan literasi peserta didik.

b.    Berfikir kritis (critical thinking) menjadi penting karena akan menghalangi ketergesahan untuk menilai kebenaran data begitu saja.

c.    Literasi dan critical thinking menjadi keterampilan yang harus dikuasi di abad XXI.

2.    Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis mencoba mengetahui kualitas dari pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon. Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah kajian kitab kuning dengan menggunakan metode musyawarah.

C.  RumusaniMasalah

Berdasarkannlatarrbelakang masalahttersebut, penelitiannini secarauumum inginnmengungkapkan pengaruh metodeemusyawarah dalam pembelajaran kitab kuninggterhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.

Adapun penelitian ini secaraaterperinci berfokus padaahal-halksebagai berikut:

1.    Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan literasi sanri ?

2.    Seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan critical thinking santri ?

3.    Apakah keterampilan literasi kitab kuning berpengaruh pada keterampilan critical thinking santri ?

D.  TujuaniPenelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini diantaranya sebagaiiberikut:

1.    Untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam meningkatan keterampilan literasi sanri.

2.    Untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh metode musyawarah kitab kuning dalam meningkatkan keterampilan critical thinking santri.

3.    Untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh keterampilan literasi kitab kuning terhadap keterampilan critical thinking santri.

E.  KegunaaniPenelitian

Hasilldarippenelitiannini diharapkanndapatbbermanfaat,idiantaranya:

1.    Penelitian ini dapat menjadi acuan dalam menerapkan atau mengembangkan metode pembelajaran secara lebih mendalam. 

2.    Sebagai suatu sumbangsi karya ilmiah khususnya di bidang pendidikan.

3.    Penelitian ini semoga dapat menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya terutama dalam mengungkap sisi lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.

F.   Penelitian Terdahulu

Untuk mendukung penelitian ini maka penulis menampilkan acuan penelitian yang relevan diantaranya adalah:

Rani Rakhmawati.[22] Jurnal. ”Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur”. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ruang lingkup pendidikan pesantren yang memiliki ciri khas tertentu dengan penyajian pelestarian kitab kuning. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan syawir adalah sebagai suatu usaha untuk menjaga, melestarikan khazanah ke ilmuan pesantren yang khas dengan cirinya kitab kuning sekaligus menjadi suatu bekal yang mewadahi syiar agama di tengah-tengah perkembangan zaman, meski ada juga beberapa santri kurang bersemangat saat mengikuti pembelajaran syawir karena pemahaman terhadap kitab kuning  belum dianggap baik.

 

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini, Penulis akan membahas seberapa besar pengaruh metode musyawarah dalam melestarikan khazanah keilmuan pesantren yang sudah di modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu, sehingga dapat meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri di Pesantren Kebon Jambu.

Fathur Rohman.[23] Jurnal.”Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang”. Jurnal ini, memberikan gambaran pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah fiqih dengan kegiatan musyawarah di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kegiatan musyawarah merupakan bentuk pembelajaran berbasis masalah fiqih dalam gaya pesantren. Dari segi prinsip, karakteristik, serta tahapan pembelajaran dalam kegiatan musyawarah telah sesuai dengan konsep pembelajaran berbasis masalah. Penelitian yang ditulis Fathur Rohman tersebut, menjelaskan model musyawarah telah memenuhi prinsip dan karakteristik pembelajaran berbasis masalah. Maka, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa musyawarah merupakan model pembelajaran fiqih berbasis masalah ala pesantren.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini akan membahas seberapa besar pengaruh metode musyawarah yang sudah di modifikasi oleh Pesantren Kebon Jambu dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren Kebon Jambu.

Zaenuddin.[24]Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi multi situs dengan kasus yang ada di Pondok Pesantren Panggung Tulungagung dan Hidayatul Mubtadiin Ngunut Tulungagung. Dari hasil penelitian yang ditulis Zaenuddin tersebut hanya menjelaskan implenentasi metode diskusi atau musyawarah dan bandungan pada peningkatkan kualitas santri dalam membaca kitab kuning.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu. Dalam penelitian ini akan membahas pengaruh metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren Kebon Jambu.

Mohammad Sholeh.[25]“Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur”.  Dalam penelitian tersebut mendeskripsikan tentang strategiidanmmetode musyawarah dalam mengkaji kitab turath di Pesantren Langitan Widang Tuban. Hasil penelitian menjelasakan metode musyawarah pada kajian kitab turath telah dianggap dapat meningkatkan tipologi gaya berfikir santri, baik kemampuan berfikir kritis, kreataif, analitis, dan logis, meskipun masih terdapat santri yang kadang bersikap tidak perduli pada saat kegiatan musyawarah karena santri tersebut masih belum bisa menguasai dan memahami kitab turath dengan baik.

Sedangkan penulis meneliti tentang, pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Pesantren Babakan Ciwaringin. Dalam penelitian ini akan membahas pengaruh metode musyawarah dalam meningkatkan kualitas literasi, dan critical thinking santri Pesantren Kebon Jambu.

Merujuk kepada beberapa hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitaian ini memiliki perbedaan dengan penelitan-penelitian sebelumnya, Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah tentang pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon.

G. Kerangka Pemikiran

Metode musyawarah sistem pengajaran sangat berbeda dari sistem sorogan dan bandungan. Para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar lebih banyak dalam bentuk tanya jawab dan merupakan latihan bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik. Kemampaun literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar. Sedangkan kemapuan critical thinking adalah kemampuan berargumentasi, kemampuan berargumen sendiri akan sangat berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat argumentasi yang dibuat.

Tabel 1.1

Skema kerangka berfikir

 

Metode Musyawarah

· Argumentasi yang baik

· Referensi kitab yang dapat dipertanggung jawabkan

· Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan

Keterampilan Literasi

Keterampilan Critical Thinking

· Mampu mengambil informasi.

· Mampu membentuk pemahaman yang luas.

· Mampu merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.

· Mampu merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks.

·  Mampu merumuskan masalah

·  Mampu memberikan argumentasi

·  Mampu melakukan deduksi dan induksi

·  Mampu melakukan evaluasi

·  Mampu mengambil keputusan dan tindakan

Untuk menyamakan persepsi dan menghindari adanya perbedaan pemahaman beberapa istilah dalam penelitian ini, perlu adanya definisi dan batasan istilah yang akan dipilih dan digunakan oleh peneliti, sebagai berikut:

1.    Metode Musyawarah Kitab Kuning

a.    Definisi dan indikataor metode musyawarah

Dhofier menyatakan bahwa metode musyawarah berbeda dengan sorogan dan bandungan. Pembelajaran menggunakan metode musyawarah siswa mempelajari kitab kuning secara individu. Pengajar yang biasa disebut kyai memimpin musyawarah seperti dalam seminar dan lebih berfokus dalam bentuk tanya jawa, biasanya kegiatan musyawarah ini hampir semuanya menggunakan bahasa Arab dan merupakan bentuk latihan untuk siswa mengasah keterampilan bernalar dan mengambil literatur kitab kuning.[26]

Biasanya, pengajar sebelum musyawarah di mulai beberapa hari sebelumnya telah menyiapkan sejumlah pertanyaan bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari sebelum siding musyawarah dijadwalkan, peserta kelompok musyawarah menyelenggarakan diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah satu juru bicara. Diskusi dalam musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat diminta untuk menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi.[27] Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[28] Adapun indikator metode musyawarah sebagai berikut:[29]

1.         Toleransi dalam berpendapat.

2.         Berani menyampaikan pendapattatauiide.

3.         Berfikir secaraoobjektif,iargumentatif,irasional,isitematis danikritis.

4.         Lebihlkomprehensif membangunnwawasan.

5.         Kritis terhadap sesuatu pernyataan dan kesadaran membangun alternatifnya.

b.   Kitab kuning

Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemasyarakatan lainnya.[30]

 

 

 

2.    Definisi dan Indikataor Kemampuan Literasi

Menurut Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas.[31] Adapun indikator literasi adalah sebagai berikut:[32]

1.    Mengambiliinformasi.

2.    Pemahamaniyangiluas.

3.    Mengembangkaniinterpretasi.

4.    Merefleksiidanimengevaluasiiisiiteks.

5.    Merefleksiidanimengevaluasiibentukiteks.

3.    Kemampuan Critical Thinking

a.    Definisi dan indikataor critical thinking

             Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang aktif dan bertujuan. Berfikir kritis termasuk sebuah usaha yang terorganisir untuk memahami dunia dengan teliti, dengan cara menimbang pemikiran yang diperoleh sendiri dan hasil pemikiran orang lain guna memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu. Sejalan dengan pengertian ini, Butterworth dan Thwaites menyatakan bahwa berfikir kritis senantiasa ditandai dengan adanya tiga aktivitas dasar, yakni analisis, evaluasi, dan argumen. Analisis berarti mengidentifikasikan kata-kata kunci sebuah informasi dan merekonstruksi informasi tersebut, agar mampu menangkap makna secara utuh dan memenuhi aspek kecukupan. Evaluasi berarti menilai kekuatan informasi atas dasar baik atau kurang baiknya argumen yang mendukung kesimpulan dalam informasi tersebut, atau seberapa kuat bukti yang disajikan atas klaim yang disampaikan. Argumen berarti penjelasan atau tanggapan yang diberika oleh seseorang pengkritik atas informasi yang diperolehnya.[33]Adapun indikator critical thinking adalah sebagai berikut:[34]

1.    Memformulasikanipertanyaaniyangimengarahkaniinvestigasi.

2.    Argumenisesuaiidenganikebutuhan.

3.    Menunjukkanipersamaanidaniperbedaan.

4.    Mendeduksiisecarailogis.

5.    Menginterpretasiisecaraitepat.

6.    Menganalisisidata.

7.    Membuatigeneralisasi.

8.    Menarikikesimpulan.

9.    Mengevaluasiiberdasarkanifakta.

10.     Memberikanialternatifilain.

11.     Menentukanijalanikeluar.

12.     Memilihikemungkinaniyangiakanidilaksanakan.

b.   Santri

Menurut Nurcholish Majid asal usul perkataan santri ada dua pendapat. Pertama berasal dari bahasa Sanskerta yaitu kata sastri yang artinya melek huruf, pendapat ini menurut Majidiagaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literaly bagi orang Jawa yang berusaha mendalami ajaran agama melalui kitab-kitab yang berbahasa Arab. Kedua, kata santri asalkata dari bahasa Jawa (cantrik) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru kemanapun guru ini pergiimenetap.[35]

Berdasarkan indikator-indikator di atas, menjadi acuan dalam penelitian iniuuntuk mengetahuisseberapa besarppengaruhhmetodemmusyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu.

 

 

 

 

H.  Hipotesis

Adapun hipotesisppositiffpenelitian ini dapat penulisskemukakanbbahwa:

1.    Terdapatppengaruhppositif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu

2.    Terdapat pengaruh positif metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu

3.    Terdapat pengaruh positif keterampilan literasi santri terhadap keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu

Adapun hipotesis positif atau dugaan sementara dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.    Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi

2.    Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi

3.    Jika keterampilan literasi santri memberikan pengaruh terhadap keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka terdapat korelasi

Maka hal tersebut di atas ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking, hipotesisnya diterima.

Adapun hipotesis negatif yang dapat peneliti kemukakan adalah sebagai berikut:

1.    Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi

2.    Jika metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning tidak memberikan pengaruh terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi

3.    Jika keterampilan literasi santri tidak memberikikan pengaruh terhadap keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu, maka tidak terdapat korelasi

Maka hal tersebut di atas tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking, hipotesisnya ditolak.

Dalam penelitian ini hipotesis statistiknya adalah:

1.    Hipotesis (Ha): ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)

2.    Hipotesis (Ho): tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2)

I. SistematikaaPenulisan

Adapunssistematikappenulisantterbagiddalammbeberapabbabddan subbbab sebagaiiberikut:

Babbpertama,ppendahuluan, padappendahuluan akanddikemukakannlatar belakangmmasalah,iidentifikasi danbbatasannmasalah, rumusannmasalah, tujuan penelitian,kkegunaan,ppenelitian terdahulu,kkerangka pemikiran, hipotesis, dan sistematikappenulisan.

Bab kedua, kajian pustaka, bab ini menguarikan teori-teori tentang pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap keterampilan literasi dan critical thinking.

Bab ketiga, akan diurai tentang metodologi penelitian, secara umum bab ini terdiri dari tempat dan waktu penelitian, profil Pesantren Kebon Jambu, metodologippenelitian,ppopulasi danssampel, instrumen penelitian, ujiiinstrumen, teknikaanalisis dataadan uji hipotesis.

Bab keempat, akan dibahas tentang temuan dan pembahasan penelitian pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di pesantren kebon jambu.

Babbkelima,ipenutupiyangiberisiikesimpulanidanirekomendasi.


BAB II

TINJAUAN TEORITIS PENGARUH METODE MUSYAWARAH DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING TERHADAP KETERAMPILAN LITERASI DAN CRITICAL THINKING

             

             

 

A.  Pengaruh Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

1.    Teori Metode Musyawarah

Metode musyawarah dikategorikan sebagai pembelajaran kelompok berbasis masalah, teori yang melandasi metode musyawarah atau pembelajaran kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa, sebagaimana yang dinyatakan oleh Slavin bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif[36] yang anggotanya empat orang atau lebih dengan struktur kelompok heterogen.[37]

Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori konstruktivistik Piaget dan Vigotsky. Menurut sudut pandang teori konstruktivistik Piaget lebih menekankan kepada kondisi individu, belajar yang baik yaitu ketika siswa aktif


mencari informasi yang mereka perlukan dan sekaligus mencari pemecahan masalahnya sendiri.[38] Sedangkan menurut Vigotsky yakni bahwa fase mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul pada percakapan atau kerjasama antar individu, sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap pada individu tersebut. Implikasi dari teori Vigotsky dikehendakinya susunan kelas berbentuk kooperatif.[39] Dengan demikian pembelajaran kooperatif bergantung pada efektifitas kelompok-kelompok siswa. Pernyataan Piaget dan Vigotsky tersebut sesuai apa yang dinyatakan oleh Dhofier bahwa dalam musyawarah para siswa harus mempelajari sendiri kitab-kitab klasik untuk mencari pemecahan masalah yang telah dipertanyakan beberapa hari sebelum musyawarah dimulai pada masing-masing kelompok sebagai dasar argumentasi yang mereka pakai.[40] Menurut Lailatul Fitriyah (2019) pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok belajar atau bisa disebut dengan musyawarah tersebut yang kemudian melatih keterampilan peserta didik mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Latihan menyimak terjadi ketika peserta didik mendengarkan apa yang disampaikan oleh teman musyawarah yang lain, latihan berbicara terjadi ketika peserta didik menyampaikan argumentasinya dan latihan menulis terjadi ketika menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.[41]Sementara untuk mengungkapkan argumentasi yang dapat diterima, dibutuhkan adanya kemampuan berpikir kritis dan literasi membaca teks-teks kitab kuning yang menjadi rujukan pembahasan masalah.

Pembelajaran menggunakan metode musyawarah guru diharapkan membentuk kelompok-kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajaranya sendiri dan teman-teman satu kelompoknya. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman-teman satu anggota untuk mempelajarinya juga. Pembelajaran kooperatif mempunyai pendekatan pembelajaran diantaranya STAD (Student Teams Achievement Divisions), kelas jigsaw, belajar bersama, investigasi kelompok, dan penulisan kooperatif.[42]

Pendekatan pembelajaran kooperatif pada metode musyawarah yang dipakai adalah belajar bersama, pendekatan belajar bersama diciptakan oleh David dan Roger Johnson (1994) pendekatan ini mengandung empat komponen: (1) interaksi tatap muka; (2) interdepedensi positif; (3) akuntabilitas individual; dan (4) pengembangan keahlian kelompok interpersonal. Jadi selain aspek prestasi seperti digagas Slavin, pendekatan pembejaran kooperatif Johnson ini juga difokuskan pada perkembangan sosial emosional dan interaksi kelompok. Dalam belajar bersama, murid bekerja dalam kelompok heterogen terdiri dari empat sampai lima anggota untuk menyelesaikan tugas yang menekankan pada diskusi dan team building.[43]

2.    Pengertian Metode Musyawarah

              Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa arab metode disebut dengan thariqat, sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran.[44]

   Pendidikan di pondok pesantren mempunyai metode pembelajaran dalam mengkaji kitab kuning,[45] salah satunya adalah metode musyawarah. Metode musyawarah atau dalam bahasa lain bahtsul masa’il merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar, sebagai mana yang dikatakan oleh Dhofier bahwa musyawarah,..sistem..pengajaran sangat...berbeda dari...sistemsorogan dan...bandungan...Para...siswa..harus mempelajari...sendiri kitab-kitab...yang ditunjuk dan dirujuk...Kyai memimpin kelas musyawarah..seperti dalam suatu..seminar dan lebih..banyak dalam bentuk tanya..jawab, biasanya hampir..seluruhnya diselenggarakan..dalam bahasa..Arab, dan merupakan..latihan bagi..para siswa untuk..menguji keterampilannya...dalam menyadap sumber-sumber..argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik.[46]

Seringkali, pimpinan...pesantren beberapa hari sebelum musyawarah dimulai menyiapkan...sejumlah pertanyaan bagi peserta kelompok musyawarah yang akan bersidang. Hari-hari..siding dijadwal..mingguan. Hari-hari..sebelum acaraidiskusi,ipesertaimusyawarah.biasanyaimenyelenggarakanidiskusi terlebih dahulu dan menunjuk..salah seorang juru..bicara. Diskusi..dalam kelas musyawarah..bernuansa bebas. Mereka..yang mengajukan pendapat..diminta untuk menyebutkan..sumber sebagai dasar..argumentasi.[47]Musyawarah juga dilakukan untuk membahas materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya. Musyawarah pada bentuk kedua ini biasa digunakan oleh santri tingkat menengah untuk membedah topik materi tertentu.[48]

 

 

3.    Komponen Metode Musyawarah

              Pada setiap musyawarah yang..dilaksanakan santri..tidak bisa..terlepas dari lima..komponen. Komponen-komponen tersebut..adalah:[49]

1.    Moderator

              Moderator..adalah seseorang yang..ditunjuk untuk memimpin jalannya..kegiatan..musyawarah. Seorang..moderator..diharuskan.orang.yang benar-benarimemiliki kecakapaniberdiskusiisekaligus mempunyaiiilmuiyang cukup terhadap..persoalan yang..dibahas. Sebab tugas..moderator tidak hanya sebagai pengatur jalannya musyawarah, akan tetapi juga..harus bisa memahami, mengkordinir dan..menyimpulkan..berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana..dan mudah dipahami oleh peserta.musyawarah.

2.    Notulen

              Notulen..merupakan.seorang  yang bertugas..mencatat semua..hasil musyawarah berupa referensi yang digunakan oleh peserta..dan..musahih. Hasil..catatan dari..notulen selanjutnya..diarsipkan untuk..dokumentasi.

3.    Peserta

              Peserta..merupakan..orang..yang andil.dalam musyawarah. Sebelum pelaksanaan musyawarah..para peserta telah..disodori persoalan yang akan dibahas dalam..musyawarah..beberapa hari..sebelumnya..Karena..itu,..dalam pelaksanaan..musyawarah..para peserta biasanya membawa sebanyak mungkin..referensi untuk dijadikan..sumber..argumentasi.

4.    Perumus

              Perumus...merupakan..orang..yang...merangkum...jawaban-jawaban dan argumentasi..yang..sudah...disampaikan dalam musyawarah...Perumus bertugas..meredaksikan...keputusan musyawarah dalam redaksi yang sederhana...sehingga dapat difahami...oleh semua pihak...Perumus..juga berkewajiban..memilih..argumentasi..yang sangat..relevan dari..ta’bir atau dalil..yang..dikemukakan..peserta.

5.    Pentashih

              Pentashih merupakani seorangiyangiimenjadiipengarah. Pada Posisi pentashih dalam...musyawarah..sangat...strategis,..karena...mereka..menjadi pihak..yang..memiliki..otoritas.memutuskan.hasil kajian dalam musyawarah. Mereka....yang...menduduki...posisi...tersebut dipersyaratkan mempunyai keilmuan....yang...baik...dandiatas...rata-rata. Biasanya...posisi tersebut diduduki..oleh..kyai,..ustadz atau santri senior, bergantung.level musyawarah yang..diselenggarakan.

 

 

 

 

 

4.    Metodologi Pengambilan Keputusan Metode Musyawarah

Pengambilan..keputusan..dalam.musyawarah.ditentukan.pada.kerangka bermadzhab..dengan..mengikuti..pendapat yang.sudah jadi dalam ruang.lingkup mazhab..tertentu. Karenanya..pengambilan..keputusan jawaban..sesuai dengan prosedur..yang disusun..dalam urutan..sebagai..berikut:[50]

1.    Keputusan..musyawarah..bersumber.dari.kitab-kitab.Madhahib al-Arba'ah. Diluar.Madhahib al-Arba’ah.tidak boleh.dipakai sebab..madzhab-madzhab diluar....itu...belumpernah...dibukukan,....namun...untuk permasalahan-permasalahan..yang...bisa..ditemukan..syarat..dan..rukunnya..boleh diikuti meskipun..diluar..Madhahib..al-Arba’ah.

2.    Jika..dalam menyelesaikan..suatu kasus...kemudian tidak ada satupun pendapat yang dianggap dapat menyelaikan suatu permasalahan, maka dianjurkan dengan metode ilhaq al-masa’il binaza ‘iriha, namun hal tersebut untuk..orang-orang yang.sudah mencapai derajat.faqih (ahli bidang fikih) diperbolehkan menggunakan metode..ilhaq dengan syarat masalah-masalah yang diilhaqkan bukan masalah-masalah yang..termasuk..kategori sulit..(membutuhkan..pemikiran..yang panjang untuk menemukan titik persamaannya)..Begitu pula seorang faqih diperbolehkan memakai..kaidah-kaidah..mazhab yang bersifat..umum.

3.    Tidak..boleh..menggunakan..ta'bir berupa..ayat-ayat..al-qur’an..atau..hadis yang masih..mentah, tanpa interpretrasi..dari para ulama yang..memenuhi kriteria..ahli dalam bidang ilmu tafsir.

4.    Jika menggunakan madzhab diluar Syafi’i agar diperjelas syarat dan rukun yang bersangkutan dengan masalah demikian berdasarkan madzhab yang dipilih, karena termasuk salah satu persyaratan taqlid adalah mesti mengetahui syarat, rukun, dan kewajiban yang berkaitan dengan madzhab tersebut.

5.    Menurut ulama fikih sosial dan hasil keputusan Nahdlatul Ulama, qaul da’if sebaiknya dipakai sebagai pegangan untuk memutuskan suatu masalah yang telah berlaku di masyarakat. Karena keputusan musyawarah bukanlah kategori fatwa melainkan sekedar memberikan petunjuk dengan catatan pendapat yang dijadikan petunjuk tersebut tidak sangat lemah sekali.

6.    Teks-teks pendapat ahli fikih berkaitan dengan suatu permasalahan yang terjadi perbedaan atau saling bertentangan, jika masih bisa dicarikan titik temu, maka wajib dicarikan titik temunya.

7.    Menurut qoul mu’tamad, pendapat yang masih mutlak harus difahami menurut kemutlakannya, meskipun ada sebagian pendapat ulama yang menentangnya.

8.    Pada kasus saat jawaban dianggap cukup oleh satu pendapat yang terdapat dalam satu kitab, maka boleh dipakai pendapat tersebut sesusi yang telah diterangkan dalam kitab tersebut.

Prosedur memilih pendapat dilakukan sebagai berikut:

1.    Saat dijumpai beberapa pendapat dalam satu masalah yang sama maka diusahakan memilih salah satu pendapat.

2.    Dalam memilih pendapat tersebut lebih diprioritaskan pada pendapat yang lebih maslahat atau yang lebih kuat.

5.    Ketentuan Metode Musyawarah

untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode musyawarah, kyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[51]

1.    Peserta musyawarah merupakan santri yang berada pada tingkatan menengah atau tinggi.

2.    Peserta musyawarah tidak mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Hal ini dimaksudkan dalam usaha mengurangi kegagalan musyawarah.

3.    Topik atau persoalan ditentukan lebih dahulu oleh kyai atau ustadz pada pertemuan sebelumnya.

4.    Pada beberapa pesantren yang mempunyai santri tingkat tinggi, musyawarah biasanya dilakukan secara terjadwal sebagai latihan untuk para santri dalam mengasah keterampilan berfikir kritias dan keterampilan menyadap literasi kitab kuning.

Kegiatan musyawarah dimulai dengan penyajian masalah oleh narasumber yang menguasai permasalahan yang akan diangkat. Sesudah narasumber menyajikan masalah, selanjutnya moderator mempersilahkan peserta tiap kelompok untuk membahas dan memberikan argumentasi. Argumentasi yang di jelaskan mesti menyertakan referensi dari kitab kuning  yang mereka baca dan pelajari. Diakhiri dengan pembahasan, kesimpulan akhir, kemudian akan dirumuskan oleh tim perumus atau musohih yang kemudian disahkan oleh majlis pengesahan.[52]

6.    Indikator Metode Musyawarah

Indikator pencapaian metode musyawarah kitab kuning antara lain sebagai berikut:[53]

1.    Toleransi..berpendapat.

2.    Berani..menyampaikan..gagasan..atau..ide.

3.    Berfikir..dengan..objektif,..rasional,..kritis,..argumentatif,..dan..sistematis.

4.    Mebentuk..wawasan..yang..luas..dan..lebih..komprehensif.

5.    Mengasah..daya...kritis...terhadap...suatupernyataan dan kesadaran membangun...alternatifnya.

B.  Keterampilan Literasi Kitab Kuning

1.    Teori Keterampilan Literasi Kitab Kuning

Keterampilan literasi kitab kuning menggunakan teori dari Yunus Abidin yang menggagas istilah multiliterasi. Pada konsep literasi ini, keterampilan literasi kususnya membaca..diartikan..sebagai..usaha untuk memahami, menggunakan,..merefleksi,..dan..melibatkan..berbagai..jenis teks untuk..mencapai tujuan.[54] Keterampilan literasi pada..pembelajaran..kitab kuning..mewujud..pada..metode..pembelajaran..musyawarah..diperoleh dengan membaca..teks...kitab..kuning. Kemampuan membaca teks yang baik memungkinkan...untuk...membaca...beragam...referensi kitab kuning yang menjadi...rujukan dan..informasi berkaitan...dengan...penjelasan-penjelasan permasalah musyawarah. Dalam pengertian ini, kegiatan membaca membutuhkan..kemampuan..menganalisis..dan.menyintesis.informasi, sehingga pemahaman..yang..dihasilkan..memiliki..struktur..makna..yang..kompleks.

Lebih..lanjut,..upaya..menganalisis..dan..menyintesis.informasi hanya dapat..dilakukan..jika..seorang..pembaca..terlibat..langsung..dengan..teks, atau termotivasi..untuk..membaca..teks..tersebut. Teks.yang.dibaca.juga.dapat sangat beragam..baik..dari..segi..isi,..bentuk,..jenis,..maupun..media..yang..digunakan.

Pengertian literasi membaca juga mengandung makna mendalam tersendiri. Frasa dalam rangka mencapai tujuan mengindikasikan bahwa membaca tidak terlepas dari tujuan apa yang diharapkan untuk dicapai oleh pembacanya. Dengan kata lain, membaca harus dilakukan dengan berdasarkan pada tujuan membaca tertentu. Membaca juga harus dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi pembaca seihingga orang tersebut mampu berpartisipasi. Partisipasi ini didasarkan atas teks yang berhasil dipahami secara utuh.[55]

Keterampilan literasi membaca..lebih..berkenaan..dengan konsep membaca..cermat...Menurut..Sisson (2014) membaca..cermat..adalah..proses membaca...yang...dilakukan...secara...berulang...terhadap...teks...yang bersifat kompleks. Hal..ini..bertujuan..untuk..mencapai..tiga..tahap..pemahaman, yakni pemahaman..literal,..pemahaman...inferensi,..dan..pemahaman evaluatif. Guna mencapai..ketiga..level.pemahaman.ini, proses.membaca.dilakukan.berdasarkan kerangka kerja.membaca.cermat.yang..meliputi..aktifitas mengidentifikasikan teks, menetapkan tujuan...membaca,...memilih..model..membaca, mengakses teks, menyelesaikan siklusmembaca...dan...menyajikan pertanyaandan mendiskusikan..isi..teks.

Lebih..lanjut..tentang..membaca..cermat, Lapp..(2015) menyatakan bahwa membaca..cermat..merupakan..proses..membaca..yang..sangat penting karena..sejalandengan..standar..pembelajaran...literasi..dewasa iniMelalui kegiatan...membaca...cermat,...pembaca...diharapkan dapatmengembangkan kemampuannya..dalam..memahami..isi..teks..secara..umum, menemukan..detail kunci..teks,.mengembangkan.kosokata.dan.memahami.struktur teks,.memahami tujuan..penulis,..membuat..inferensi..isi..bacaan,..serta mengembangkan opini, argumen,..dan..menghubungkan..berbagai.teks. Berdasarkan fungsinya,.melalui membaca..cermat..inferensi..tidak..hanya..akan..beroleh pemahamandangkal terhadap..teks..kompleks,.namun.lebih.jauh.mampu.mengevaluasi beragam.teks yang..kompleks.[56]

Literasi..yang..dalam..bahasa..Inggrisnya..literacy.berasal.dari bahasa Latin..yaitu..litera..(huruf)..yang..pengertiannya..melibatkan..pengertian sistem-sistem..tulisan..konvensi-konvensi yang..menyertainya, literasi juga...sering diartikan..sebagai..keaksaraan.[57]Jika...dilihat..dari...maknaharfiah, menurut Adibah (2018) literasi..berarti..keterampilan..seseorang..untuk..membaca dan menulis. Seringkali orang..yang..bisa..membaca..dan..menulis..disebut literat, sedangkan..orang..yang..tidak..bisa..membaca..dan..menulis.disebut iliterat.atau buta..aksara.[58] Menurut Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar.[59] Kirsch juga mengemukakan bahwa literasi pada dasarnya adalah kemampuan menggunakan informasi cetak atau tertulis untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi.[60] Sedangkan menurut Evelyn Williams English, literasi diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis, dan memecahkan masalah.[61]

Jadi keterampilan literasi merupakan..keterampilan..tertentu..yang diperlukan..untuk..mendapatkan..informasi, sehingga.dapat.berpartisipasi.dalam meyampaikan sebuah pendapat atas teks yang berhasil dipahami. Tradisi literasi bisa diamati dari aktifitas pribadi seseorang, oleh karenanya ketika berbicara tradisi literasi juga berkaitan erat dengan pendidikan, kecendekiawanan dan status sosial seseorang.[62]

2.    Jenis Literasi

Menurut.Ibnu.Adji.Setyawan[63] istilah.literasi.sudah.mulai.digunakan dalam..skala..yang..lebih..luas..tetapi..tetap..merujuk..pada kemampuan atau kompetensi..dasar..literasi..yakni..kemampuan..membaca.serta.menulis. Intinya, hal..yang..paling..penting..dari..istilah.literasi.adalah.bebas.buta aksara.supaya bisa..memahami..semua...konsep...secara...fungsional, sedangkan...carauntuk mendapatkan..kemampuan..literasi..ini..adalah..dengan melaluipendidikan. Sejauh..ini,..terdapat..9..macam..literasi,..antara..lain:

1.      Literasi..kesehatan..merupakan.kemampuan.untuk.memperoleh, mengolah serta.memahami.informasi.dasar.mengenai.kesehatan.serta layananlayanan apa..saja..yang..diperlukan..di..dalam..membuat.keputusan kesehatan.yang tepat.

2.      Literasi.finansial.yakni.kemampuan.di.dalam.membuat.penilaian terhadap informasi..serta..keputusan..yang..efektif...pada...penggunaan danjuga pengelolaan..uang,..dimanakemampuanyangdimaksud mencakup berbagai..hal..yang...ada..kaitannya...dengan..bidang..keuangan.

3.      Literasi..digital merupakan...kemampuan...dasar...secara teknis...untuk menjalankan..komputer..serta..internet..yang.ditambah dengan.memahami serta..mampu..berpikir..kritis..dan..juga..melakukan..evaluasi pada..media digital..dan..bisa..merancang..konten..komunikasi.

4.      Literasi..data..merupakan..kemampuan.untuk.mendapatkan.informasi dari data,..lebih..tepatnya..kemampuan.untuk.memahami.kompleksitas analisis data.

5.      Literasiiiikritikaluumerupakanuusuatupppendekatanooinstruksional yang menganjurkan..untuk..adopsi..perspektif..secara..kritis terhadap..teks,.atau dengan..kata..lain,..jenis..literasi..yang..satu..ini..bisa kita..pahami.sebagai kemampuan...untuk...mendorongparapembacasupayabisa aktif menganalisisteks..dan..juga.mengungkapkan..pesan.yang.menjadi dasar argumentasi..teks.

6.      Literasi..visual..merupakan kemampuaniuntukimenafsirkan,klmenciptakan dan..menegosiasikan makna dari informasi yang berbentuk gambar visual. Literasi visual bisa juga kita artikan sebagai kemampuan dasar di dalam menginterpretasikan teks yang tertulis menjadi interpretasi dengan produk desain visual seperti video atau gambar.

7.      Literasi.teknologi..merupakan kemampuan seseorang.untuk bekerjaisecara independen maupun bekerjasama dengan orang lain secara efektif, penuh tanggung jawab dan tepat dengan menggunakan instrumen teknologi untuk mendapat, mengelola, kemudian mengintegrasikan, mengevaluasi, membuat serta mengkomunikasikan informasi.

8.      Literasiistatistikimerupakanuukemampuanuntukmemahami statistik. Pemahaman..mengenai..ini..memang..diperlukan..oleh.masyarakat supaya bisa...memahami..materi-materi..yang..dipublikasikan..oleh..media.

9.      Literasi..informasi..merupakan..kemampuan..yang..dimiliki.oleh seseorang di.dalam.mengenali.kapankah.suatu.informasi.diperlukan.dan kemampuan untuk.menemukan.serta.mengevaluasi,.kemudian.menggunakannya secara efektif.dan.mampu.mengkomunikasikan..informasi..yang..dimaksud dalam berbagai..format..yang..jelas..dan..mudah..dipahami.

 

 

 

Sesuai uraian di atas keterampilan literasi kitab kuning tergolong pada keterampilan literasi kritikal dan informasi karena dalam kegiatan mencari referensi dalam musyawarah tidak hanya membaca kitab kuning tetapi mendorong pembaca...aktif..menganalisis..teks..dan..jugamengungkapkan informasi..pesan..yang..menjadi..dasar..argumentasi.

Sedangkan menurut Ferguson,[64] literasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

1.    Literasi dasar (basic literacy), literasi jenis ini bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

2.    Literasirrperpustakaanrr(library literacy),rrlebihkklanjut,hsetelahlmemiliki kemampuankkdasarmmmakallliterasikperpustakaan.untuk mengoptimalkan literasikkperpustakaanuuyangakada. Maksudnya,kkpemahamanuitentang keberadaanmperpustakaanyysebagaikyusalahunsatu akses mendapatkan informasi.ePadamudasarnyakliterasi.perpustakaan,iantara lain, memberikan pemahamanukcaraimembedakanibacaanufiksiadan.nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensiajdankkperiodikal,ggmemahamillDewey DecimaliSystem sebagaikkklasifikasiupengetahuaniyangimemudahkan dalamimenggunakan perpustakaan, memahamililpenggunaankkkatalogmmdanmpengindeksan, hinggakmemilikijpengetahuankhdalamimemahamiiinformasi ketikaisedang menyelesaikankksebuahuhtulisan,lkpenelitian,mpekerjaan, atauomengatasi masalah. 

3.    Literasikkmediao(media literacy),yyyaitukukemampuankuntukimengetahui berbagaiubentukiumediaklyangkuberbeda,husepertikomedialucetak, media elektroniko(mediaoradio,umediautelevisi),omediakdigitalk(media internet), dankmemahamiktujuankupenggunaannya.kiSecarakogamblang.saat iniibisa dilihataldiomasyarakatobahwaimediailebihosebagaiihiburanisemata. Belum terlaluijauhomemanfaatkanimediaysebagai.alat.untuk.pemenuhan informasi tentangkkpengetahuankdan.memberikanlpersepsiipositifidalam menambah pengetahuan. 

4.    Literasikuteknologioo(technology literacy),oyaituikemampuanomemahami kelengkapanyyangymengikutikteknologiiseperti perantiikeraso(hardware), perantiilunakoo(software),kksertaooetikakdanietiketidalam memanfaatkan teknologi.muBerikutnya,oodapatkjmemahamilteknologikuntuk mencetak, mempresentasikan,oudankumengaksesuiinternet. Dalamoupraktiknya, juga pemahamanmumenggunakanulkomputer (ComputerooLiteracy)myangidi dalamnyaimencakupimenghidupkanidanimematikan komputer,imenyimpan danimengelolaiidata,isertaimenjalankaniprogramiperangkat lunak.oSejalan denganomembanjirnyauinformasipkarena perkembanganooteknologiosaat ini,mdiperlukanopemahamanuyangobaikpdalam mengelolakinformasi yang dibutuhkanomasyarakat.

5.    Literasievisualo(visualoiliteracy),eadalahopemahamanitingkatilanjut antara literasiomediaodanoliterasipteknologi,oyang mengembangkanpkemampuan danokebutuhanpbelajarkdenganpmemanfaatkan materikvisualodanpaudio visualmsecaraokritiskdanllbermartabat. Tafsiroterhadapimateriivisual.yang setiapmharikmembanjiri,llbaikodalamkbentukktercetakodiotelevisi maupun internet,oharuslahpterkelolaoodenganppbaik. Bagaimanapun dilldalamnya banyakonmanipulasioodanpphiburanooyangkkbenar-benarooperlu disaring berdasarkanaketikakidankikepatutan.

Sesuaiouraianodiaatas literasi kitab kuning tergolong pada literasi dasar karena kemampuan berbicara dan membaca berkaitan dengan kemampuan analisis untuk mempersepsikan informasi, mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan dalam musyawarah.

3.    Tingkatan Literasi

Literasi tidaklah seragam karena literasi memiliki tingkatan-tingkatan yang menanjak. Jika seseorang sudah menguasai satu tahapan literasi maka ia memiliki pijakan untuk naik ke tingkatan literasi berikutnya. Wells (1987) menyebutkan bahwa terdapat empat tingkatan literasi, yaitu: performative, functional, informational, dan epistemic. Orang yang tingkat literasinya berada pada tingkat performative, ia mampu membaca dan menulis, serta berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan (bahasa). Pada tingkat functional orang diharapkan dapat menggunakan bahasa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari seperti membaca buku manual. Pada tingkat informational orang diharapkan dapat mengakses pengetahuan dengan bahasa. Sementara pada tingkat epistemic orang dapat mentransformasikan pengetahuan dalam bahasa.[65]

Dengan demikian tingkatan literasi dimulai dari tingkatan paling bawah yaitu performative, functional, informational, dan epistemic.

4.    Keterampilan Literasi

Menurut National Center for Education Statistics (NCES, 2017)[66] terdapat tujuh kunci dasar dalam literasi, yaitu:

1.    Keterampilan mencari teks, mencari teks secara efisien.

2.    Dasar-dasar membaca, menemukan dan mengucapkan dengan lancar.

3.    Keterampilan bahasa, memahami struktur dan maksud kalimat yang berhubungan dengan kalimat lainnya.

4.    Keterampilan          inference, menggambar teks yang sesuai berdasarka inferense.

5.    Keterampilan aplikasi, menerapkan hal baru dengan teliti, disimpulkan, atau informasi dihitung untuk menyelesaikan berbagai tujuan.

6.    Keterampilan mengidentifikasi perhitungan, mengidentifikasi perhitungan-perhitungan yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan kuantitatif.

7.    Keterampilan keahlian perhitungan, keahlian melakukan perhitungan yang diperlukan dengan tangan atau menggunakan mesin kalkulator.

5.    Asas Dasar Penilaian Literasi

Asas dasar penilaian literasi matematika, literasi sains, literasi membaca, maupun literasi menulis menurut Yunus Abidin (2018) adalah:[67]

1.    Berfikir kritis

Konsep berfikir kritis sebenarnya bukanlah konsep baru. Dewey telah memperkenalkan konsep berfikir reflektif sebagai padanan konsep berfikir kritis. Dalam pandangannya, berfikir kritis merupakan pertimbangan aktif, terus-menerus, dan teliti terhadap sebuah keyakinan atau pengetahuan yang diterima, berdasarkan alasan yang mendukungnya dan kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.

 

2.    Berfikir kreatif

                 Keterampilan berpikir kedua yang menjadi standar penilaian literasi adalah keterampilan berpikir kreatif. Secarauumum, berpikir kreatif senantiasapdihubungkanodenganoketerampilankiberpikiroikritis danopemecahanomasalah. Hal ini dipahami karena berpikir kritis juga memiliki hasil akhir berupa argumen kuat atas sebuah informasi yang bersifat multiperspektif. Dalam konteks ini, argumen yang unik, kuat, dan baru menjadi argumen yang berfungsi menambah khazanah ilmu pengetahuan. Letak kreatif dalam hal ini adalah pada domain unik dan baru. Dengan alasan, sebuah pemikiran yang unik dan baru diyakini mengandung kadar kreativitas di dalamnya. Dalam kaitannya dengan pemecahan masalah, pemecahan masalah yang dilakukan dengan cara-cara nontradisional dan nonkonvensional dianggap sebagai pemecahan masalah yang baik. Dalam konteks ini, pemecahan masalah tersebut dapat pula dikatakan sebagai solusi yang mengandung kadar kreativitas.

3.    Berpikir pemecahan masalah

Keterampilan yang ketiga dalam penilaian literasi adalah keterampilan berpikir pemecahan masalah. Dewasa ini, kompetensi pemecahan masalah merupakan tujuan utama proses pendidikan berbagai negara di dunia. Hal ini sejalan dengan keyakinan bahwa pemerolehan dan peningkatan kompetensi pemecahan masalah menjadi dasar bagi siswa untuk belajar di masa depan, berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat, serta untuk melakukan berbagai kegiatan pribadinya. Dalam hal ini, siswa harus mampu menerapkan apa yang telah mereka pelajari ke dalam situasi baru yang akan dialaminya dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kekuatan pemecahan masalah yang dimiliki siswa menjadi hal utama yang akan bermanfaat baginya, dalam menghadapi tantangan dalam hidup dimasa depan.

6.    Indikator Literasi

          Indikator literasilmengukurolimaoaspekpsebagai berikut:[68]

1.    Kemampuannmengambiloinformasi.

2.     Kemampuankmembentukkpemahamanlyangnluas.

3.     Kemampuanamengembangkanpinterpretasi.

4.     Kemampuanpmerefleksikankdannmengevaluasimisioteks.

5.     Kemampuankmerefleksikanadanomengevaluasilbentukpteks.

Kemampuanocmengambilpiinformasioyaitukkkemampuan mengambil informasioyangnkdisajikanooterpisahkkdalameteks. Kemampaun membentuk pemahamaniyang.luas.dan.mengembangkan.interpretasi.menghendaki pembaca untukisecaramfokuskmembangunihubunganoantariinformasiidalam teks. Tugas iniimengharuskan.pembaca.untuk.membentuk,pemahaman.yang.luas, sekaligus mengembangkanlkinterpretasi.ooPadappdasarnya,lkkemampuanknini adalah kemampuanunpembacappuntuklkmengintegrasikanokdan menginterpretasikan berbagaipiinformasikidalamoksebuahkuiteks. Kemampuan merefleksiokdan mengevaluasinkisiokteks, sertakmerefleksiokdanokmengevaluasilbentuk teks, dikelompokkan bersamaokkeokdalamuykategoriokaspekmkmerefleksilkhdan mengevaluasi. Keduanyaomembutuhkanipembacaiuntukumenarik pengetahuan diiluariteksidanimengaitkannyaidenganiapaiyangisedangidibaca. Merefleksikan dankmengevaluasikisimtekslsenantiasakberkenaanldenganisubstansiiteks, serta merefleksimdanimengevaluasiibentukiteksiberkenaanidenganistrukturidan fitur formalosebuahoteks.[69]

C.  Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)

1.    Teori Keterampilan Berfikir Kritis (Critical Thinking)

Keterampilan berfikir kritis (Critical Thinking) dalam pembelajaran kitab kuning menggunakan teori John Dewey. Menurut John Deway berfikir kritis adalah pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dengan menyertakan alasan-alasan yang mendukung dan kesimpulan-kesimpulan yang rasional.[70] Berdasarkan pengertian tersebut, dalam pandangan Dewey menjelaskan bahwa kata kunci berfikir kritis terletak pada kata aktif. Artinya, berfikir kritis merupakan proses aktif dalam memahami dan mengevaluasi sebuah informasi, dan tidak begitu saja menerima semua informasi tersebut. Kata kunci kedua terletak pada kata terus-menerus dan teliti, yakni berfikir kritis adalah proses memikirkan sesuatu secara mendalam sebelum membuat sebuah kesimpulan ataupan membuat kesimpulan akhir. Kata kunci berikutnya adalah alasan, kesimpulan, dan kecenderungan, yang menandakan bahwa konsep berfikir kritis adalah penalaran. Walaupan penalaran bukan satu-satunya aspek berfikir kritis, keterampilan bernalar diyakini sebagai elemen utama bagi terbentuknya keterampilan berfikir kritis.

Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir.yang.aktif.dan bertujuan.kkBerfikirmkritiskmerupakanlsebuahuusahahyanggdilakukan secara terorganisasiuyangoumemahamiuydunialkdenganokhati-hati,omelalui kegiatan menimbang.pemikiran.sendiri,danlpemikiraniorangilainiuntuk memperjelas dan meningkatkan pemahamanoisendiriiuatasoksegalalksesuatu.lkSejalanlkdengan pengertianlkini, ButterworthkjdanlkThwaiteslmenyatakanibahwa berfikirikritis senantiasaiditandaiidenganiadanyaitigaaaktivitasidasar, yakniianalisis, evaluasi, dan argumen. Analisismberartikmengidentifikasikanmnkata-kataikunciosebuah informasi danlmerekonstruksiminformasiitersebut,magarmmampunmenangkap maknaksecaraiutuhodanmmemenuhiuaspekikecukupan. Evaluasi berarti.menilai kekuatan.informasikatasisdasarkibaikimataukkurangkhbaiknyakhargumen yang mendukunghukesimpulankjdalamokinformasiitersebut,.atauiseberapa.kuat bukti yangydisajikaniatasuklaimiyangidisampaikan. Argumenuberartiipenjelasan atau tanggapanyiyangodiberikanuoleheoseseorangutpengkritikkuatasiinformasi yang diperolehnya.[71]

Berdasarkan ketiga aktivitas berfikir kritis diatas, dapat dikemukakan bahwa salahasatutihaloyangomenjadikdasarpkemampuanpberfikirokritiskadalah kemampuankberargumentasi. Kemampuanuberargumentasiosendiri akan sangat berhubungan dengan kemampuan bernalar (berlogika). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa semakin benar logika yang digunakan akan semakin kuat argumentasi yang dibuat. Bertemali dengan konsep ini, Harrison (2009) menyatakankbahwaoargumenusangatiberhubungan dengan.kebenaran, kekuatan logika, danuhal-halpyangomenguatkannya. Kebenaran merupakan bagian dari pernyataan, kekuatan logika merupakan bagian dari argumen (hubungan antara premis dan kesimpulan), dan hal-hal yang menguatkan merupakan properti menyeluruh atas semua argumen. Berdasarkan kenyataan ini, fokus utama berfikir kritis padaidasarnyaoberkenaanodenganpbagaimanapsebuahuargumen dibunyikan.mOlehosebaboitu, keterampilanuberfikirokritisolebihujauhpsering dikaitkanodenganoketerampilanpmenginterpretasi,iketerampilan memverifikasi, danmketerampilanobenalar.

Lebih jauh tentang keterkaitan antara berpikir kritis dan kemampuan berargumen, Rainbolt dan Dwyer menyatakanubahwaoberpikirkkritisoadalah keterampilanomengevaluasiuargumen-argumenlyang dibuatporang lainodengan benar, sertaumembuatisendiri argumen-argumenoyang baikudanibenar. Berpikir kritis juga dapat dikatakan sebagai keterampilan membuat keputusan berdasarkan alasan yangobaikpdanobenar. Keterampilan ini diperolehomelalui serangkaian prosesumerefleksi,umenganalisis,udanomengevaluasiisecara.efektif berbagai isuiatauomasalahoyanguditemukanidalamukehidupan. Melaluioproses ini, akanodiketahui alasan-alasan yang selanjutnya dapat dikatakan sebagai premis, serta akan diperoleh keyakinan yang didukung alasan tersebut yang selanjutnya disebut sebagai sebuah simpulan.

Bertemali dengan tiga aktivitas dasar berpikir kritis, berpikir kritis dapat dipandang sebagai aktivitas berpikir secara analitis dan disengaja, serta melibatkan pemikiran alamiah. Berpikir kritis merupakan upaya mengolah pengetahuan untuk mengidentifikasi hubungan antara disiplin ilmu dalam rangka mencari solusi potensial kreatif, untuk memecahkan masalah tertentu. Seseorang pemikirokritisoakanumenggunakanukemampuanireflektifnyaodalam mengambilukeputusanudanobijaksanaudalamumemecahkan masalahiomelalui kemampuanyammenganalisisosituasi, mengevaluasi argumen danpmenarik kesimpulanoyangootepat. Pemikir kritis memiliki gairah untuk mencari kebenaran bahkan ketika kebenaran tersebut bertentangan dengan keyakinan lama yang dipegangnya.

Facione menyatakan bahwa mendefinisikan berfikir kritis sangat mudah, yakni berfikir kritis adalah kemampuan memberikan jawaban yang bukan bersifat hafalan. Berfikir kritis bukanlah mengingat kembali informasi yang diperoleh secara sederhana, serta bukan pula keterampilan berfikir yang tidak logis dan tidak rasional. Berfikir kritis adalah berfikir reaktif dan naluriah. Seseorangotidak berfikirokritisocenderungolangsungimembuatikesimpulaniatas sebuahpinformasioyangosebenarnyapbelumujelas. Ia akan gagal mengenali bias informasi tersebut dan cenderung tidak mempertimbangkan berbagai perspektif yang mungkin ada. Seseorangoyangikemampuaniberfikirikritisnyairendah,iakan mengalamiukesulitanodalamomengtasiomasalahiatauitantangan. Hal.ini.kareana gagalountukimemahamiidanimengaturifakta-faktaipentingidariusebuah situasi, merasautergangguoolehuinformasiyyangutidakypenting,ykurang tekunuidalam memecahkanomasalahudanomerancangosolusiiyangibersifat samar-samar,iserta tidakosesuaiidenganosituasiotertentu.[72]

Selain sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman, berpikir kritis juga dilandasi oleh sikap dan perilaku seseorang. Bertemali dengan kenyataan ini‚ pemikir kritis adalah seseorang yang memiliki sikap dan perilaku adil, berpikiran terbuka, analitis, reflektif, aktif, skeptis, dan bebas dari Pengaruh pihak lain (merdeka). Dalam konteks ini, pemikir kritis harus siap menerima kenyataan bahwa keyakinan yang dipegangnya selama ini bisa saja harus diubah dengan keyakinan baru. Pemikir kritis bukanlah seseorang yang mendebat segala sesuatu, melainkan hanya mengkritisi hal atau informasi yang tingkat kebenaran bukti dan faktanya rendah. Pemikir kritis adalah orang merdeka yang menyampaikan segala pandangannya dengan hanya berdasar pada pengetahuan dan pengalamannya, dan bukan berdasarkan atas pengaruh orang lain. Sejalan dengan kenyataan ini, berpikir kritis seyogianya tidaklah dilekati nilai negatif, melainkan harus dimaknai dan nilai secara positif. Berpikirakritisaadalahoketerampilanomengevaluasiopengetahuan untukosecara kreatifomengembangkanopengetahuanobaruosehingga keterampilanoinioijuga seringodipadankanodenganoistilahoketerampilanoberpikirokritisokreatif.

Lebih jauh, berpikir kritis adalahovkemampuanasuntuk mempertimbangkanooberbagaioinformasiiyangidiperolehidariiberbagai sumber, memprosesiinformasiiini secaraokreatif dan.logis, menantang.dan mengevaluasi kebenaranminformasiotersebut,omenganalisis dan membuatokesimpulanoakhir yangodianggapoodapatpdipertahankanodanpdibenarkan.oDalampptataran lain, berfikir kritis juga dapat diartikan sebagai keterampilan menganalisis situasi berdasarkan fakta atau peristiwa untuk membuat sebuah keputusan atau kesimpulan dengan mempertimbangkan faktor empati, sejarah, dan budaya. Berpikir kritis juga dapat dikatakan sebagai upaya memahami sebuah subjek, memikirkan kebenaran subjek tersebut, mengapresiasi subjek tersebut. memahami keunggulan dan kelemahannya, serta mengembangkan satu sudut pandang atas subjek tersebut.

Dalamakaitannyaadengan dunia pendidikan, The.Partnership.for.21st CenturyaSkills Trilling dan Fadel mengidentifikasioempatkbidangiketerampilan berpikirokritis,oyakniopenalaran secara efektif,ipenggunaanosistemoberpikir‚  pembuatan penilaian dan keputusan, serta pemecahan masalah. Proses berpikiriiniimengharuskaniseseorangiuntukimenelitiiberbagai sumberiinformasi dan mengidentifikasiiinformasiikuncioyang relevan. Pemikirykritisoadalah seseorangoyangimemilikiorasayinginitahu iyangitinggi, memilikiidedikasiiyang baik dalamtmemahami keinginannyaiuntuk mendapatkan informasi atauibukti yangidapatidipercaya,idan memilikiikemampuan menilaiitujuan secaraireflektif berdasarkanipertimbanganiatasibuktiitertentu. Untuk membuat keputusan dan mengevaluasi dampak dari tindakan yang dipilihnya, pemikir kritis menggunakan beberapa proses berpikir sekaligus.[73]

Keterampilan berfikir kritis (critical thinking) dapat dilatih salah satunya dengan melalui metode musyawarah kitab kuning, karena dalam metode musyawarah kitab kuning dibutuhkan argumentasi. Argumentasi yang disampaikan mengandung proses berpikir yang mengharuskan seseorang untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memilih pendapat yang paling baik dari berbagai kitab kuning yang telah dibaca sebelumnya.

2.    Langkah-Langkah Dalam Berfikir Kritis (Critical Thinking)

                 Sebagai sebuah keterampilan atau kecakapan, berpikir kritis tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat tanpa latihan atau pembiasaan. Karena berpikir kritis adalah sikap (attitude), kebiasaan (habit), keterampilan (skills), dan komitmen untuk terus mempertanyakan sesuatu, satu-satunya jalan untuk memiliki sikap demikian adalah dengan melatih diri dan terus mengembangkannya. Beberapa tahapan atau langkah di bawah ini diusulkan sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan bersiap kritis. Sekali lagi, langkah-langkah ini jangan sekadar dihafal tanpa mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.[74]

                 Dalam mengembangkan berpikir kritis, langkah-langkah berikut perlu dilakukan.

1.    Mengenali masalah, pengenalan terhadap masalah merupakan langkah pertama untuk menunjukkan berpikir kritis. Jangan pernah menanggapi sesuatu, kalau Anda tidak pernah mengenal apa masalah utamanya. Seperti seorang dokter yang tidak mungkin mendiagnosa suatu penyakit tanpa mengenal dan mengerti gejala-gejala penyakit yang diderita pasien, demikian juga seorang yang berpikir kritis harus mengidentiükasi persoalan lebih dulu sebelum menarik kesimpulan atasnya.

2.    Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalah, setelah berhasil mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah mencariicaraimemecahkan masalahitersebut. Pengetahuaniyangilebihiluas danousahaokreatifountukimencarinyaiadalahosesuatuoyangipenting untuk mendukungoberpikirokritis.

3.    Mengumpulkanodan0menyusunisebuahiinformasioyangidiperlukan untuk penyelesaianomasalah,osepertiopengetahuanoyangoluasidiperlukan dalam mengatasiimasalah, demikianihalnyaiinformasiiyangipentingoyangiterkait denganopersoalanoperluodikumpulkan. Informasioyangocukupomembuat seseorangomampuomenilaiosesuatuosecaraotepatodanoakurat.

4.    Mengenaloasumsi-asumsiodan0nilai-nilaioyangitidakidinyatakan, artinya, seorangoberpikirikritisiperluomengetahuiomaksudiatauigagasan-gagasan di0balikosesuatuoyangotidakodinyatakanoolehiorangilain. Di siniidituntut kemampuanoanalisisoyangotajam.

5.    Menggunakan0bahasaoyangotepat,ojelas,odanikhasidalam membicarakan suatuopersoalanoiatauosuatuoihaloiyangoiditerimanya,iistilah-istilah yang gunakanodalamomenanggapiopersoalanoharuslahoberkaitanidengan topik yangidibahas. Janganomenggunakaniistilahiyangisamaisekaliitidakiterkait denganopembahasan. Penggunaanoistilah demikianoakanomengaburkan persoalanodan menambahomasalahobaru.

6.    Mengevaluasiodata danomenilai faktaosertaopernyataan-pernyataan.

7.    Mencermatioadanya hubunganologis antaraomasalah-masalahodengan jawaban-jawabanoyangodiberikan.

8.    Menarikikesimpulan-kesimpulan atauipendapatitentang isuiatauipersoalan sedangodibicarakan.

 

 

 

 

3.    Kemampuan Dasar Berfikir Kritis (Critical Thinking)

Satu halopenting yangisangat ditekankanidalam berpikirikritis dan ini tampakiterutama dalamipemikiran Edward Glaseromaupun Richard W. Paul adalahibahwa berpikir kritis menuntutidipenuhinya beberapa.kemampuan.dasar. Kemampuan-kemampuan.dasar.itu.dapat.diuraikanssecaraisingkat berikut ini:

1.         Kemampuankuntukimenentukan danomengambiloposisi yang tepatidalam mendiskusikanoatau menyoalosebuahoisu. Artinya, terlebih dahulu harus menentukan posisi yang tepat terhadap sebuah permasalahan yang dihadapi. Dengan kata lain, tidak boleh berada dalam posisi yang tidak jelas. Harus menempatkan diri pada tempat yang jelas. Jangan membiarkan diri bimbang dalam menentukan posisi.

2.         Pemikiran yang diberikan harusorelevanodenganotopikpyangpsedang dibicarakan.

3.         Argumenoyang disampaikan harusorasional, denganikata lainiklaimiharus bisaodipertanggung jawabkan secaraorasional.

4.         Denganoalasan-alasanoyangojelas, memutuskanountukomenerima atau menolakosebuahokeputusanoatas klaimoyangodibuat olehoorangylain.

5.         Keputusanotersebutoharusidatangodariodalam diriosendiri danobukan karenaodipengaruhioolehofaktor-faktoroluar.

 

 

 

4.    Komponen Dalam Berfikir Kritis (Critical Thinking)

                          Brookfield mendefinisikan lima aspek dan empat komponen berpikir kritis. Menurutnya, berpikir kritis terdiri dari aspek-aspek aktivitas yang produktif dan positif, berpikir kritis adalah proses bukan hasil, perwujudan berpikir kritis sangat beragam tergantung dari konteksnya, berpikir kritis dapat berupa kejadian yang positif maupun negatif, dan berpikir kritis dapat bersifat emosional dan rasional. Sedangkan komponen berpikir kritis, yaitu:[75]

1.         Identifikasi dan menarik asumsi adalah pusat berpikir kritis.

2.         Menarik pentingnya konteks adalah penting dalam berpikir kritis.

3.         Pemikir kritis mencoba mengimajinasikan dan menggali alternatif.

4.         Mengimajinasikan dan menggali alternatif akan membawa pada skeptisisme reflektif.

5.    Karakteristik Dalam Berfikir Kritis (Critical Thinking)

Berpikir kritis merupakan suatu bagian dari kecakapan praktis, yang dapat membantu seorang individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis ini mempunyai karakteristik tertentu yang dapat dilakukan dan dipahami oleh masing-masing individu. Seifert dan Hoffnung menyebutkan beberapa komponen berpikir kritis, yaitu:[76]

1.    Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkahlangkah logis lainnya secara mental.

2.    Domain specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut.

3.    Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.

Sedangkan menurut Beyer Karakteristik berpikir kritis, dijelaskan secara lengkap sebagai berikut:[77]

1.    Watak, seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang tidak sama, dan akan beralih sikap pada saat terjadi sesuatu argumen yang  menurutnya dianggap benar.

2.    Kriteria,,berfikir.kritispmestiomemilikipsuatupketentuan.atau standarisasi Agarodapatomengarah kesanaimaka mestiimenemukanisuatu hal untuk diputuskaniataukdiyakini.

3.    Argumen, argumenamerupakanopendapatoyangoberdasarkanopadaohasil data. karanaoketerampilanoberfikir kritisomeliputiokegiatanopengenalan, penilaian, dan peninjauanoargumen.

4.    Pertimbangan, merupakanoketerampilanomerangkumosimpulan dariosatu atauobeberapaopremis.

5.    Sudutopandang,omerupakanucarampandang atauointerpretasi terhadap duniapsebagai penentuokontruksi sebuah.makna.

6.    Prosedur penerapan kriteria, prosedurmini mencakupimerumuskan.sebuah masalah,omenentukanosebuahokeputusan,odan.mengidentifikasikan.suatu peluang.

6.      Indikator Critical Thinking

Indikator berfikir kritis menurut Enniss terbagi atas 12 diantaranya sebagai berikut:[78]

1.    Pertanyaanmyangomengarahopadaoinvestigasi

2.    Berargumentasiosesusiosituasi dan kondisi

3.    Dapatnmenunjukanosuatuopersamaanodan0perbedaan

4.    Mendeduksiosecaraologis

5.    Menginterpretasiodenganotepat

6.    Menganalisis data

7.    Membuat generalisasi

8.    Menarik kesimpulan

9.    Mengevaluasi berdasarkan fakta

10.          Memberikan alternatif lain

11.          Menentukan jalan keluar

12.          Memilih kemungkinan yang akan dilaksanakan

D.  Kitab Kuning

1.    Pengertian Kitab Kuning

Kitabokuning secaraobahasa adalahokitab yang berwarna0kuning, dapat dimungkinkan0karena kertas0dalam kitab0tersebut dicetak0berwarna kuning atau0bisa jadi karena0kitab tersebut0disimpan atau digunakan0terlalu lama hingga0kelihatan berwarna0kuning. Ciri0yang lebih0mencolok dari0kitab tersebut adalah0setiap lembarannya0sengaja tidakodijilid, hal tersebut0suapaya memudahkan para0santri untuk0mengambil bagian0yang diperlukan saat mengaji tanpa membawaokitab secara utuh. Sedangkanosecara istilahokitab kuning0dimaknai sebagai0kitab yang0didalamnya berisikan ilmu0agama Islam seperti0akidah, tasawuf,0fikih, nahwu, shorof dll.0Kitab-kitab tersebut ditulis dengan huruf Arab, baik dengan menggunakan bahasa0Arab,aJawa,0Melayu, ataupun Sunda0tanpa adanya harkat atau tanda baca sehingga kitab tersebut juga bisa disebut kitab gundul.[79] Kitab kuning0juga disebut kitab0kuno karena mungkin kitab tersebut di tulis atau dikarang dalam waktu yang0sangat jauh dari kehadirannya0sekarang.

              Pembelajaranpkitab kuning, meskipun bertingkat tapi tetap sepadan dengan berat atau ringannya pembahasan, materi yang terdapat0dalam kitab kung terkadang hampir sama, meskipun pada prinsipnya pada tingkat yang lebih tinggi0terjadi pendalaman dalam0pokok bahasan.[80] Jumlah teks0kitab kuning yang0diterima pesantren sebagai0ortodoks (al-kutub al-mu’tabaroh) pada prinsipnya0terbatas. Ilmu yang terkandung0dalam kitan klasik0tersebut dianggap sesuatu yang0sudah bulat dan0tidak dapat ditambah, hanya0bisa diperjelas dan dirumuskan kembali. Meskipun terdapat0karya-karya baru, namun0kandungannya tidakoberubah.[81]

2.    Sejarah Perkembangan Kitab Kuning

              Sangatlahimungkin sejauhibukti-buktiihistoris yang tersediaidikatakan bahwa kitab kuning menjadi text book, reference, dan kurikulumodalam sistem pendidikan pesantren, kitab kuning seperti yang dikenal sekarang baru ada di abad ke-18 M. bahkan,icukup realistis juga memperkirakan pengajaran kitab kuning secara masal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-19 M, ketika sejumlah ulama Nusantara, khususnya jawa, kembali dariiprogram belajarnya di0Mekkah.[82] Realitasiini0tidak berarti0bahwa kitab0kuning, sebagai0produk intelektual, belum0ada pada masa-masa0awal perkembangan keilmuan0di0Nusantara. Sejarah0mencatat, paling0sejak abad0ke-16 M. Sejumlah0kitab0kuning, baik dengan0menggunakan bahasa0Arab, Melayu, maupun0Jawa, sudah0beredar dan menjadi0bahan informasi dan0kajian mengenai0Islam. Kenyataan ini0menunjukkan bahwa0karakter dan0corak keilmuan0yang dicerminkan0kitab kuning0bagaimanapun0juga tidak0bisa dilepaskan0dari tradisi0intelektual Islam0Nusantara yang0panjang0kira-kira sejak lima0abad sebelum0pembakuan kitab0kuning di0pesantren-pesantren.[83]

              Hal tersebut0diperkuat dengan0pernyataan Martin0Van0Bruinessen bahwa lembaga0pesantren belum0ada sebelum0abad ke-18 tidak0berarti bahwa kitab0kuning tidak dipelajari0sebelumnya. Kitab-kitab0klasik berbahasa0Arab jelas sudah0dikenal dan0dipelajari pada0abad ke-16. Beberapa0kitab pada zaman itu0sudah diterjemahkan0kedalam bahasa0Jawa dan Melayu0sementara beberapa pengarang0Indonesia telah menulis0kitab-kitab dalam0bahasa tersbut dengan gaya0dan isi yang0serupa dengan kitab0ortodoks. Sekitar0tahun 1600, sejumlah0naskah Indonesia0berbahasa0Melayu, Jawa0dan Arab0dibawa0ke Eropa. Mereka0memberi gambaran0berharga, meskipun0belum sempurna, tentang tradisi0keilmuan Islam0di Nusantara0saat0itu.[84]

              Kitab-kitab0yang merupakan0penopang utama0tradisi keilmuan0Islam ditulis0pada abad0ke-10 sampai dengan0abad0ke-15 M. Beberapa0karya penting ditulis0sebelum periode0tersebut, dan beberapa0karya baru0dengan corak yang sama0terus0ditulis, tetapi0sejak akhir0abad ke-15, pemikiran0Islam tidak mengalami0kemajuan yang0berarti. Pola pemikiran0dalam ilmu-ilmu keislaman0tetap0sama.[85] Menurut Taufik0Abdullah yang dikutip0oleh0Affanfi Mochtar[86] pada abad0ke-16 M. ajaran-ajaran0Islam mulai0dalam kehidupan masyarakat0luas, mulai0tingkat atas di pemerintahan0ihingga lapisan masyarakat0kecil. Sejak itulah0kitab kuning0mulai masuk0dan menjadi0teks resmi yang dijadikanopegangan dalam hidup0beragama dan0bermasyarkat. Penulisan-penulisan kitab0kuning juga0mulai dilakukan oleh0ulamaiNusantara, sepertia di0Aceh pada0tahun 1603 M. Bukhari0al-Jauhari sudah0menulis0kitab Tajus-Salathin yang0berisikan teori-teori0mengatur0negara. Kitab inilah0yang diyakini0oleh taufik0Abdullah yang0memiliki peran dalam0merumuskannya ortodoks0kraton di0Nusantara.

              Kemudian,0abad ke-12 H0atau abad0ke-17 M hingga0abad ke-13 H/19 M0adalah masa0keemasan Islamodi Nusantara0dengan lahirnya0ilmuwan muslim dan0ratusan kitab0kuning karya0anak0bangsa. Sebut0saja0Syekh Nawawi0Banten yang0karya-karyanya mewarnai0dinamika intelektual0Islam di0Nusantara, bahkan Asia0Tenggara. Karya0ulama yang dijuluki0Ulama al-Hijaz0oleh ulama di dua kota0suci  Makkah0dan Madinah0ini diperkirakan memiliki0karya kitab lebih0dari0100 buah. Diantara0karyanya0digunakan dalam kurikulum0pesantren-pesantren di0Indonesia dan0Malaysia.[87]

3.    Materi Ajar Kitab Kuning

Kitab-kitabmkuning yang0diajarkan sebagai0materi pembelajaran0di pesantren secara0sederhana dapat0dikelompokkan0kedalam delapan0bidang ilmu, yaitu nahwu0(syntax) dan0sharaf (morfologi), fikih,0ushul fikih,0hadis, tafsir,0tauhid, tasawuf,0dan0etika, dan cabang-cabang lain seperti0tarikh dan balaghah. Kitab-kitab0tersebut meliputi0teks yang0sangat pendek0sampai teks yangssangat panjang terdiri dari0berjilid-jilid tebalnya kitab. Kitab kuning0dapat pula digolongkan0ke dalam tiga0kelompok0tingkatan, yaitu: 1. Kitab0dasar, 2. Kitab0tingkat0menengah, dan 3. Kitab0tingkat0tinggi.[88] Pembelajaran biasanya0berlangsung0mengikuti pola0pengajaran tuntas0kitab yang0dijadikan rujukan0utama suatu0pondok pesantren.[89]

 


BAB III

METODE PENELITIAN

                                  

A.  Tempat Dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy yang terletak di Desa Babakan Kecamatan CiwaringinoKabupaten Cirebon ProvinsioJawahBarat. Untuk waktu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terhitung dari tanggalk20 September sampai 20 Desembero2019. Adapun jadwal penelitian adalah sebagai berikut:

 

 


B.  Profil Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy

1.    Sejarah Singkat Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy

Pondok Kebon0Jambu Al-Islamy0didirikan oleh0KH. Muhammadidan Nyai Hj.0Masriyah0Amva pada0tanggal 07 November01993[90] di0bawah naungan0Yayasan Tunas0Pertiwi. Terletak0di Desa0Babakan0Kecamatan Ciwaringin0Kabupaten0Cirebon.[91] Pengambilan0nama “Kebon Jambu” dilatar belakangi0upaya mengabadikan0aspek sejarahan0geografisnya, di manaidahulu adalah belantara0kebun yang0ditanami pepohonanojambu bijiooleh KH. Amrin Hannan bapak dari Nyai Hj. Masriyah Amva sekitar tahun 1980-an.[92]

Sedangkan0sebutan “Al-Islamy” bukanlah0suatu sebutan yang0tanpa sejarah. Mulanya0nama pondok0ini adalah Kebon0Jambu. Pada masa0awal berdiri, Pondok0Kebon Jambu0menerima kiriman0bantuan buku-buku0dan kitab-kitab0untuk pembuatan0perpustakaan dari0suatu lembaga0pemerintah di Jakarta. Pada0waktu itu0team pengirim0bantuan buku-buku0dan kitab-kitab yangobertugas mencari0alamat kebingungan, setelah0berkeliling0mencari-cari pondok yang0bernama Pondok0Al-Islamy di desa0Babakan0kecamatan Ciwaringin0kabupaten Cirebon0ternyata tidak0ditemukan. Akhirnya0mereka berinisiatif untuk mendatangi balai desa Babakan dan menanyakan langsung0kepada aparat0desa, ternyata0aparat desa0tidak mengetahui0nama Pondok0Al-Islamy (karena0memang0tidak0ada). Setelah0itu, ada0dari salah satu aparat0yang menanyakan, siapa0nama0pengasuhnya, disebutkanlah0nama KH.iMuhammad, maka0jadi jelaslah, alamat0yang mungkin0dimaksud pengirim0tersebut0adalah Pondok0Kebon0Jambu (karena0hanya ada0satu nama0pengasuh KH. Muhammad0pada0masa0itu). Setelah0kejadian itu, Pondok0Kebon Jambu diberi0tambahan nama menjadi0Pondok Kebon0Jambu0Al-Islamy, hal ini dilakukan0agar laporan0pengiriman buku-buku0dan kitab-kitab0telah sampai pada0alamat yang0dituju, yaitu Pondok0Al-Islamy alias0Pondok KeboniJambu Al-Islamy0yang diasuh0oleh KH.0Muhammad.[93]

Sama seperti pondok pesantren lainnya, Pondok Kebon Jambu mengajarkan kitab-kitab klasik atau yang biasa disebut dengan kitab kuning sebagai kurikulumnya, dengan menggunakan metode pengajaran klasikal khas pesantren seperti bandungan, sorogan, dan musyawarah. Pondok Kebon Jambu termasuk dalam kategori pesanten khalaf dimana0pondok pesantren0dengan pendekatan0modern, melalui0satuan pendidikanimadrasah, maupunipendidikan Formal0ataupun yang lainnya, tetapi tetap mempertahankan pendekatan klasikal khas pesantren. Pembelajaran0pada0pondok pesantren0khalaf0juga dilakukan0secara berjenjang0dan0berkesinambungan, dengan0satuan0program yang0didasarkan0pada0satuan0waktu, seperti0catur0wulan,0semester,0tahun ataupun0kelas dan0seterusnya.[94]

Di Pondok Kebon Jambu terdapat  madrasah yang dulu dikenal dengan Madrasah Tahsinul Akhlaq Assalafiyah (MTAS), sekarang berganti nama menjadi Madrasah Tahsinul Akhlaq Kebon Jambu (MTAKJ).[95] Dan juga terdapat sekolah formal seperti SMPTP, MATP dan Ma’had Aly Kebon Jambu.[96] Tidak hanya itu Pondok Kebon Jambu menerapkan sebuah sistem pengajaran kitab kuning di luar pendidkan Madrasah dan pendidkan formal berupa jenjang kelas dari mulai tingkat persiapan lalu naik ke tingkat satu (fasholatan) hingga tingkat enam (fathul mu’in). Kenaikan tingkatan ini dilakukan setiap tahunnya dengan seleksi dan ujian semester setiap enam bulan sekali yang dilakuan sangat ketat.[97]

 

 

 

 

 

2.      Musyawarah di Pesantren Kebon Jambu

Sebuah0model pembelajaran0akan berjalan0dengan maksimal0apabila didukung oleh0sistem yangibaik.iKarenanya, diiPondokiKebon Jambuidibentuk suatuilembaga khususountuk mengakomodir0kegiatan musyawarah0yaitu Majelis Musyawaroh (MAJROH). Lembaga0ini sebagai0manifestasi0program kerja0Departemen Musyawarah0Pondok Kebon Jambu. Dalam0program kerjanya0departemen0ini0bertugas (1) Meningkatkan0kualitas0musyawarah, (2) Mengadakan0musyawarah0shughro satu bulan sekali setiap selasa wage, dan musyawarah kubro satu tahun dua kali se-wilayah Pesantren Babakan Ciwaringin, dan musyawarah yang biasa disebut dengan Bahtsul Masail se-wilayah III Ciayumajakuning ataupun Se-Jawa Barat (jangka panjang pra akhirussanah) (3) Membukukan0hasil musyawarah0serta mengumumkan0pada publik0dan (4) Meningkatkan0pemantauan musyawarah0kitab0kuning.

Majelis Musyawaroh (MAJROH) dalam kinerjanya akan bersinergi dengan pengurus madrasa, Pendidikan Pondok Kebon Jambu dan organisasi santri di0semua0tingkatan. Dimana pada masing-masing0pengurus0madrasah, pengurus pendidikan Pondok dan0organisasi santri di kelas0juga0memiliki semacam0seksi khusus0yang menangani0musyawarah dengan0program0kerja yang hampir0sama dengan Majelis Musyawaroh.

 

 

Di Pondok Kebon Jambu, musyawarah menjadi salah satu forum diskusi yang sering dilakukan oleh para santri, dengan eksistensi memecahkan sebuah masalah baik itu yang sudah terungkap dalam ta’bir-ta’bir kitab salaf atau masalah-masalah kekinian yang belum terdeteksi hukumnya.

Sebetulnya metode musyawarah ini, diselenggarakan hampir oleh seluruh pondok pesantren Babakan. Ada yang menjadi program harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan, tergantung dari jadwal yang dibuat oleh pengurus pondok setempat. Karena musyawarah sebagai wadah diskusi yang paling efektif di pondok pesantren. Dengan adanya musyawarah santri bisa lebih berkembang dalam pemikiran dan pengetahuanya untuk memahami masalah-masalah agama yang di hadapi masyarakat modern. Seperti yang biasa diketahui bahwa masih banyak permasalahan kontemporer yang belum terbahas secara mendetail di dalam Al-Quran dan Al-Hadist, Ijma, ataupun Qiyas sehingga dengan adanya Musyawarah permasalahan-permasalahan tersebut bisa terjawab secara mendetail dalam musyawarah kitab kuning.

Musyawarah kitab kuning di Pondok Kebon Jambu sangat digemari oleh para santri dibandingkan dengan metode sorogan atau bandungan, karena didalam musyawarah antara santri satu dengan yang lain bisa saling beradu argumentasi tentang masalah yang di bahas, dan saling menguatkan pendapatnya masing-masing yang tentunya mempunyai dasar untuk mempertahankan argumentasinya, dengan cara ini santri bisa berfikir kritis dan menambah kemampuan literasi keilmuan baik dalam hal kecerdasan intelektual maupun emosionalnya.

Sementara itu kyai menggunkan forum musyawarah bertujuan untuk membahas masalah-masalah waqiiyah yang dicarikan dalilnya didalam kitab-kitab fikih yang populer disebut dengan kutubul mu’tabaroh ‘ala madzahibul arba’ah, didalam kitab tersebut terdapat banyak perbedaan pendapat (khilafiyyah) antara pendapat yang satu dengan yang lain, ada yang membolehkan, ada yang memakruhkan, bahkan ada yang mengharamkan, oleh karena itu perlu dibahas bersama santri dengan santri yang lain. Mana pendapat yang lebih kuat dan mana pendapat yang lemah, dengan adanya pembahasan ini para santri bisa saling mufakat dan membuahkan hasil keputusan yang memuaskan.

Di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy kegiatan musyawarah sudah ada sejak awal berdirinya. pada perkembangannya, kegiatan musyawarah semakin di perbaharui, dengan tujuan untuk melestarikan warisan khazanah keilmuan Islam dan menumbuhkan gairah belajar para santri  dalam mempelajari kitab kuning. Musyawarah ini juga diharapkan para santri mampu untuk menganalisa masalah dengan sudut pandang fikih dan mampu memberikan solusi yang sesuai dengan kemaslahatan umum yang lebih kompleks.[98]

 

3.    Majlis Musyawaroh (MAJROH)

          Kegiatan MAJROH merupakan rutinitas Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan merupakan hasil rapat panitia Majroh 1440-1441 H. Peserta Majlis Musyawaroh adalah seluruh tingkat empat, lima, enam yang berada di Pondok Kebon Jambu dan MTAKJ, Pondok Jambu Putri, Ma’had aly, Pondok Melati, Pondok Assanusi Putra dan Pondok Pesanten yang dapat undangan musyawarah.

Kegiatan MAJROH diawalioidengan penyajian0masalah oleh0nara sumber0yang0menguasai persoalan0yang diangkat. Setelah0nara0sumber menyajikan0masalah yang0sebenarnya, moderator0mempersilahkan0peserta untuk0membahas dan0memberikan pendapatnya0disertai dengan0argumen-argumennya0masing-masing, dimana0setiap pendapat0harus dilengkapiidengan argumen0dari pendapat0lain. Argumen0yangodiutarakan diambil0dari0kitab-kitab0kuning yang0mereka0pelajari. Diakhiri0denganipembahasan, kesimpulan akhir0dan akan0dirumuskan oleh0tim perumus0atau musohih0untukikemudian disahkan0oleh majlis0tashih (majlis0pengesahan).[99]

 

 

 

 

4.    Komponen Majlis Musyawaroh Pesantren Kebon Jambu

Pada setiap musyawarah yang dilakukanooleh paraosantri tidakobisa dilepaskanodari dariolima komponenoutama. Masing-masingoikomponen bekerjaoiiosama dalamo mensukseskanoijalannyaokegiatan musyawarah. Komponen-komponenotersebutoadalah:[100]

1.    Moderator

              Moderatoroadalah seseorang0yang ditunjukoiuntukoomemimpin jalannyaoikegiatanomusyawarah. Seorangomoderator diharuskanoorang yang benar-benaromemiliki kecakapanoberdiskusi sekaligusomempunyai ilmu yangocukup terhadapopersoalan yangodibahas. Sebab tugasomoderator tidak hanyaosebagai pengaturojalannyaomusyawarah, akanotetapi jugaiharus bisaomemahami, mengkordinirodan menyimpulkanoiberbagai pendapat denganobahasa yangolebih sederhanaodan mudahodipahami olehopeserta musyawarah.

2.    Notulen

              Notulenoadalah seseorangoyang bertugasomenulis semuaohasil musyawarahodan ta’biroyang dipakaiooleh paraopeserta danomusahih. Hasil catatanodari notulenoselanjutnya diarsipountuk keperluanodokumentasi.

 

 

3.    Peserta

              Peserta0adalah orang-orangoyang terlibatodalam musyawarah. Sebelumopelaksanaan musyawarahopara pesertaotelah disodorippersoalan yangoakan dibahasodalam musyawarahobeberapa hariosebelumnya. Karena itu, dalamopelaksanaan musyawarahopara pesertaobiasanya membawa sebanyakomungkin referensiountuk dijadikanosumberoargumentasi.

4.    Perumusss

              Perumusioadalah seseorangoyang bertugasoimerangkumoiberbagai jawabanoidan argumentasiopyang telahpdisampaikanodalamomusyawarah. Perumuspbertugas meredaksikanokeputusan musyawarahodalamoredaksi yangosederhana sehinggaodapat difahamiooleh semuaopihak. Perumusojuga berkewajibanomemilih argumentasioyang sangatorelevan daripjsekian ta’bir/daliloyang dikemukakanopeserta.

5.    Pentashih

              Pentashihnadalah seseorangoyang diposisikanosebagai pengarah. Posisiopentashih dalamomusyawarah  sangatostrategis, sebaboimereka menjadioipihak yang mempunyaioiotoritas memutuskanoihasil kajianodalam musyawarah. Karena strategisnyaoposisi pentashih,omaka merekaoyang mendudukioposisi iniodipersyaratkan memilikiikeilmuan yangimumpuni dan diatasorata-rata. Biasanyaoposisi iniodiduduki olehoparaokyai, ustadzoatau santriosenior, bergantungolevel musyawarahoyangodiselenggarakan.

 

5.      Ketentuan Metode Musyawarah Kitab Kuning

Untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode musyawarah, kyai atau ustadz biasanya mempertimbangkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:[101]

1.    Peserta musyawarah adalah para santri yang berada pada tingkat menengah atau tinggi.

2.    Peserta musyawarah tidak memiliki perbedaan kemampuan yang mencolok. Ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi kegagalan dalam musyawarah.

3.    Topik atau persoalan (materi) yang dimusyawarahkan biasanya ditentukan terlebih dahulu oleh kyai atau ustaz pada pertemuan sebelumnya.

4.    Musyawarahodapat dilakukanosecara terjadwalosebagai latihanountukipara santri.

 

 

 

 

 

C.  MetodeoPenelitian

Penelitianoini menggunakanopendekatan kuantitatifoiyangoibersifat korelasionalodalam rangkaoimengetahui hubunganoisetiap variabeloipenelitian dengan menggunakanoiteknik analisisoiregresi.[102] Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya.[103]

Skema untuk mengetahui Pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu:[104]

r 1

Y1

X

r 2

Y2

 

 

 

 

 


Gambar 3.1 Skema Paradigma Penelitian

keterangan:

X         = Metode Musyawarah Kitab Kuning

Y1       = Keterampilan Literasi

Y2       = Keterampilan Critical Thinking

r1, r2     = Korelasi Sederhana

 

Adapunometode dalamopenelitianoini, langkahopertamaomengumpulkan dataoyang terkumpuloselama penelitianodianalisis gunaomenjawabopermasalahan yang telahodiajukanosebelumnya. Angketoyang dirancangodalam 23opertanyaan untuk paraosantri tingkat enamoPesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Jawaban setiap item instrumen menggunakan skala likert yang ditentukanodengan sekori1-3 denganokategori yang telahoditetapkanopeneliti. Adapun sekor 3 menunjukan kategoriobaik, sekor 2 menunjukan kategoriocukup, sekor 1 menunjukanokategori kurang.[105] Adapun kisi-kisi angket dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2

Kisi-Kisi Angket

VARIABEL

TEORI

INDIKATOR

NOMERIK

Metode Musyawarah

Metode musyawarah bisa dikategorikan sebagai pembelajaran kelompok berbasis masalah. Teori yang melandasi metode musyawarah atau pembelajaran kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif  Piaget dan Vigotsky

1.   Argumen yang baik

 

2.   Referensi kitab yang dapat dipertanggung jawabkan

 

3.   Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan

2

 

1, 3, 4

 

 

 

5, 6, 7

 

Keterampilan Literasi

Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas

1.  Mampu mengambil informasi.

 

2.  Mampu membentuk pemahaman yang luas.

 

3.    Mampu merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.

 

4.    Mampu merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks.

6

 

 

1

 

 

2, 3

 

 

 

5

 

Keterampilan Critical Thinking

Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang aktifodan bertujuan. Berfikirokritis merupakanousahaouyang diperbuat dengan terorganisasioiuiytiuuntuk memahami sesuatu dengan teliti, melalui proses menimbang pemikiranoiksendirioidan pemikiran orang lain guna memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri terhadap segala sesuatu

1.    Mampu merumuskan masalah

 

2.    Mampu memberikan argumentasi

 

3.    Mampu melakukan deduksi dan induksi

 

4.    Mampu melakukan evaluasi

 

5.    Mampu mengambil keputusan dan tindakan

1

 

 

2, 8, 10

 

 

3, 4

 

 

5, 6, 9

 

 

7

 

Adapunitahapanimenganalisisidataiyangipenulisilakukan dalam penelitian inioadalah:

1.      Tahapan analisis pendahuluan

Setelahosemua dataoyang dibutuhkanoterkumpul, langkahoberikutnya  melakukan analisis terhadap semua data yang terkumpul. Yaitu dengan cara memberikan angka sekor pada setiapojawaban peroitem soalodari angketiyang disebarkanoikepada paraoiresponden (santri) kemudianoiseluruh sekor dijumlahkanoisecaraoikeseluruhan, laluoidianalisis secamostatistik. Dariihasil tersebut dibuatitiga0kategori, yaitu tinggi0(baik), sedang0(cukupobaik)adan rendaho(kurangobaik).

 

2.      Tahapan analisis uji hipotesis

Analisis korelasi untuk mengetahui pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2) yaitu Analisis regresi sederhana.[106] Apabilaoangka probabilitasohasil anlisa < 0,05omakaohipotesis (H0)oditolak danohipotesisokerja (Ha) diterima[107] atau dengan cara membandingkan nilai t hitung dengan t tabel. Dalam penelitian ini terdapat satu variabel bebas (independent variabel) dan dua variabel terikat (dependent variabel) yaitu: 1). Variabel bebasnya metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning. 2). Variabel terkikatnya kemampuan literasi dan critical thinking santri.

Adapun langkah-langkahnya dengan menggunakan SPSS 25ofor windowoadalahosebagaioberikut:

1.    Bukaolembar kerjaoSPSS

2.    Buat semuaoketeranganovariabel dariovariabeloview

3.    Klik dataoview dan masukanodata

4.    Lalu analisisodengan cara: klikoAnalize-Regression-Linier,okemudian akan munculodialog. Selanjutnyaoisilah kotakomenu dependentodengan variabeloiterkait, yaitu Y1 atau Y2 dan kotakomenu independentodenganovariabel bebas, yaituovariabel X

5.    Selanjutnyaoketik kotakomenuoStatistics. PilihoEstimates,oDescriptives dan ModeloFit laluoklikoContinue

6.    KotakomenuoPlots, berfungsiountuk menampilkanografik padaoanalisis regresi. Klikokotak menuoPlots, kemudianoklik NormaloProbabilityiPlot yang terletakopada kotak menuoStandardizediResidualiPlots. Selanjutnya klikoContinue

7.    SetelahoklikoContinue klikoOk, beberapaosaat akanomunculohasilnya.[108]

D.  Instrumen Penelitian

1.    Angket atau kuesioner

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hla-hal yang diketahui.[109] Dalam penelitian ini penulis menggunakan angketotertutup, sehinggaoresponden cukupomenjawabopertanyaan-pertanyaan yang telahodisediakan. Tujuanokuesioner disiniodigunakan sebagaiometode pokok dalamomemperoleh informasiotentang pengaruhometodeomusyawarah dalam pembelajaranokitab kuning terhadapokemampuan santriiopada keterampilan literasi dan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu Al-Islami.

 

 

Skala pengukuran yang digunakan dalam angket ini menggunakan skala likert. Sekala likert berfungsi untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial.[110] Dalam penelitiaan ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut variabel penelitian. Variabeloyang akanodiukur dijabarkanomenjadioindikator sebagaiotitik tolakountuk menyusunoitem instrumentoberupaopertanyaan.

2.    Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.[111] Dokumen dalam penelitian iniodigunakanosebagai buktiotelah melakukanopenelitian dilokasiotersebut (berupaopoto) danosebagai pendukungomemperkuat dataoyang diperolehodengan caraomengambilohal yangoberkaiatan denganodata penelitianoyang adaodi PesantrenoKebon Jambu.

3.    Observasi

Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting dalah proses-proses pengamatan dan ingatan.[112] Observasiodalam penelitian iniodigunakan sebagaiobahan tambahanomemperkuat dataoyang diperolehomelalui angketodengan mengumpulkanoketerangan dariobeberapa respondenoatau santrioyang adaodi PesantrenoKebon Jambu.

E.  Populasi Dan Sampel

1.    Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah para santri tingkat atau kelas enam di Pesantren Kebon Jambu. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagai wakil yang diteliti.[113] Populasi dalam penelitian ini sejumlah 30 orang.

2.    Sampel

Sampel0adalah sebagiandariojumlah danokarakteristik yangodimiliki oleh populasiotersebut. Bilaopopulasi besarodan penelitiotidak0mungkin mempelajri0semua yangoada padopopulasi, misalnyaikarena keterbatasanidana, tenagaidaniwaktu, makaopenelitian dapatomenggunakan sampeloyangidiambil dariipopulasiiitu.[114] Berdasarkan haloitu, apaoyang dipelajariodari sampeloitu, kesimpulannyaoakan diberlakukanountuk populasi. Untuk ituosampel yang diambilodari populasioharus betul-betulorepresentativeo(mewakili).

Dalamomenentukanojumlahosampel apabila subjekokurang dario100, lebihobaik diambilosemua sehinggaopenelitiannya merupakanopenelitian populasi.oSelanjutnyaokalau sebjeknyaolebih besarobisa diambiloantarao10-15%oatau 20-25%oatauolebih. Sehinggaopenelitiannya disebutopenelitian sampling.[115] Pada penelitian ini diambil semuanya karena subjeknya kurang dari 100 sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi sebanyak 30 santri. 

F.   Uji Instrumen

1.    Uji Validitas

Uji validitas adalah suatau ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument, uji validitas berguna untuk mengetahui apakah ada pertanyaan-pertanyaan pada instrument yang harus di buang atau diganti, karena dinggap tidak relevan. Untuk menguji kevalidan angket dalam penelitian ini menggunakan uji validitas product moment dengan aplikasi SPSS for windows versi 25. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:[116]

1.    Persiapkanotabulasi dataoangket yangoingin diouji. Kemudianobuka programoSPSS, klikiVariableiView, dibagianipojok kiriibawah.program. Padaibagian nameotuliskanoItem_1 keobawah sampaioItem_7 (jika item angket berjumlah 7 jika Itemnya berjumlah 10 maka pada bagian name juga ditulis Item_1 sampai Item_10 dan seterusnya). Terakhirotulis Skor_Total.oPada Decimalsoubah semuaomenjadi angkao0, untuk bagianoMeasure pilihoScale danoabaikan sajaountuk pilihanoyang lainnya

2.    KlikoDataoView (dibagianopojok kiriobawah) dan masukanodata angketosekaligus skorototalnya. Bisapdilakukan denganocara copyopaste dariotabulasi dataoangket yangosudahkdipersiapkanotadi

3.    Selanjutnyaopilih menuoAnalyze, kemudianopilih subomenuoCorrelate, laluopilihoBivariate

4.    Kemudianokmuncul kotakobaru, dariojkotakkkdialog “Bivariate Correlations”, masukanoisemua variabeloike kotakoiVariables:,opada bagianoCorrelation Coefficients” centango(v)oPearson, padaobagian “Test of Significance” pilihoTwo-tailed. CentangoFlagoSignificant Correlationsolalu klikoOkmuntukomengakhirioperintah. Selanjutnya akanomuncul outputohasilnya

Adapunodasar pengambilanokeputusan dalamoujioini, bisaodilakukan denganocara:

Ø Membandingkanonilai rohitung denganonilai ritabel. Jikainilai rihitung > rotabel, makaoitem soaloangket tersebutodinyatakan validodanojika nilai rohitung < rotabel, makaoitem soal0angket tersebutodinyatakan tidakovalid.

2.    Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrument mencirikan tingkat konsistensi. Karena instrumen tes dalam penelitian ini menggunakan angket berbentuk soal pilihan ganda, checklist, dan ratingscale. Untuk menjaga reabilitasnya tiap pilihan jawaban memiliki bobot tertentu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:[117]

1.    Persiapkan data yang akan di uji reliabilitas dalam tabulasi

2.    BukaoprogramoSPSS danoklik VariableoView, dibagianopojokokiri bawahoprogramoSPSS. Kemudianopada bagianoName tulisoItem_1oke bawahosampai Item_7o(jikaoitem angketoberjumlah 7ojikaoItemnya berjumlah 10omaka pada bagian name juga ditulis Item_1 sampai Item_10). Padaobagian Decimalsoubah semuaomenjadi angkao0,olalu pada bagianoMeasure gantiomenjadioScale. Abaikanopilihan yangolain atauobiarkan tetapodefault

3.    Selajutnya klikoDataoView (dibagianopojok kiriobawahoprogram)olalu masukanodata tabulasioangket yangosudahodipersiapkan

4.    Selanjutnya, dari menu SPSS pilih Analyze, lalu klik Scale, kemudian klik Reliability Analysis

5.    Muncul kotak dialog baru dengan nama “Reliability Analysis”. Kemudian masukan semua variabel Item keokotakoItems:, padaobagian “model” pilihoAlpha

6.    Langkahoselanjutnya pilih Statisticsomaka munculokotak dialog “Reliability Analysis: Statistics”. Kemudianopada “Descriptives for”, klikoScaleiifiitemideleted, laluoklikoContinue. Abaikanopilihanoyang lain. Terakhiropilih Okountuk mengakhirioperintah, setelahoituoakan unculotampilanooutputohasilnya.

Adapunodasar pengambilanokeputusan dalamouji ini, bisaodilakukan denganocara:

Ø Membandingkanonilai Cronbach'soAlpha denganonilai rotabel. Apabila nilaioCronbach's Alpha > rotabel makaokuesioner dinyatakanoreliable dan apabilaonilai Cronbach'siiAlpha < rotabel makaokuesioner dinyatakanotidakoreliable.

G. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data sebagai berikut:

1.    Mengumpulkan angket yang disebarkan ke responden (30)

2.    Memeriksa tiap item soal angket dari setiap variabel dan dimasukan ke tabel seperti dibawah ini

Tabel 3.3

Contoh format tabel tabulasi angket variabel X

No. Res

Nama Responden

Jawaban angket variabel

Skor Total

1

2

3

4

5

6

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.    Buat tabel daftar tentang distribusi frekuensi jawaban tentang metode musyawarah kitab kuning

Tabel 3.4

Contoh format tabel distribusi frekwensi variabel X

No. Res

Alternatif jawaban

Total

Nominasi

A

B

C

 

 

 

 

 

 

4.    Dari data di atas dapat dicari  skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

 

Keterangan:

I           = interval

Xt        = nilai tertinggi

Xr        = nilai terendah

Ki        = kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[118]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel metode musyawarah kitab kuning, nilaiotertinggi ….. danonilaioterendah …… dalam haloini dapatodihitung denganorumus diatasosebagaioberikut:

 

Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatodikategorikanivariasiitinggi, sedang, rendahisebagaioberikut:

a.    Untukokategoriotinggiomendapatpnilai …….

b.    Untukokategoriosedangomendapatonilai …….

c.    Untukokategoriorendahomendapatonilai …….

Kemudianodicarioprosentaseometode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:

1.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yangotinggi, antaraoskor……sebanyak…..santri:

2.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang sedang, antara skor……sebanyak…..santri:

3.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yangorendah, antaraiskor……sebanyak…..santri:

 

 

 

 

 

 

 

Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanidalam bentukitabelidistribusi frekuensiimetode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning

Tabel 3.5

Contoh format tabel hasil distribusi frekwensi variabel X

No.

Metode musyawarah

Interval

Frekuensi

Prosentase

1.       

Tinggi

 

 

 

2.       

Sedang

 

 

 

3.       

Rendah

 

 

 

 

Jumlah

 

 

 

 

 

 

H.  Uji Hipotesis

Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1) dan critical thinking (Y2). Dalamopenelitian iniomenggunakan bantuanokomputerisasi programoSPSSofor windowsoversi 25. Adapun langkah langkahnya sebagai berikut:

1.    Buka lembar kerja SPSS

2.    Buatosemua keteranganovariabel dariovariabeloview

3.    Klikodataoview danomasukanodata

4.    Laluoanalisisodenganocara: klikoAnalize-Regression-Linier, kemudianoakan munculodialog. Selanjutnyaoisilah kotakomenu dependentodenganovariabel terkait,oyaitu Y1 atau Y2 danokotak menuoindependent denganovariabel bebas, yaituovariabel X

5.    Selanjutnyaoketik kotakomenuoStatistics. PilihoEstimates, Descriptivesodan ModeloFit laluoklikoContinue

6.    KotakomenuoPlots, berfungsiountuk menampilkanografik padaoanalisis regresi. Klikokotak menuoPlots, kemudianoklik NormaloProbabilityoPlot yang terletakopada kotakomenu StandardizedoResidualoPlots. Selanjutnya klikoContinue

7.    Setelahoklik ContinueoklikoOk, beberapaosaat akanomunculohasilnya.[119]

 

 


BAB IV

TEMUAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

 

 

A.  Temuan Penelitian

1.    Instumen Variabel Pengaruh Metode Musyawarah

Data nilai variabel pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.

Tabeli4.1

DistribusiaNilaiaAngket Metode Musyawarah

Dalam Pembelajan Kitab Kuning

 

No.

Nomor Item Dan Skor

Skor Total

1

2

3

4

5

6

7

1.       

3

3

3

3

3

3

3

21

2.       

2

2

3

2

3

2

3

17

3.       

2

2

2

1

2

1

2

12

4.       

2

2

3

3

3

2

3

18

5.       

2

2

3

3

3

2

3

18

6.       

2

2

2

2

2

3

2

15

7.       

3

2

3

2

3

3

2

18

8.       

2

2

2

2

2

2

2

14

9.       

2

1

2

1

3

2

3

14

10.   

2

2

2

2

2

2

2

14

11.   

3

2

2

3

3

2

3

18

12.   

3

2

2

2

3

1

2

15

13.   

2

2

2

1

2

1

2

12

14.   

2

3

2

2

3

3

3

18

15.   

2

2

2

2

2

2

2

14

16.   

2

2

3

2

3

3

3

18

17.   

2

2

2

3

3

3

2

17

18.   

3

2

2

2

3

3

2

17

19.   

2

2

3

2

2

2

2

15

20.   

2

1

2

2

2

2

2

13

21.   

3

2

2

3

3

2

2

17

22.   

3

2

2

2

2

2

2

15

23.   

2

2

2

2

2

2

2

14

24.   

2

2

2

2

3

3

2

16

25.   

3

2

3

3

2

3

3

19

26.   

2

2

2

3

3

3

3

18

27.   

3

2

2

3

3

2

2

17

28.   

3

3

2

2

3

3

2

18

29.   

2

2

2

1

3

3

2

15

30.   

2

3

3

1

2

2

1

14

 

Berdasarkanodataotabel dioatas dapatodijelaskan sebagaioberikut:

1.    Dariosoaliangketinomor 1 yangiselalu berargumentasiidenganimenyertakan referensi dalam musyawarah sebanyak 10 orang responden, sebanyak 20 responsenimenjawabokadang-kadang, danitidak.ada seorangpunimenjawab tidakopernah.

2.    Dari soal angket nomor 2 yang selalu berpendapat dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas dalam musyawarah sebanyak 4 orang responden, sebanyak 24 respondenimenjawabikadang-kadang, dan 2 orangomenjawab tidakopernah.

3.    Dari soal angket nomor 3 yang selalu berpendapat dengan menyertakan dalil yang dapat dipertanggung jawabkan dalam musyawarahisebanyak 19 orangoresponden, sebanyak 21 respondenomenjawabokadang-kadang, dan tidakoada seorangpunomenjawab tidakopernah.

4.    Dari soal angket nomor 4 yang selalu  menjelaskan referensi dalam musyawarah dengan menyertakan nama kitab, nama pengarang, cetakan  dan juga halaman kitabnya sebanyak 9 orang responden, sebanyak16 respondenomenjawabikadang-kadang, dan 5iorangimenjawabitidakipernah.

5.    Dari soal angket nomor 5 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman atau kelompok lain yang tidak sependapat dalam musyawarah sebanyak 18 orang responden, sebanyak 12oresponden menjawabokadang-kadang, danotidak adaoseorangpun menjawabotidak pernah.

6.    Dari soal angket nomor 6 yang selalu menyanggah atau mengomentari pendapat teman atau kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat dan meminta untuk menjelaskanya kembali 12 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 3 orangomenjawabotidakopernah.

7.    Dari soal angket nomor 7 yang selalu berpendapat semaksimal munkin dalam musyawarah dengan cara mencari referensi meskipun dari kitab yang belum dipelajari di kelas ataupun sekolah sebanyak 10 orang responden, sebanyak  19 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 1 orangomenjawabotidakopernah.

 

 

 

 

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Jawaban Pengaruh Metode Musyawarah

 

No.

Alternatif Jawaban

Total

Nominasi

S

KK

TP

1.       

21

 

 

21

A

2.       

9

8

 

17

B

3.       

 

10

2

12

C

4.       

12

6

 

18

B

5.       

12

6

 

18

B

6.       

3

12

 

15

B

7.       

12

6

 

18

B

8.       

 

14

 

14

C

9.       

6

6

2

14

C

10.   

 

14

 

14

C

11.   

12

6

 

18

B

12.   

6

8

1

15

B

13.   

 

10

2

12

C

14.   

12

6

 

18

B

15.   

 

14

 

14

C

16.   

12

6

 

18

B

17.   

9

8

 

17

B

18.   

9

8

 

17

B

19.   

3

12

 

15

B

20.   

 

12

1

13

C

21.   

9

8

 

17

B

22.   

3

12

 

15

B

23.   

 

14

 

14

C

24.   

6

10

 

16

B

25.   

15

4

 

19

A

26.   

12

6

 

18

B

27.   

9

8

 

17

B

28.   

12

6

 

18

B

29.   

6

8

1

15

B

30.   

6

6

2

14

C

 

Dari data di atas dapat dicari skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

 

 

 

 

 

Keterangan:

i           =  interval

Xt        =  nilai tertinggi

Xr        =  nilai terendah

Ki        =  kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[120]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning, nilaiotertinggi 21 danonilai terendaho12 dalamohal iniodapat dihitungodenganorumus diatasosebagai berikut:

 

 

 

 

 

Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatodikategorikanivariasiitinggi, sedangidan rendahisebagaioberikut:

a.       Untuk kategori tinggi mendapat nilai 19-21

b.      Untuk kategori sedang mendapat nilai 15-18

c.       Untuk kategori rendah mendapat nilai 12-14

Kemudianodicari prosentaseometode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning dengan rumus:

 

 

1.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yangitinggi, antaraoskor 19-21osebanyak 2 santri:

 

 

 

2.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning yang sedang, antara skor 15-18 sebanyak 19 santri:

 

 

 

 

3.    Untuk  metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuningoyang rendah,oantaraiskor 12-14 sebanyaki9 santri:

 

 

 

 

Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanodalamobentukotabel distribusiofrekuensiometode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning.

Tabel 4.3

Hasil Distribusi Frekuensi

Metode Musyawarah dalam pembelajan Kitab Kuning

 

Distribusi frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data pengaruh metode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning,itertinggi padaokategoriisedang, yaitu sebanyak 19  jawabanidari 30 santriisebagai responden.oKareanaonilaioirata-rata jawaban responden berada pada interval 15-18, haloini menunjukan bahwaometode musyawarah dalam pembelajan kitab kuning kategori sedang, yaitu 63,33%.

2.    Instumen Variabel Keterampilan Literasi

Data nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan literasi di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.

Tabel 4.4

DistribusiaNilaiiAngket Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Literasi

No.

Nomor Item Dan Skor

Skor Total

1

2

3

4

5

6

1.       

3

3

3

3

3

3

18

2.       

3

2

3

3

2

3

16

3.       

2

3

2

3

2

3

15

4.       

3

3

3

3

2

2

16

5.       

3

2

3

3

2

3

16

6.       

2

3

3

2

2

1

13

7.       

3

3

3

2

2

3

16

8.       

3

3

2

2

2

2

14

9.       

2

1

2

2

1

2

10

10.   

2

3

2

2

2

3

14

11.   

3

2

2

2

2

2

13

12.   

3

2

3

2

3

2

15

13.   

2

3

2

3

2

2

14

14.   

3

2

2

3

2

2

14

15.   

2

3

3

3

2

3

16

16.   

3

2

1

2

1

3

12

17.   

3

3

3

3

2

2

16

18.   

3

2

3

3

2

2

15

19.   

2

2

1

2

1

3

11

20.   

1

2

2

2

2

1

10

21.   

3

3

3

3

3

3

18

22.   

2

2

2

2

3

2

13

23.   

2

2

2

2

2

2

12

24.   

3

2

2

2

2

2

13

25.   

2

2

3

3

3

2

15

26.   

3

3

2

3

2

3

16

27.   

3

3

3

3

2

3

17

28.   

2

2

1

1

2

2

10

29.   

3

2

2

2

2

3

14

30.   

3

1

1

2

2

2

11

 

 

 

 

 

Berdasarkanodata tabelodi atasodapat dijelaskanosebagaipberikut:

1.    Dariosoal angketinomor 1 yangiselalu mengambiloinformasi atau referensi dari berbagai kitab kuning sebanyak 18 orang responden, sebanyak 1 responden menjawab kadang-kadang, dan 11 orangomenjawabotidak pernah.

2.    Dari soal angket nomor 2 yang selalu lebih dahulu menganalisis pendapat yang terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang, dan 2 orangomenjawaboitidak pernah.

3.    Dari sola angket nomor 3 yang selalu lebih dahulu mengevaluasi pendapat yang terdapat didalam kitab sebanyak 13 orang responden, sebanyak 13 respondenimenjawabikadang-kadang, dan 4 orangimenjawab tidakipernah.

4.    Dari soal angket nomor 4 yang selalu lebih dahulu menganalisis bentuk teks yang terdapat didalam kitab sebanyak 14 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang, dan 1 orangomenjawabotidak pernah.

5.    Dariosoal angketonomor 5 yangoselalu mendapatkanopemahaman baru dari hasil mencarai referensi yang tidak didapat dalam kelas pengajian sorogan atau bandungan sebanyak 18 orang responden, sebanyak 12 respondenomenjawaboikadang-kadang, danoitidak adaoiseorangpun menjawabotidakopernah.

6.    Dari soal angket nomor 6 yang selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mencarai referensi terbaik sebagai rujukan sebanyak 13 orang responden, sebanyak 15 respondenomenjawabokadang-kadang, dan  2 orangomenjawabotidakopernah.

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Jawaban Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Literasi

No.

Alternatif Jawaban

Total

Nominasi

S

KK

TP

1.       

18

 

 

18

A

2.       

12

4

 

16

A

3.       

9

6

 

15

B

4.       

12

4

 

16

A

5.       

12

4

 

16

A

6.       

6

6

1

13

B

7.       

12

4

 

16

A

8.       

6

8

 

14

B

9.       

 

8

2

10

C

10.   

6

8

 

14

B

11.   

3

10

 

13

B

12.   

9

6

 

15

B

13.   

6

8

 

14

B

14.   

6

8

 

14

B

15.   

12

4

 

16

A

16.   

6

4

2

12

C

17.   

12

4

 

16

A

18.   

9

6

 

15

B

19.   

3

6

2

11

C

20.   

 

8

2

10

C

21.   

18

 

 

18

A

22.   

3

10

 

13

B

23.   

 

12

 

12

C

24.   

3

10

 

13

B

25.   

9

6

 

15

B

26.   

12

4

 

16

A

27.   

15

2

 

17

A

28.   

 

8

2

10

C

29.   

6

8

 

14

B

30.   

3

6

2

11

C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari data diatas dapat dicari skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

 

 

 

Keterangan:

i           =  interval

Xt        =  nilai tertinggi

Xr        =  nilai terendah

Ki        =  kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[121]

 

 

 

Makaiuberdasarkan tabeloidi atasoidapat diketahuiopadaoivariabel kemampuan santri pada keterampilan literasi, nilaiotertinggi 18 danonilai terendahi10 dalamihaliini dapatidihitung denganirumus diatasisebagaiiberikut:

 

 

 

 

 

Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatedikategorikanivariasiitinggi, sedang,idan rendahisebagaioberikut:

a.       Untuk kategori tinggi mendapat nilai 16-18

b.      Untuk kategori sedang mendapat nilai 13-15

c.       Untuk kategori rendah mendapat nilai 10-12

Kemudianodicari prosentaseokemampuan santri pada keterampilan literasi dengan rumus:

 

 

 

 

1.    Untuk  kemampuan santri pada keterampilan literasi yang tinggi, antara skor 16-18 sebanyak 10 santri:

 

 

 

 

2.    Untuk  kemampuan santri pada keterampilan literasi yang sedang, antara skor 13-15 sebanyak 13 santri:

 

 

 

 

3.    Untuk  kemampuan santri pada keterampilan literasi yangirendah,iantara skoro10-12osebanyak 7 santri:

 

 

 

 

 

 

Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanidalam bentukitabelidistribusi frekuensiikemampuan santriopada keterampilan literasi.

Tabel 4.6

Hasil Distribusi Frekuensi Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Literasi

Distribusi frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan literasi, tertinggiopada kategoriosedang, yaituosebanyak 13ojawabanodari 30 santriosebagaioresponden. Kareanaonilai rata-rataojawaban respondenoberada padaointerval 13-15, haloini menunjukan bahwaokemampuan santri pada keterampilan literasi kategori sedang, yaitu 43,33%.

 

 

 

 

 

 

3.    Instumen Variabel Keterampilan Critical Thinking

Data nilai variabel kemampuan santri pada keterampilan critical thinking di Pesantren Kebon Jambu sebagai mana terlihat dari hasil angket di bawah ini.

Tabel 4.7

DistribusioNilai AngketoKemampuanoSantri

Pada Keterampilan Critical Thinking

No.

Nomor Item Dan Skor

Skor Total

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1.       

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

30

2.       

2

3

2

2

2

2

3

2

2

3

23

3.       

2

1

1

1

2

2

2

2

2

1

16

4.       

2

1

3

3

2

1

1

2

1

2

18

5.       

2

2

3

3

3

3

2

2

2

3

25

6.       

3

2

3

2

2

3

1

2

3

1

22

7.       

3

3

2

2

3

3

3

2

3

3

27

8.       

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

20

9.       

3

2

2

2

3

1

2

3

3

3

24

10.   

3

2

1

2

2

2

2

3

2

2

21

11.   

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

20

12.   

3

2

3

2

2

2

3

2

3

2

24

13.   

1

1

2

2

1

1

1

2

2

2

15

14.   

3

3

2

2

2

2

3

2

2

2

23

15.   

3

3

2

2

2

3

2

3

2

2

24

16.   

3

3

3

2

2

1

3

2

3

2

24

17.   

3

3

3

2

1

2

2

2

3

2

23

18.   

2

3

2

2

3

3

3

2

2

2

24

19.   

2

2

2

2

2

1

2

1

2

2

18

20.   

2

2

1

1

2

2

3

2

2

1

18

21.   

3

2

2

2

2

3

2

3

3

2

24

22.   

2

2

1

2

1

1

2

1

2

2

16

23.   

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

20

24.   

3

3

2

2

3

3

2

2

3

2

25

25.   

3

2

1

2

3

3

3

2

1

1

21

26.   

3

3

2

3

2

3

3

2

2

2

25

27.   

2

3

2

3

3

2

2

3

3

2

25

28.   

3

2

2

3

2

2

2

3

2

2

23

29.   

1

3

3

1

2

2

2

2

2

2

20

30.   

3

3

2

1

2

1

3

1

2

1

19

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkanodata tabelidi atasodapat dijelaskanosebagaioberikut:

1.    Dariosoal angketonomor 1 yangoselalu bertanyaodengan menyertakan deskripsi masalah dan merumuskan masalah terlebih dahulu sebanyak sebanyak 16 orang responden, sebanyak 12 respondenomenjawab kadang-kadang,odan  2 orangomenjawab tidakopernah.

2.    Dariosoal angketonomor 2 yangoselalu mendebatoatau berargumentasi  setiap kali ada kelompok lain yang tidak sependapat sebanyak 13 orang responden, sebanyak 14 respondenimenjawab kadang-kadang,odan  3 orangomenjawab tidakopernah.

3.    Dari soal angket nomor 3 yang selalu melakukan deduksi sebanyak 8 orang responden, sebanyak 17 respondenomenjawabokadang-kadang, dan  5 orangomenjawab tidakopernah.

4.    Dari soal angket nomor 4 yang selalu melakukan induksi sebanyak 6 orang responden, sebanyak 20oresponden menjawabikadang-kadang,idan  4 orangomenjawab tidakopernah.

5.    Dari soal angket nomor 5 yang selalu mengevaluasi pendapat sendiri atau kelompok sendiri sebanyak 8 orang responden, sebanyak 20oresponden menjawabokadang-kadang,odan  2 orangomenjawabitidakopernah.

6.    Dari soal angket nomor 6 yang selalu mengevaluasi pendapat kelompok lain sebanyak 10 orang responden, sebanyak 13 respondenomenjawab kadang-kadang,idan  7 orangomenjawab tidakopernah.

7.    Dari soal angket nomor 7 yang selalu mengambil keputusan dan tindakan sebagai solusi terhadap perbedaan pendapat sebanyak 11 orang responden, sebanyak 16 respondenomenjawabokadang-kadang,odan  3 orangomenjawab tidakopernah.

8.    Dari soal angket nomor 8 yang selalu berkontribusi memberikan argumentasi pada kelompok sebanyak 7 orang responden, sebanyak 20 respondenomenjawabokadang-kadang,odan 3 orangomenjawabotidak pernah.

9.    Dari soal angket nomor 9 yang selalu meninjau kembali pendapat teman atau kelompok lain terhadap permasalahan yang dibahas sebanyak 10 orang responden, sebanyak 18 respondenomenjawabokadang-kadang,idan  2 orangomenjawab tidakopernah.

10.    Dari sola angket nomor 10 yang selalu berargumentasi  meski referensinya sama dengan kelompok lain tapi berbeda dalam interpretasi atau argumentasinya sebanyak 5 orang responden, sebanyak 20 respondenumenjawabokadang-kadang,odan 5 orangomenjawabotidak pernah.

 

 

Tabel 4.8

 Distribusi Frekuensi Jawaban

      Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking

 

No.

Alternatif Jawaban

Total

Nominasi

S

KK

TP

1.       

30

 

 

30

A

2.       

9

14

 

23

B

3.       

 

12

4

16

C

4.       

6

8

4

18

C

5.       

15

10

 

25

B

6.       

12

8

2

22

B

7.       

21

6

 

27

A

8.       

 

20

 

20

B

9.       

15

8

1

24

B

10.   

6

14

1

21

B

11.   

 

20

 

20

B

12.   

12

12

 

24

B

13.   

 

10

5

15

C

14.   

9

14

 

23

B

15.   

12

12

 

24

B

16.   

15

8

1

24

B

17.   

12

10

1

23

B

18.   

12

12

 

24

B

19.   

 

16

2

18

C

20.   

3

12

3

18

C

21.   

12

12

 

24

B

22.   

 

12

4

16

C

23.   

 

20

 

20

B

24.   

15

10

 

25

B

25.   

12

6

3

21

B

26.   

15

10

 

25

B

27.   

15

10

 

25

B

28.   

9

14

 

23

B

29.   

6

12

2

20

B

30.   

9

6

4

19

C

Dari data diatas dapat dicari skor tertinggi dan terendah, kemudian dicari intervalnya dengan menggunakan rumus:

 

 

 

Keterangan:

i           =  interval

Xt        =  nilai tertinggi

Xr        =  nilai terendah

Ki        =  kelas interval (tinggi, sedang, rendah)[122]

Maka berdasarkan tabel di atas dapat diketahui pada variabel kemampuan santri pada keterampilan critical thinking, nilaiotertinggi 30odan nilaioterendah 15 dalamohal iniodapat dihitungodengan rumusodiatasisebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Jadiojelas bahwaopada variabeloini dapatodikategorikan variasiitinggi, sedang,idan rendahosebagaioberikut:

a.       Untuk kategori tinggi mendapat nilai 26-30

b.      Untuk kategori sedang mendapat nilai 20-25

c.       Untuk kategori rendah mendapat nilai 15-19

Kemudian dicari prosentase kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dengan rumus:

 

 

1.      Untuk  kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang tinggi,oantarakskor 26-30osebanyako2 santri:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.        Untuk kemampuan santri pada keterampilan critical thinking yang sedang, antara skor 25-20 sebanyak 21 santri:

 

 

 

 

3.        Untuk kemampuan santri pada keterampilan critical thinkingiyang rendah,bantaraoskor 19-15osebanyak 7 santri:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untukolebih jelasnyaopenulis sampaikanidalam bentukitabel distribusi frekuensiikemampuan santriopada keterampilanocriticalothinking.

Tabel 4.9

Hasil Distribusi Frekuensi Jawaban

Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking

Distribusi frekuensi diatas menunjukan bahwa frekuensi data kemampuan santri pada keterampilan critical thinking, tertinggiopadaikategori sedang,oiyaituosebanyak 21ajawaban respondenoidari 30oisantri sebagai responden.oKareana nilaiorata-rata jawabanoiresponden beradaopadaointerval 20-25,ohal iniomenunjukanobahwa kemampuan santri pada keterampilan critical thinking. Yaitu 70%.

 

 

 

 

 

B.  Pembahasan

1.    Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen

a.    Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen Pengaruh Metode Musyawarah Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

Pengujian validitas dan reliabilitas Instrumen angket kuesioner pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning menggunakan aplikasi SPSS for windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:

Tabel 4.10

Uji Validitas Korelasi Pengaruh Metode Musyawarah

Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

Correlations

 

Item_1

Item_2

Item_3

Item_4

Item_5

Item_6

Item_7

Skor_Total

Item_1

Pearson Correlation

1

.213

.000

.387*

.289

.110

.000

.478**

Sig. (2-tailed)

 

.258

1.000

.035

.122

.561

1.000

.007

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_2

Pearson Correlation

.213

1

.230

.083

.123

.283

-.086

.415*

Sig. (2-tailed)

.258

 

.221

.665

.517

.130

.651

.023

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_3

Pearson Correlation

.000

.230

1

.195

.089

.148

.318

.460*

Sig. (2-tailed)

1.000

.221

 

.301

.640

.436

.087

.011

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_4

Pearson Correlation

.387*

.083

.195

1

.366*

.295

.454*

.731**

Sig. (2-tailed)

.035

.665

.301

 

.047

.113

.012

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_5

Pearson Correlation

.289

.123

.089

.366*

1

.383*

.466**

.672**

Sig. (2-tailed)

.122

.517

.640

.047

 

.037

.010

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_6

Pearson Correlation

.110

.283

.148

.295

.383*

1

.228

.641**

Sig. (2-tailed)

.561

.130

.436

.113

.037

 

.226

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_7

Pearson Correlation

.000

-.086

.318

.454*

.466**

.228

1

.605**

Sig. (2-tailed)

1.000

.651

.087

.012

.010

.226

 

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

Skor_Total

Pearson Correlation

.478**

.415*

.460*

.731**

.672**

.641**

.605**

1

Sig. (2-tailed)

.007

.023

.011

.000

.000

.000

.000

 

N

30

30

30

30

30

30

30

30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Tabel 4.11

Perbandingan r Hitung Dan r Tabel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketetapan:

1.    Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”

2.    Apabila r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r tabel  0.361. berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-7 lebih besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).

Tabel 4.12

Uji Reliabel Korelasi Pengaruh Metode Musyawarah

Dalam Pembelajaran Kitab Kuning

 

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.669

7

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

Item_1

13.70

4.079

.285

.658

Item_2

13.97

4.240

.226

.671

Item_3

13.73

4.133

.269

.661

Item_4

13.90

3.128

.526

.583

Item_5

13.43

3.633

.516

.598

Item_6

13.73

3.444

.411

.626

Item_7

13.73

3.720

.414

.624

 

Ketetapan:

1.    Apabilaonilai Cronbach'suAlpha > rotabel makaokuesionerodinyatakan “RELIABLE”

2.    Apabilaonilai Cronbach'soAlpha < retabel makaokuesionerodinyatakan “TIDAK RELIABLE”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,669, sedangkan r  tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrument penelitian tersebut semua reliable.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.    Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi

Tabel 4.13

Uji Validitas Korelasi Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi

Correlations

 

Item_1

Item_2

Item_3

Item_4

Item_5

Item_6

Skor_total

Item_1

Pearson Correlation

1

.076

.251

.281

.101

.372*

.540**

Sig. (2-tailed)

 

.691

.182

.132

.596

.043

.002

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_2

Pearson Correlation

.076

1

.455*

.418*

.244

.271

.662**

Sig. (2-tailed)

.691

 

.011

.022

.194

.148

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_3

Pearson Correlation

.251

.455*

1

.613**

.509**

.056

.778**

Sig. (2-tailed)

.182

.011

 

.000

.004

.769

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_4

Pearson Correlation

.281

.418*

.613**

1

.249

.319

.764**

Sig. (2-tailed)

.132

.022

.000

 

.185

.086

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_5

Pearson Correlation

.101

.244

.509**

.249

1

-.079

.517**

Sig. (2-tailed)

.596

.194

.004

.185

 

.678

.003

N

30

30

30

30

30

30

30

Item_6

Pearson Correlation

.372*

.271

.056

.319

-.079

1

.514**

Sig. (2-tailed)

.043

.148

.769

.086

.678

 

.004

N

30

30

30

30

30

30

30

Skor_total

Pearson Correlation

.540**

.662**

.778**

.764**

.517**

.514**

1

Sig. (2-tailed)

.002

.000

.000

.000

.003

.004

 

N

30

30

30

30

30

30

30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Tabel 4.14

Perbandingan r Hitung Dan r Tabel

Ketetapan:

1.    Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”

2.    Apabila r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r tabel  0.361. berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-6 lebih besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).

 

Tabel 4.15

Uji Reliabel Korelasi Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Literasi

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.700

6

 

 

 

 

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

Item_1

11.53

4.120

.327

.691

Item_2

11.73

3.720

.463

.649

Item_3

11.80

3.200

.598

.596

Item_4

11.67

3.540

.623

.599

Item_5

12.03

4.240

.319

.691

Item_6

11.73

4.133

.274

.709

 

Ketetapan:

1.    Apabilaunilai Cronbach'soAlpha > rotabel makaokuesionerodinyatakan ”RELIABLE”

2.    Apabilaonilai Cronbach'suAlpha < rotabel makapkuesionerodinyatakan “TIDAK RELIABLE”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,700, sedangkan r  tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian tersebut semua reliable.

c.    Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking

Tabel 4.16

Uji Validitas Korelasi Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Critical Thinking

 

Correlations

 

Item_1

Item_2

Item_3

Item_4

Item_5

Item_6

Item_7

Item_8

Item_9

Item_10

Skor_Total

Item_1

Pearson Correlation

1

.360

.050

.194

.247

.332

.366*

.301

.401*

.000

.591**

Sig. (2-tailed)

 

.051

.794

.304

.188

.073

.047

.106

.028

1.000

.001

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_2

Pearson Correlation

.360

1

.237

.030

.294

.344

.598**

.061

.388*

.267

.662**

Sig. (2-tailed)

.051

 

.208

.876

.115

.063

.000

.749

.034

.154

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_3

Pearson Correlation

.050

.237

1

.339

.044

.048

-.147

.055

.375*

.355

.425*

Sig. (2-tailed)

.794

.208

 

.066

.817

.801

.439

.774

.041

.054

.019

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_4

Pearson Correlation

.194

.030

.339

1

.266

.218

-.142

.386*

.047

.503**

.498**

Sig. (2-tailed)

.304

.876

.066

 

.155

.247

.455

.035

.804

.005

.005

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_5

Pearson Correlation

.247

.294

.044

.266

1

.499**

.334

.340

.166

.298

.630**

Sig. (2-tailed)

.188

.115

.817

.155

 

.005

.071

.066

.379

.110

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_6

Pearson Correlation

.332

.344

.048

.218

.499**

1

.227

.366*

.171

.077

.620**

Sig. (2-tailed)

.073

.063

.801

.247

.005

 

.227

.047

.365

.684

.000

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_7

Pearson Correlation

.366*

.598**

-.147

-.142

.334

.227

1

-.101

.080

.092

.432*

Sig. (2-tailed)

.047

.000

.439

.455

.071

.227

 

.597

.674

.629

.017

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_8

Pearson Correlation

.301

.061

.055

.386*

.340

.366*

-.101

1

.304

.308

.529**

Sig. (2-tailed)

.106

.749

.774

.035

.066

.047

.597

 

.103

.097

.003

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_9

Pearson Correlation

.401*

.388*

.375*

.047

.166

.171

.080

.304

1

.302

.576**

Sig. (2-tailed)

.028

.034

.041

.804

.379

.365

.674

.103

 

.105

.001

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Item_10

Pearson Correlation

.000

.267

.355

.503**

.298

.077

.092

.308

.302

1

.559**

Sig. (2-tailed)

1.000

.154

.054

.005

.110

.684

.629

.097

.105

 

.001

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

Skor_Total

Pearson Correlation

.591**

.662**

.425*

.498**

.630**

.620**

.432*

.529**

.576**

.559**

1

Sig. (2-tailed)

.001

.000

.019

.005

.000

.000

.017

.003

.001

.001

 

N

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.17

Perbandingan r Hitung Dan r Tabel

 

 

 

 

Ketetapan:

1.    Apabila r hitung > r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “VALID”

2.    Apabila r hitung < r tabel, maka item kuesioner dinyatakan “TIDAK VALID”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapat nilai skor item dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikan 5% dengan n = 30, maka didapat r tabel  0.361. berdasarkan hasil analisis didapat nilai korelasi untuk semua item 1-10 lebih besar dari 0.361. maka dapat disimpulkan bahwa item-item tersebut berkorelasi signifikan dengan skor total (dinyatakan semua item soal valid).

 

Tabel 4.18

Uji Reliabel Korelasi Kemampuan Santri

Pada Keterampilan Critical Thinking

 

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.745

10

Item-Total Statistics

 

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

Item_1

19.43

9.840

.453

.718

Item_2

19.57

9.426

.532

.705

Item_3

19.80

10.510

.251

.748

Item_4

19.83

10.351

.355

.732

Item_5

19.73

9.789

.509

.710

Item_6

19.80

9.338

.455

.718

Item_7

19.63

10.516

.265

.745

Item_8

19.77

10.254

.395

.727

Item_9

19.63

10.033

.447

.719

Item_10

19.90

10.093

.425

.722

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketetapan:

1.    Apabilaonilai Cronbach'suAlpha > rotabel makaokuesionerodinyatakan “RELIABLE”

2.    ApabilaonilaioCronbach'soAlpha < rotabel makaokuesionerodinyatakan “TIDAK RELIABLE”

Kesimpulan:

Dari hasil analisis didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,745, sedangkan r  tabel pada signifikansi 5% dengan n = 30 sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa butir-butir instrumen penelitian tersebut semua reliable.

2.    Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis

a.    Analisis regresi pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi

Analisis regresi pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi menggunakan aplikasi SPSS for windows versi 25, adapaun hasilnya sebagai berikut:

Tabel.4.19

Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah

Terhadap Kemampuan Santri Pada Keterampilan Literasi

 

Variables Entered/Removeda

Model

Variables Entered

Variables Removed

Method

1

Metode Musyawarahb

.

Enter

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

b. All requested variables entered.

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.432a

.186

.157

2.09279

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

 

 

 

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

28.066

1

28.066

6.408

.017b

Residual

122.634

28

4.380

 

 

Total

150.700

29

 

 

 

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

Secaraoumum rumusppersamaan regresiisederhana adalah Y =ia + bX. Sementara untuk mengetahui nilai koefisien regresi tersebutiudapat berpedoman pada output yang berada pada tabel Coefficients berikut:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

 

 

 

 

1.    Penjelasan

ai=iAngka konstanodari UnstandardizedoCoefficients. Dalamikasus inionilainyausebesar  6.946. angkaoini merupakanpangka konstanoyang mempunyaiiuarti jikamimenggunakan metodekimusyawarah dalam pembelajaranokitab kuning (X) makaonilai konsisten kemampauan santri pada keterampilan literasi  (Y1) adalah sebesar  6.946.

b = Angkaokoefisienoregresi. Nilainyaosebesar  0,446. Angkaoini mengandungaoiartiuibahwa setiapuipenambahan 1%uitingkat metode musyawarah dalam pembejaran kitab kuning (X), maka  kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1) akanomeningkatosebesarp0,446.

Karenaonilai koefisieniuregresiobernilaioipositif, makakidengan demikianidapat dikatakanibahwaometode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) berpengaruh positif terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).  Sehinggaopersamaan regresinyaoadalah  Y1= 6.946 +i0,446iX

2.    UjioHipotesis

Ujiohipotesis atauiuji pengaruhiberfungsi untukimengetahuiiapakah koefisienoregresi tersebutosignifikan atauotidak. Adapunohipotesisnya sebagaioberikut:

1.    Ho = Tidak ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1).

2.    Ha = Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y1).

Sementaraoitu, untukomemastikan apakahikoefisien regresiitersebut signifikanoatau tidako(dalam artiivariabel Xiberpengaruh terhadapivariabel Y1) dapatomelakukan ujiohipotesis inihdengan caraomembandingkaninilai signifikansio(Sig.) denganoiprobabilitas 0,05 atauoidengan cara membandingkanonilai tohitung dengan totabel.

1.    Ujiuhipotesisomembandingkan nilaiosignifikansil(Sig.)edengan 0,05

Adapunoyang menjaditdasar pengambilanokeputus dalamoanalisis regresiodengan melihatinilai signifikansih(Sig.) hasiluoutput SPSSoadalah:

Ø Jikaonilai signifikansioi(Sig.) lebihokecil < darioiprobabilitas 0,05 mengandungoarti bahwaoada pengaruhometode musyawarahodalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).

Ø Sebaliknya,oiJika nilaioisignifikansi (Sig.) lebihoibesar > dari probabilitaso0,05 mengandungoarti bahwaotidak adaoipengaruh metodeomusyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampauan santri pada keterampilan literasi (Y1).

 

 

 

Adapun hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

Berdasarkanuautput di atasodiketahui nilaiosignifikansi (Sig.)osebesar 0.017 lebihikecil dari <iprobabilitas 0,05, sehinggaidapat disimpulkan bahwa Hoeditolak dan Hauditerima, yang berartiobahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1)”

2.    Ujiohipotesis membandingkanonilai tohitung dengan totabel

Pengujianohipotesis iniosering disebutojuga dengan ujiot, dimana dasaropengambilan keputusanodalam ujiotoadalah:

Ø Jikaonilai tohitung lebihobesar > dari totabel makaiadaoipengaruh metodeomusyawarah dalam pembelajaran kitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1).

Ø Jikaonilai tohitung lebihokecil < dari totabel makaotidak adaopengaruh metode musyawarahodalam pembelajaranokitab kining (X) terhadap kemampaun santri pada keterampilan literasi (Y1).

 

Hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

6.946

2.852

 

2.436

.021

Metode Musyawarah

.446

.176

.432

2.531

.017

a. Dependent Variable: Keterampilan Literasi

 

Berdasarkanooutput dioatas diketahuionilai tohitungisebesar 2,531. karenainilai tohitung sudahiditemukan, makaiselanjutnya mencariinilai totabel. Adapunirumus untukimencari totabeliadalah:

Nilaiia/2i=i0,05/2 =i0,025

Derajadokebebasan (df) =in-2= 30-2 =28

Nilaio0,025 ; 28 kemudianylihat padaodistribusionilai totabel. Maka didapatinilai titabelusebesar 2,048

Karenannilai tohitungssebesar 2,531 lebihebesar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi (Y)“.

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.432a

.186

.157

2.09279

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapatbberpedomanopada nilaioR Squareoatau R2tterdapat padaooutput SPSSbbagianomodel summary. Dariooutput diatas diketahuionilaioR squareosebesari0,186. Nilaiiini mengandungiarti bahwaipengaruh metodeimusyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

Merujuk pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi denganototal pengaruhosebesar 18,6%. Pengaruhppositifoini bermaknaosemakin tinggiometodeomusyawarah dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan literasi.

 

 

 

b.      Analisis regresi pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking

Tabel.4.20

Output SPSS Regresi Pengaruh Metode Musyawarah Terhadap

Kemampuan Santri Pada Keterampilan Critical Thinking

 

Variables Entered/Removeda

Model

Variables Entered

Variables Removed

Method

1

Metode Musyawarahb

.

Enter

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. All requested variables entered.

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.659a

.434

.414

2.65437

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

 

 

 

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

151.420

1

151.420

21.491

.000b

Residual

197.280

28

7.046

 

 

Total

348.700

29

 

 

 

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

 

 

 

 

 

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

 

Secaraoumum rumusopersamaan regresiisederhanaiadalah Yi=ia +ibX. Sementaraountuk mengetahuionilai koefisienoregresi tersebutodapat berpedomanipada outputiyang beradaipada tabelicoefficientsoberikut:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

1.    Penjelasan

ai=iAngka konstanadari unstandardizeducoefficients. Dalamikasus ini nilainyadsebesar 5,283. Angkauini merupakanhangka konstanyyang mempunyaibarti jikanbmenggunakan metodeuimusyawarah dalam pembelajaranhkitab kuning (X) maka nilai konsisten terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking  (Y2) adalah sebesar  5,283.

 

bi=iAngka koefisieniregresi. Nilainyaosebesar  1,036. Angkaoini mengandungaiarti bahwaosetiapopenambahan 1% tingkat pengaruhimetode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X), maka  terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)uiakan meningkatusebesari1,036.

Karenaonilai koefisien regresibbernilaippositif, makaoidengan demikianidapatydikatakan bahwaimetode musyawarahidalamipembelajaran kitab kuning (X) berpengaruhipositifoterhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).  Sehingga persamaan regresinya adalah  Y2 = 5,283 + 1,036 X

2.    Uji Hipotesis

Ujiohipotesis atauiuji pengaruh berfungsiiuntuk mengetahuiiapakah koefisienoregresi tersebutpsignifikan atauotidak. Adapunoihipotesisnya sebagainberikut:

Ø Ho = Tidakiadaopengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Ha = Ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

 

Sementaraoitu, untukomemastikan apakahikoefisien regresiitersebut signifikanoatau tidako(dalamiartiivariabeliX berpengaruhiterhadapivariabel Y2) dapatimelakukan ujihhipotesis iniidengan caraimembandingkaninilai signifikansioi(Sig.) denganoiiprobabilitas 0,05oiatau denganoicara membandingkanonilai tihitung denganotatabel.

1.    Ujiohipotesisomembandingkan nilaiosignifikansio(Sig.) denganp0,05

Adapuniyang menjadiidasar pengambilanikeputusidalamianalisis regresitdenganymelihat nilaiisignifikansi (Sig.) hasiliioutputiiSPSS adalah:

Ø Jika nilaiosignifikansioi(Sig.) lebihokecil < daripprobabilitaso0,05 mengandungoarti bahwaoada pengaruhometode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Sebaliknya,oJika nilaioisignifikansi (Sig.)oilebihoibesar > dari probabilitaspo0,05 mengandungoiarti bahwa tidakoiada pengaruh metodeomusyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2).

 

 

 

 

Adapun hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Berdasarkan autput di atasodiketahui nilaiosignifikansi (Sig.) sebesaro0,000 lebihoikecil darioi< probabilitaso0,05, sehinggaodapat disimpulkanobahwa Hoiditolak dan Hauditerima, yangoberarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)”

2.    Ujiohipotesis membandingkanonilai tyhitungidengan totabel

Pengujian hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t adalah:

Ø Jika nilaiot hitungolebihobesar > dariot tabelomaka adaopengaruh metodeomusyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)

Ø Jika nilaiut hitungolebihoikecil < dariot tabelomaka tidakoada pengaruhmmetode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)

Hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

5.283

3.617

 

1.461

.155

Metode Musyawarah

1.036

.224

.659

4.636

.000

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 4,636. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:

Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025

Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2 =28

Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048

Karena nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning (X) terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking (Y2)“

 

 

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.659a

.434

.414

2.65437

a. Predictors: (Constant), Metode Musyawarah

 

Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi,oidapat berpedomanoipada nilaioiR Squareiatau R2iterdapat pada output SPSS bagianoimodelssummary. Dariooutput diatas diketahuionilai Risquare sebesaro0,434. Nilaioini mengandungoarti bahwaopengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

Merujuk pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning berpengaruh positif terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking denganiototal pengaruhsusebesaroi43,4%.opengaruh positifoini bermaknaosemakin tinggiometode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

c.       Analisis regresi pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking

Tabel.4.21

Output SPSS Regresi pengaruh keterampilan literasi

terhadap keterampilan critical thinking

Variables Entered/Removeda

Model

Variables Entered

Variables Removed

Method

1

Keterampilan Literasib

.

Enter

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. All requested variables entered.

 

 

 

 

 

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.429a

.184

.155

3.18804

a. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi

 

 

 

 

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

64.120

1

64.120

6.309

.018b

Residual

284.580

28

10.164

 

 

Total

348.700

29

 

 

 

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

b. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Keterampilan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

 

 

 

 

 

 

 

Secaraoumumorumus persamaaniregresi sederhanaiadalah Yi=ia +ibX. Sementaraountukoimengetahui nilaioikoefisien regresioitersebut dapat berpedomanopada outputoyang beradaipada tabelccoefficientsiberikut:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Keterampilan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

 

 

1.    Penjelasan

a = Angka konstan dari unstandardized coefficients. Dalam kasus ini nilainya sebesar 12,703. Angka ini merupakan angka konstan yang mempunyai arti jika keterampilan literasi meningkat (Y1) maka nilai konsisten keterampilan critical thinking  (Y2) adalah sebesar  12,703.

 

 

b = Angka koefisien regresi. Nilainya sebesar 0,652. Angka ini mengandunga arti bahwa setiap  penambahan 1% tingkat keterampilan literasi (Y1), maka  keterampilan critical thinking (Y2) akanimeningkat sebesari0 ,652.

Karenaonilai koefisienoiregresi bernilaiiopositif, makaoidengan demikianoidapat dikatakanoibahwa peningkatanoketerampilaniliterasi (Y1) berpengaruh positif terhadap keterampilan critical thinking (Y2).uSehingga persamaanoregresinyaoadalah  Y1 = 12.703 + 0,652 X

2.    Uji0Hipotesis

Ujiihipotesis atauiuji pengaruhoberfungsi untukimengetahuiiapakah koefisien regresiotersebut signifikanoatauotidak. Adapunohipotesisnya sebagaioberikut:

Ø Ho = Tidak ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2).

Ø Ha = Ada pengaruh peningkatan keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2).

Sementaraiitu, untuk memastikanoapakah koefisienoregresi tersebut signifikaniatau tidaki(dalamiartiivariabeliY1 berpengaruhiterhadap variabel Y2)idapat melakukaniuji hipotesisoini denganocara membandingkanonilai signifikansi (Sig.) denganoiprobabilitasoi0,05 atauoidengan cara membandingkaniunilai tihitung denganototabel.

 

1.    Ujiihipotesisomembandingkanonilai signifikansio(Sig.) dengano0,05

Adapunoiyang menjadiodasar pengambilanokeputus dalamianalisis regresiodengan melihatinilaiosignifikansi (Sig.) hasilooutputiSPSSiadalah:

Ø Jikaoinilaioisignifikansi (Sig.) lebihoikecil < darioiprobabilitaso0,05 mengandung artiobahwa adaoipengaruhoiketerampilan literasi (Y1) terhadapoiketerampilan critical thinking (Y2).

Ø Sebaliknya, Jikaiunilai signifikansioi(Sig.) lebihoibesar > dari probabilitasoi0,05 mengandungoiarti bahwaoitidak adaoipengaruh keterampilan  literasi (Y1) terhadapoiketerampilan critical thinking (Y2).

Adapun hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Keterampilan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

 

 

Berdasarkan autputodi atasidiketahui nilaiosignifikansi (Sig.)isebesar 0,018ilebih kecilidari < probabilitasi0,05, sehingga.dapat disimpulkan bahwa Hoiditolak dan Haiditerima, yang berarti.bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)”

 

 

2.    Uji hipotesis membandingkan nilai t hitung dengan t tabel

Pengujian hipotesis ini sering disebut juga dengan uji t, dimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t adalah:

Ø Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel maka ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)

Ø Jikaunilai tohitung lebihkkecil < dariot tabel makaitidak adaopengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadapoketerampilan critical thinking (Y2)

Hasil output SPSS adalah:

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

12.703

3.708

 

3.426

.002

Keterampilan Literasi

.652

.260

.429

2.512

.018

a. Dependent Variable: Keterampilan Critical Thinking

 

 

 

Berdasarkan output di atas diketahui nilai t hitung sebesar 2,512. karena nilai t hitung sudah ditemukan, maka selanjutnya mencari nilai t tabel. Adapun rumus untuk mencari t tabel adalah:

Nilai a/2 = 0,05/2 = 0,025

Derajad kebebasan (df) = n-2= 30-2 =28

Nilai 0,025 ; 28 kemudian lihat pada distribusi nilai t tabel. Maka didapat nilai t tabel sebesar 2,048

Karena nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa “ada pengaruh keterampilan literasi (Y1) terhadap keterampilan critical thinking (Y2)“.

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.429a

.184

.155

3.18804

a. Predictors: (Constant), Keterampilan Literasi

 

 

 

 

Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi,oidapat berpedomanoipada nilaiiuR Squareiuatau R2oiterdapat padapoutputiSPSS bagianoimodeloisummary. Dari outputoidiatas diketahuioinilai Risquare sebesaroi0,184. Nilai ini mengandungoiarti bahwaipengaruh keterampilan literasi terhadapoketerampilan critical thinking adalahoisebesar 18,4% sedangkanoi81,6% keterampilan critical thinking dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti.

Merujuk pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan literasi berpengaruh positif terhadap keterampilan critical thinking dengan total pengaruh sebesar 18,4%. pengaruh positif ini bermakna semakin tinggi keterampilan literasi dalam pembelajaran kitab kuning maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan santri pada keterampilan critical thinking.

 

 

3.    Hasil Analisis Regresi Dan Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil analisis regresi diatas dapat diketahui bahwa:

1.    Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi apabila nilaiiusignifikansi (Sig.)olebihokecil < darioiprobabilitas 0,05iuatau jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0.017 lebih kecil dari < probabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,531 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi. Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilaioR squareosebesaroi0,186. Nilaiuiinioimengandung arti bahwauipengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuninguiterhadap kemampuan santri pada keterampilan literasi adalah sebesar 18,6% sedangkan 81,4% keterampilan literasi dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

 

2.    Metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking apabila nilaiuysignifikansi (Sig.) lebihiukecil < dari probabilitasi0,05 atau jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahuionilai signifikansiu(Sig.) sebesaru0.000 lebihukecil dario< probabilitaso0,05 dan nilai t hitung sebesar 4,636 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking. Untuk mengetahui besarnya pengaruh metode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuning terhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilaivR squareusebesar 0,434. Nilaioini mengandunguyarti bahwa pengaruhuymetode musyawarah dalam pembelajaran kitab kuninguiterhadap kemampuan santri pada keterampilan critical thinking adalah sebesar 43,4% sedangkan 56,6% keterampilan critical thinking dipengaruhiuoleh variabelulain yangitidak diteliti.

 

 

3.    Keterampilan literasi mempunayai pengaruh yang signifikan terhadap ketermpilan critical thinking santri apabila nilaiusignifikansi (Sig.)ilebih kecil < darioprobabilitasi0,05 atau Jika nilai t hitung lebih besar > dari t tabel yang dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan autput SPSS for windows versi 25 diketahuionilai signifikansio(Sig.) sebesar 0.018 lebihhkecilidari <iprobabilitas 0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,512 lebih besar dari > t tabel 2,048, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada pengaruh signifikan antara ketermpilan literasi terhadap ketermpilan critical thinking. Untuk mengetahui besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking dalam analisis regresi, dapat berpedoman pada nilai R Square. Adapun nilaiyR squareyusebesar 0,184. Nilaiuini mengandunggarti bahwaopengaruh keterampilan literasiuterhadap keterampilan critical thinking adalah sebesar 18,4% sedangkan 81,6% keterampilan critical thinking dipengaruhiuoleh variabelylain yang tidakkditeliti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.    Keterbatasan Penelitian

Penelitianyiniuterbatas hanyatdi PesantrenuKebon Jambu pada tiga variabel saja, yaitu metode musyawarah, keterampilan literasi dan keterampilan critical thinking.

Metode musyawarah di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy memang tidak semuanya mengunakan pembahasan metodologi atau penggalian hukum yang banyak di pelajari dalam kitab-kitab usul fikih, namun kitab usul fikih tetap diajarkan di madrasah maupun di tingkat pengajian pondokidimanaipadaisituasi tertentuhhsantri terkadanghidituntut untuk menerapkannya dalam pencarian suatu hukum fikih. Hal ini dilakukan supayausantri tidakilangsungimengambil keputusanuhukum yangusebenarnya keputusan itu telahuterumuskan secara sistematisudalam kitabuklasik.

Pesantren Kebon Jambu selain menggunakan metode musyawarah juga menggunakan metode sorogan, bandungan, hafalan dan al-miftah dalam menunjang keterampilan literasi dan critical tinking santri pada kajian kitab kuning.

Di perpustakaan Pondok Kebon Jambu menyediakan berbagai kitab kuning diantaranya kitab fikih, usul fikih, tafsir, hadis, tasawuf, akidah dan lain sebagainya. Kitab-kitab tersebut kebanyakan dikarang ulama bermazhab Syafi’i sebagai bahan rujukan yang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar khususnya dalam kegiatan musyawarah kitab kuning.[123]

Karena penelitianainiaterbatashhanyahdihPesantren Kebon Jambuapada tigaavariabel, yaitu metode musyawarah, keterampilan literasi dan keterampilan critical thinking, sehingga pada penelitian selanjutnya, diharapkan dapat lebih mendalam membahas metode pembelajaran lainnya seperti yang telah dijelaskan ditas atau hal lain yang belum diungkap dalam penelitian ini yang dapat meningkatkan keterampilan literasi, critical thinking dan ketrampilan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 


aBABiVa

aPENUTUPa

 

 

A.  Kesimpulanah

Berdasarkanahasilapenelitianadi Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islami dapat disimpulkan bahwa Semua variabel berpengaruh signifikan meskipun pengaruhnya tidak sampai pada taraf 50%.  Adapun pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi sebesar 18,6%. Pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan critical thinking sebesar 43,4%. Sedangkan besarnya pengaruh keterampilan literasi terhadap keterampilan critical thinking sebesar 18,4%.

B.  Rekomendasi

Rekomendasi kepada peneliti selanjutnya, didasarkan keterbatasan penelitian. Keterbatasan penelitian ini meliputi instrumen, pemilihan populasi dan sampel, pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi dan critical thinking, sehingga direkomendasikan pada penelitian selanjutnya:

1.    Pada penelitian ini, pengungkap data peserta didik hanya menggunakan instrumen untuk data kuantitatif, sehingga penelitian selanjutnya direkomendasikan dalam membuat instrumen pengungkap data menggunakan alat pengumpul data instrumen lebih beragam tidak hanya membuat instrumen mengungkap data kuantitatif, akan tetapi juga menggunakan instrumen pengungkap data kualitatif. Instrumen tersebut dibuat berdasarkan kisi-kisi yang sama pada instrumen untuk data kuantitatif maupun data kualitatif, seperti pada panduan observasi dan pedoman wawancara.

2.    Pada penelitian ini, pemilihan populasi dan sampel sebanyak 30 santri kelas VI Pesantren Kebon Jambu, sehingga pada penelitian selanjutnya direkomendasikan memperluas populasi penelitian di berbagai tingkat pendidikan.

3.    Pada penelitian ini, hanya membahas pengaruh metode musyawarah terhadap keterampilan literasi dan critical thinking, sehingga pada penelitian selanjutnya dapat lebih mendalam membahas metode pembelajaran lainnya yang dapat meningkatkan keterampilan literasi dan critical thinking.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abidin, Yunus, Tita Mulyati, & Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2018)

Antoro, Billy, Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017) http://repositori.kemdikbud.go.id

Arief, Armai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014)

Bobbi, DePorter, & Mike Hernacki, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan, (Bandung: Mizan Pustaka, 2010)

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012)

Burhanudin, Jajat, & Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006)

Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah (Jakarta: Deperteman Agama RI, 2003)

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9 (Jakarta: LP3ES, 2015)

Donni, Yudha Prawira, Pengembangan Koleksi Dan Pengetahuan Literasi (Medan: UPT. Perpustakaan Universitas Negeri Medan, 2019) https://perpustakaan.unimed.ac.id

English, Evelyn Williams, Pendidikan Literasi (Bandung: Nuansa Cendekia, 2017)

Filsaine, Dennis K., Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008)

FIP-UPI, Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT IMTIMA, 2007)

Ghofur, Abd., Pendidikan Anak Pengungsi; Model Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang: UIN-Malang Press, 2009)

Haedari, Amin, & Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernis Dan Tantangan Kompleksitas Global, Cetakan 2 (Jakarta: IRD PRESS, 2006)

Hayat, Bahrul, & Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)

Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010)

Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003)

Kompri, Manajemen & Kepemimpinan Pondok Pesantren, (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2018)

Kuswana, Wowo Sunaryo, Taksonimi Kognitif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012)

Madjid, Nurcholis, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010)

Mas’ud, Abdurrahman, intelektual Pesantren, Cetakan 1 (Yogyakarta, 2004)

Mochtar, Affandi, Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009)

Panitia Majroh, Proposal Kegiatan Majelis Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat 1440-1441 H/2019-2020 M (Cirebon, 2019)

Pondok Kebon Jambu, Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H (Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019)

Prijosaksono, Aribowo, & Roy Sembel, Self Management Series Maximize Your Strength Kiat-Kiat Meningkatkan Dan Memaksimalkan Kinerja (Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2003)

Qomar, Mujamil, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005)

Romdhoni, Ali, Al-Qur’an Dan Literasi (Depok: Literatur Nusantara, 2013)

Santrock, John w., Psikologi Pendidikan (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015)

Saputra, Mundzier, Perubahan Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat (Jakarta: Asta Buana Sejahtera, 2009)

Sihotang, Kasdin, Febian Rima K., Benyamin Molan, Andre Ata Ujan, & Rodemeus Ristyantoro, Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2012)

Sofan, Amri, & Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis Dan Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010)

Sugiyono, & Agus Susanto, Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017)

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018)

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017)

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016)

Surya, Hendra, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011)

Universitas Negeri Semarang, Konferensi Bahasa Dan Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017)

Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional (Jakarta: Ciputat Press, 2005)

Jurnal

Abdullah, Moh, ‘Studi Komparasi Penerapan Metode Al-Miftah Lil Ulum Dan Nubdatul Bayan Dalam Meningkatkan Kompetensi Baca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018) http://digilib.uinsby.ac.id

Adibah, Nuryana, & Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018 http://sc.syekhnurjati.ac.id

Adrian, Yudha, I. Nyoman S, & Sugeng Utaya, ‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26 http://journal.um.ac.id

Fathin, Nur Azzah, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 http://digilib.uinsby.ac.id

Ferguson, Brian, ‘Information Literacy’ http://bibliotech.us

Fitriyah, Lailatul, Marliana, & Suryani, ‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30 https://journal.stkipnurulhuda.ac.id

Hakim, Moh. Abdul, ‘Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2014)

Masjaya, & Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan Literasi Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam Meningkatkan SDM’, PRISMA, 1.1 (2018) https://journal.unnes.ac.id

Rakhmawati, Rani, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60 http://journal.unair.ac.id

Rohman, Fathur, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal Pendidikan Islam, 8.II (2017), 179–200 http://ejournal.radenintan.ac.id

Sholeh, Mohammad, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur’ (Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018) http://digilib.uinsby.ac.id

Sulaiman, Ahmad, & Agustin Syakarofath Nandy, ‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi Islam’, Buletin Psikologi, 26.2 (2018), 86–96 https://jurnal.ugm.ac.id

Taufina, Muhammadi, & Chandra, ‘Literasi Membaca Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian Bahasa Sasatra Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12 https://journal.uny.ac.id

Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Iain Tulungagung, 2018) http://repo.iain-tulungagung.ac.id

Wawancara

Rusmana, Nana, Wawancara Musyawarah Di Pondok Kebon Jambu

Yakin, Alamul, Wawancara Seputar Pendidikan Di Pondok Kebon Jambu

 

Web

Akhmad, Harits Tryan, Mendikbud Siapkan 5 Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0, 2018 https://news.okezone.com

Detik.com, Kominfo Rilis 10 Hoax Paling Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018 https://news.detik.com

Devega, Evita, Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 10 Oktober 2017 https://www.kominfo.go.id

Harususilo, Yohanes Enggar, Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem Makarim, 2019 https://edukasi.kompas.com

Mikhael, Gewati, Minat Baca Indonesia Ada Di Urutan Ke-60 Dunia, 2016 https://edukasi.kompas.com

Muftisany, Hafidz, Sorogan Dan Bandongan Metode Khas Pesantren (Jakarta, 2016) https://www.republika.co.id

Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’ https://kebonjambu.org

Raharjo, Sahid, ‘Cara Melakukan Uji Reliabilitas Alpha Cronbach’s Dengan SPSS’, 2019 https://www.spssindonesia.com

Raharjo, Sahid, ‘Cara Melakukan Uji Validitas Product Moment Dengan SPSS’, 2019 https://www.spssindonesia.com

Setyawan, Ibnu Aji, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan Pengertian Literasi’, 2018 https://gurudigital.id

Twin, Anik, Hubungan Budaya Literasi Dan Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018 https://www.kompasiana.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 

Poto Kegiatan Musyawarah Harian

 

Poto Kegiatan Musyawarah Bulanan

 

Poto Kegiatan Musyawarah Sewilayah Tiga Cirebon

 

 

 

Majelis Musyawaroh (MAJROH)

a.    Dasar Kegiatan MAJROH

1.    Rutinitas  Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

2.    Rapat panitia Majroh 1440-1441 H.

b.   Sasaran

Peserta Majlis Musyawaroh  (Majroh)  adalah seluruh tingkat empat, lima, enam tingkatan yang berada di Pondok Kebon Jambu dan MTAKJ, Pondok Jambu Putri, Ma’had aly, Pondok Melati dan Pondok Assanusi Putra.

c.    Tujuan

 Kegiatan ini bertujuan:

1.    Menanamkan rasa solidaritas antar sesama tingkatan dan perbedaan tingkatan ataupun beberapa pesantren.

2.    Tersiarnya syiar Islam melalui kajian-kajian kutubut turots

3.    Memperkuat ukhuwah islamiyah

d.   Struktur kepengurusan majelis musyawaroh (MAJROH)  masa khidmat tahun 1440-1441 H Pondok Kebon Jambu Al-Islamy

1.    Pengasuh PKJ:

     Ny. Hj. Awanilah Amva

2.    Pembimbing MAJROH:

Kyai Mahsus Iskandar, dan Ust. Moh. Harir

3.    Kepala Pondok:

Ust. Erman Maulana

4.    Pengarah MAJROH:

Ust. Nana Rusmana, dan Ust. Syahrudin

5.    Ketua Panitia:

Ust. Abdul Ghofar

 

6.    Sekretaris:

Ust. Naupal Irsyad

7.    Bendahara:

Ust. Hadi Sa’dullah danUst. Muhammad Firdaus

8.    Sie. Acara & Lapangan:

Ust. Arif Afifudin, Ust. Jamaluddin, Ust. Makinun Amin, Ust. Lukmanul Hakim, Ust. Dika Faiz H dan Ust. M. Ahadun

9.    Sie. Konsumsi:

Ust. Faiz Mubarok (Idr), Ust. Ae lailil mubarok, Ust. Affan Afnan, Ust. Tedy Khoirurijal, Ust. Abi Dimyati dan Ust. Hasby Awla Nufus

10.     Sie. Dekorasi & Akomodasi:

Ust. Wihar Suratman, Ust. Abu Bakar, Ust. Nurul Fajri, Ust. Imamudin, Ust. Maulana M.Zuhri, Ust. Dede Komarudin, Ust. Fiqih Hidayatur Rohman, Ust. Asep Saepudin, Ust. Syamsul Arif, Ust. Syamsul Ma’arif, Ust. Abdurrohman Rohim, Ust. Hamdun Syahrowi, dan Ust. Wihar Suratman

11.     Sie. Dokumentasi:

Ust. Alamul Yaqin, Ust. Nurul Fauzi, Ust. Ifan Fadilah, Ust. Mohammad Sa’dan, dan Ust. Dzakwan Ali

12.     Sie Humas dan Penerima Tamu:

Ust. Iip Muhammad Al Muktapi, Ust. Muhammad Nur Pauzi Al Bustomi, Ust. Labibullah, Ust. Ahmad Yahya, Ust. Rijal Huda, dan Ust. Irfan Diana

e.    Ketentuan MAJROH

1.    Peserta MAJROH adalah, Pengurus komplek, pusat, Ma’had Aly, tingkat 4, 5, 6, kelas 4, 5, 6 MTAKJ, Pondok Assanusi dan Pondok Melati.

2.    Soal-soal MAJROH berasal dari peserta dan umum (Panitia MAJROH berhak untuk mengedit redaksi, dengan tanpa merubah subtansi soal).

3.    Setiap kelompok terdiri dari dua orang jubir (juru bicara) dan anggota kelompoknya.

4.    Untuk peserta Majroh Tingkat 4, 5, 6 berlaku absensi pengajian ba’da Isya.

5.    Setiap Peserta Undangan diharapkan mengkonfirmasi kepihak panitia untuk memberikan informasi bisa hadir atau tidaknya minimal satu hari sebelum acara.

6.    Setiap peserta wajib mengisi daftar hadir peserta Peserta.

7.    Ibarot/Referensi dikumpulkan dalam bentuk hard file (diserahkan lansung ke panitia MAJROH).

f.     Etika dalam MAJROH

Etika dalam MAJROH adalah tatacara yang harus diikuti oleh setiap peserta, diantaranya:

·      Menggunakan bahasa yang baik, jelas, tegas dan singkat.

·      Mengungkapkan argument yang baik dan meyakinkan berdasarkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

·      Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan.

·      Menghormati pendapat orang lain.

g.    Tugas Notulen

Mencatat hasil-hasil Majroh dari awal sampai akhir.

h.   Tugas Moderator

1.    Mengatur dan mengarahkan terciptanya pelaksanaan MAJROH yang tertib, objektif dan terarah demi mencapai hasil yang mufakat.

2.    Mengkordinir dan menyimpulkan berbagai pendapat dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh musyawir.

i.      Tugas Perumus

1.    Merumuskan jawaban-jawaban yang telah masuk.

2.    Menentukan pilihan jawaban yang tepat atau mendekati kebenaran dari jawaban yang masuk.

j.     Tugas Pentashih

1.    Mentashih jawaban yang telah dirumuskan oleh perumus.

2.    Menjabarkan jawaban dari semua aspek yang telah dibahas.

Angket Pertanyaan

 

 

Nama                          :

Kelas/Tingkat            :

 

Mohon dijawab pertanyaan- pertanyaan berikut sesuai dengan situasi sebenarnya, dengan member tanda silang (X) pada salah satu jawababan yang terdapat pada pilihan ganda (A, B, dan C) berikut ini:

1.    Apakah setiap musyawarah anda berpendapat (berargumentasi) dengan menyertakan referensi?

A.    Tidak pernah

B.     Kadang-kadang

C.     Selalu

2.    Apakah setiap musyawarah anda berpendapat dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas?

A.  Selalu

B.  Kadang-kadang

C.  Tidak pernah

3.    Apakah setiap musyawarah anda berpendapat dengan menyertakan dalil argumentasi yang dapat dipertanggung jawabkan?

A.    Tidak pernah

B.     Kadang-kadang

C.     Selalu

4.    Apakah setiap musyawarah anda menjelaskan  referensi dengan menyertakan nama kitab, nama pengarang, cetakan  dan juga halaman kitabnya?

A.    Tidak pernah

B.     Kadang-kadang

C.     Selalu

5.    Apakah setiap musyawarah anda menyanggah atau mengomentari pendapat teman anda atau kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat?

A.    Selalu

B.     Kadang-kadang

C.     Tidak pernah

6.        Apakah setiap musyawarah anda menyanggah atau mengomentari pendapat teman anda atau kelompok lain yang tidak sepemikiran atau sependapat dan meminta untuk menjelaskanya kembali?

 

A.    Tidak pernah

B.     Kadang-kadang

C.     Selalu

7.        Apakah setiap musyawarah anda berupaya semaksimal munkin dalam berpendapat dengan cara mencari referensi meskipun dari kitab yang belum dipelajari di kelas ataupun sekolah?

A.  Selalu

B.   Kadang-kadang

C.   Tidak pernah

Mohon dijawab sesuai dengan situasi yang sebenarnya, dengan cara memberi tanda silang (X) pada kolom jawaban yang telah tersedia.  S= Selalu; KK= Kadang-kadang; TP= Tidak pernah

No

Pertanyaan tentang kemampuan literasi

S

KK

TP

1.       

Apakah dalam musyawarah anda mengambil informasi atau referensi dari berbagai kitab kuning?

 

 

 

2.       

Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu menganalisis pendapat yang terdapat didalam kitab?

 

 

 

3.       

Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu mengevaluasi pendapat yang terdapat didalam kitab?

 

 

 

4.       

Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu menganalisis bentuk teks yang terdapat didalam kitab?

 

 

 

5.       

Apakah dalam musyawarah anda lebih dahulu mengevaluasi bentuk teks yang terdapat didalam kitab?

 

 

 

6.       

Apakah dalam musyawarah anda berusaha semaksimal mungkin dalam mencarai referensi terbaik sebagai rujukan?

 

 

 

 

Mohon dijawab item-item instrumen berikut ini. Jawablah dengan member tanda lingkaran (O) pada angka yang sesusi dengan pendapat anda.  3= Selalu; 2= Kadang-kadang; 1=Tidak pernah

No

Pertanyaan tentang kemampuan  critical thinking

Tingkat Persetujuan

1.       

Apakah setiap musyawarah anda bertanya dengan menyertakan deskripsi masalah atau merumuskan masalah terlebih dahulu?

3

2

1

2.       

Apakah setiap musyawarah anda mendebat atau berargumentasi  setiap kali ada kelompok lain yang tidak sependapat?

3

2

1

3.       

Apakah setiap musyawarah anda melakukan deduksi?

3

2

1

4.       

Apakah setiap musyawarah anda melakukan induksi?

3

2

1

5.       

Apakah setiap musyawarah anda mengevaluasi pendapat sendiri atau kelompok sendiri?

3

2

1

6.       

Apakah setiap musyawarah anda mengevaluasi pendapat kelompok lain?

3

2

1

7.       

Apakah setiap musyawarah anda mengambil keputusan dan tindakan sebagai solusi terhadap perbedaan pendapat?

3

2

1

8.       

Apakah setiap musyawarah anda berkontribusi memberikan argumentasi pada kelompok?

3

2

1

9.       

Apakah setiap musyawarah anda meninjau kembali pendapat teman atau kelompok lain terhadap permasalahan yang dibahas?

3

2

1

10.   

Apakah setiap musyawarah anda berargumentasi  meski referensinya sama dengan kelompok lain tapi berbeda dalam interpretasi atau argumentasinya?

3

2

1

 

 

Kisi-Kisi Angket

VARIABEL

TEORI

INDIKATOR

NOMERIK

Metode Musyawarah

Metode musyawarah bisa dikategorikan sebagai pembelajaran kelompok berbasis masalah. Teori yang melandasi metode musyawarah atau pembelajaran kelompok berbasis masalah adalah pembelajaran kooperatif  Piaget dan Vigotsky

4.   Argumen yang baik

 

5.   Referensi kitab yang dapat dipertanggung jawabkan

 

6.   Pembahasan tidak menyimpang dari pokok permasalahan

2

 

1, 3, 4

 

 

 

 

5, 6, 7

 

Keterampilan Literasi

Jean E Spencer dalam The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa literas adalah kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang untuk mencapai predikat sebagai orang yang terpelajar, dan nantinya akan menjadi peradaban ilmu pengetahuan yang luas

·      Mampu mengambil informasi.

 

·      Mampu membentuk pemahaman yang luas.

 

·      Mampu merefleksikan dan mengevaluasi isi teks.

 

·      Mampu merefleksikan dan mengevaluasi bentuk teks.

6

 

 

1

 

 

2, 3

 

 

 

5

 

Keterampilan Critical Thinking

Menurut Chaffee berfikir kritis adalah aktifitas berfikir yang aktif dan bertujuan. Berfikir kritis merupakan sebuah usaha yang dilakukan secara terorganisasi yang memahami dunia dengan hati-hati, melalui kegiatan menimbang pemikiran sendiri dan pemikiran orang lain untuk memperjelas dan meningkatkan pemahaman sendiri atas segala sesuatu

6.    Mampu merumuskan masalah

 

7.    Mampu memberikan argumentasi

 

8.    Mampu melakukan deduksi dan induksi

 

9.    Mampu melakukan evaluasi

 

10.               Mampu mengambil keputusan dan tindakan

1

 

 

2, 8, 10

 

 

3, 4

 

 

5, 6, 9

 

 

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1]Devega Evita, Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet Di Medsos, 2017 <https://www.kominfo.go.id>. Hal 1. Diakses tanggal 1 Desember 2019 pukul 13:00 WIB.

[2]Muhammadi, Taufina, and Chandra, ‘Literasi Membaca Untuk Memantapkan Nilai Sosial Siswa SD’, Penelitian Bahasa Sasatra Dan Pengajarannya, 17.2 (2018), 202–12 <https://journal.uny.ac.id>. Hal 203. Diunduh tanggal 1 Desember 2019 pukul 15:00 WIB.

[3]Gewati Mikhael, Minat Baca Indonesia Ada Di Urutan Ke-60 Dunia, 2016 <https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses tanggal 6 Desember 2019 pukul 20:00 WIB.

[4]Yohanes Enggar Harususilo, Skor PISA Terbaru Indonesia, Ini 5 PR Besar Pendidikan Pada Era Nadiem Makarim, 2019 <https://edukasi.kompas.com>. Hal 1. Diakses tanggal 2 Desember 2019 pukul 17:00 WIB.

[5]Billy Antoro, Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar, Sebuah Refleksi (Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017) <http://repositori.kemdikbud.go.id>. Hal 5. Diunduh tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[6]Harits Tryan Akhmad, Mendikbud Siapkan 5 Langkah Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0, 2018 <https://news.okezone.com>. Hal 1. Diakses tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[7]Sulaiman Ahmad and Agustin Syakarofath Nandy, ‘Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi Dan Reformulasi Konsep Dalam Psikologi Islam’, Buletin Psikologi, 26.2 (2018), 86–96 <https://jurnal.ugm.ac.id>. Hal 5. Diunduh tanggal 4 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[8]Detik.com, Kominfo Rilis 10 Hoax Paling Berdampak Di 2018, Ratna Sarumpaet Nomor 1, 2018 <https://news.detik.com>. Hal 2. Diakses tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[9]Twin Anik, Hubungan Budaya Literasi Dan Keterampilan Berpikir Kritis, Kompasiana.Com, 13 April 2018 <https://www.kompasiana.com>. Hal 1. Diakses tanggal 3 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[10]Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu’amalah) lainnya. Bruinessen Martin van, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Cetakan 1 (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012).V. Istilah kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Haedari Amin and Dkk, Masa Depan Pesantren, Cetakan 2 (Jakarta: IRD PRESS, 2006). 149.

[11]Metode sorogan adalah metode pembelajaran diman santri mengajukan secara individu kepada pengajar dengan..mebaca..kitab..yang diberikan arti atau makna, yang bertujuan untuk membenarkan bacaan baik lafad atau maknanya. Dhofier Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, Cetakan 9 (Jakarta: LP3ES, 2015). 54.

[12]Metode bandungan adalah metode pengajaran kitab kuning yang mana pengajar mendikte sekaligus menginterpretasikan isi yang terdapat dalam kitab sementara peserta didik menyimak dengan seksama sekaligus memberi makna pada kitabnya. Kompri, Manajemen & Kepemimpinan Pondok Pesantren (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2018). 31. Atau bisa dilihat juga pada Madjid Nurcholis, Bilik-Bilik Pesantren (Jakarta: Paramadina, 2010). 23.

[13]Metode musyawarah adalah metode pengajaran..kitab kuning..yang didalamnya terdapat  diskusi..pelajaran yang hendak..atau telah diberikan oleh pengajar, secara berkelompok. Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.

[14]Fitriyah Lailatul, Marliana, and Suryani, ‘Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja’, 11.1 (2019), 20–30 <https://journal.stkipnurulhuda.ac.id>. Hal 24-25. Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 22:34 WIB.

[15]Hafidz Muftisany, Sorogan Dan Bandongan Metode Khas Pesantren (Jakarta, 2016) <https://www.republika.co.id>. Hal 1. Diakses tanggal 26 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[16]Rani Rakhmawati, ‘Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>. Hal 352. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.

[17]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 57.

[18]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 174-175.

[19]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. 98.

[20]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai.142.

[21]Alamul Yakin, Wawancara Seputar Pendidikan Di Pondok Pesantren Kebon Jambu. Tanggal 22 November 2019 Pukul 22:00 WIB.

[22]Rakhmawati.Syawir Pesantren Sebagai Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Desa Putat , Kecamatan Tanggulangin , Kabupaten Sidoarjo- Jawa Timur’, AntroUnairdotNet, V.2 (2016), 349–60 <http://journal.unair.ac.id>. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 14:54 WIB.

[23]Fathur Rohman, ‘Pembelajaran Fiqih Berbasis Masalah Melalui Kegiatan Musyawarah Di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang’, Jurnal Pendidikan Islam, 8.II (2017), 179–200 <http://ejournal.radenintan.ac.id>. Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 21:00 WIB.

[24]Zaenuddin, ‘Implementasi Metode Diskusi Dan Bandongan Dalam Meningkatkan Kemampuan Santri Membaca Kitab Kuning’ (Pascasarjana Iain Tulungagung, 2018) <http://repo.iain-tulungagung.ac.id>. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 20:54 WIB.

[25]Sholeh Mohammad, ‘Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. Diunduh tanggal 20 Desember 2019 pukul 21:54 WIB.

[26]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[27]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[28]Tim pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang (Bandung: PT IMTIMA, 2007). 455.

[29]Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005). 159.

[30]Martin van. Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat. V.

[31]Ali Romdhoni, Al-Qur’an Dan Literasi (Depok: Literatur Nusantara, 2013). 88-89.

[32]Yunus Abidin, Tita Mulyati, and Hana Yunansah, Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis (Jakarta: Bumi Aksara, 2018). 257.

[33]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 227.

[34]Dennis K. Filsaine, Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2008). 81.

[35]Kompri. Manajemen & Kepemimpinan Pondok Pesantren.1. atau bisa dilihat juga pada bukunya Yasmadi, Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish Majid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. 61.

[36]Isjoni, Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok (Bandung: Alfabeta, 2010). 15.

[37]Santrock John w., Psikologi Pendidikan (Jakarta: PrenadaMedia Group, 2015). Psikologi Pendidikan. 397.

[38]Adrian and others, ‘Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Terhadap Retensi Siswa Kelas V Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan, 1.2 (2016), 222–26 <http://journal.um.ac.id>. Hal 222. Tanggal 19 Agustus 2019 pukul 00:59 WIB.

[39]Sofan Amri and IiF Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Inovatif Dalam Kelas: Metode Landasan Teori-Praktis Dan Penerapanya (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2010). 67.

[40]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[41]Lailatul, Marliana, and Suryani. Pendidikan Literasi Pada Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja. 25.

[42]John w., Psikologi Pendidikan. 398.

[43]John w., Psikologi Pendidikan 399.

[44]Armai Arief, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002). 40.

[45]Kitab kuning adalah kitab yang merujuk kepada sebuah atau sehimpunan kitab yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqih, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa Arab (‘ilmu nahwu dan ‘ilmu sharf), hadits, tafsir, ‘ulumul qur’an hinggga ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu’amalah) lainnya. Martin van. Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat . V. Istilah kitab kuning sebenarnya dilekatkan pada kitab-kitab warisan abad pertengahan Islam yang masih digunakan pesantren hingga kini. Amin and Dkk. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernis dan Tantangan Kompleksitas Global. 149.

[46]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[47]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 57.

[48]FIP-UPI. Tim pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan: Bagian 4 Pendidikan Dan Lintas Bidang. 455.

[49]Nur Azzah Fathin, Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il, 42-44.

[50]Mohammad. Kajian Kitab Turath Berbasis Musyawarah Dalam Membentuk Tipologi Berpikir Di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban Jawa Timur.  66-68.

[51]Kementrian Agama RI, Pesantren Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.

[52]Jajat Burhanudin and Dira Afiyanti, Mencetak Muslim Modern (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006). 85.

[53]Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokatisasi Institusi, 159.

[54]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis. 165.

[55]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis. 165-166.

[56]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, Dan Menulis.167-168.

[57]Universitas Negeri Semarang, Konferensi Bahasa Dan Sastra II (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2017). 3.

[58]Adibah, Nuryana, and Nasehudin, ‘Hubungan Gerakan Literasi Dengan Minat Baca Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII Di SMP Negeri 8 Kota Cirebon’, 2018 <http://sc.syekhnurjati.ac.id>. Hal 5. Diunduh tanggal 26 Januari 2020 pukul 15:06 WIB.

[59]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 88-89.

[60]Bahrul Hayat and Suhendra Yusuf, Mutu Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011). 25.

[61]Evelyn Williams English, Pendidikan Literasi (Bandung: Nuansa Cendekia, 2017). 15.

[62]Romdhoni. Al-Qur’an Dan Literasi. 90.

[63]Ibnu Aji Setyawan, ‘Kupas Tuntas Jenis Dan Pengertian Literasi’, 2018 <https://gurudigital.id>. Hal 1. Diakses tanggal 02 Oktober 2019 pukul 20:00 WIB.

[64]Brian Ferguson, ‘Information Literacy’ <http://bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf>. Hal 10-14. Diunduh tanggal 22 November 2019 pukul 14:30 WIB.

[65]Masjaya and Wardono, ‘Pentingnya Kemampuan Literasi Matematika Untuk Menumbuhkan Kemampuan Koneksi Matematika Dalam Meningkatkan SDM’, PRISMA, 1.1 (2018) <https://journal.unnes.ac.id>. hal 571. Diunduh tanggal 14 April 2019 pukul 15:00 WIB.

[66]Yudha Prawira Donni, Pengembangan Koleksi Dan Pengetahuan Literasi (Medan: UPT. Perpustakaan Universitas Negeri Medan, 2019) <https://perpustakaan.unimed.ac.id>. hal 10. Diunduh tanggal 24 Desember 2019 pukul 16:00 WIB.

[67]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 226-232.

[68] Yunus Abidin dkk, Pembelajaran Literasi. 257.

[69]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 257-258.

[70]Sihotang Kasdin and others, Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2012). 3.

[71]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 227.

[72]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 227.

[73]Yunus Abidin, Mulyati, and Hana Yunansah. Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. 228-230.

[74]Kasdin and others. Critical Thinking Membangun Pemikiran Logis. 7-8.

[75]Hendra Surya, Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2011). 130.

[76]Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010). 154-155.

[77]Surya. Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar. 130.

[78]Filsaine. Menguak Rahasia Berfikir Kritis Dan Kreatif. 81.

[79]Ghofur Abd., Pendidikan Anak Pengungsi; Model Pengembangan Pendidikan Di Pesantren Bagi Anak-Anak Pengungs (Malang: UIN-Malang Press, 2009). 28.

[80]Saputra Mundzier, Perubahan Orientasi Pondok Pesantren Salafiyah Terhadap Perilaku Keagamaan Masyarakat (Jakarta: Asta Buana Sejahtera, 2009). 63.

[81]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 85.

[82]Mochtar Affandi, Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren (Jawa Barat: Pustaka Isfahan, 2009). 37.

[83]Affandi. Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren. 38.

[84]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 96.

[85]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 99.

[86]Affandi. Kitab Kuning Dan Tradisi Akademik Pesantren. 42.

[87]Mas’ud Abdurrahman, Intelektual Pesantren, Cetakan I (Yogyakarta, 2004). 111. Bisa dilihat juga pada bukunya Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 132- 134.

[88]Zamakhsyari. Tradisi Pesantren. 87.

[89]Martin van. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. 86.

[90]Pondok Kebon Jambu, Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru (MATASABAR) 1440-1441 H (Cirebon: Pekaje Percetakan, 2019). 12. Bisa dilihat juga tanggal berdiri pondok kebon jambu pada Tesis  Moh. Abdul Hakim, ‘Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan’ (Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2014). 90.

[91]Pondok Kebon Jambu, ‘Sejarah Singkat’ <https://kebonjambu.org>. Hal 1. Tanggal 19 September 2019 pukul 21:22 WIB. 

[92]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan. 91.

[93]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan. 92.

[94]Deperteman Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah (Jakarta: Deperteman Agama RI, 2003). 30.

[95]Pondok Kebon Jambu. Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru. 43.

[96]Pondok Kebon Jambu. Buku Panduan: Masa Ta’aruf Santri Baru. 30-31.

[97]Hakim. Pemikiran Keagamaan KH. Muhammad Pengasuh Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Melalui Kitab Ahwal Al-Insan. 94.

[98]Panitia Majroh, Proposal Kegiatan Majelis Musyawaroh (MAJROH) Pondok Kebon Jambu Al-Islamy Masa Khidmat 1440-1441 H/2019-2020 M (Cirebon, 2019). 1-2.

[99]Jajat Burhanudin and Dira Afriyanti, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam di Indonesia. 85.

[100]Nur Azzah Fathin, ‘Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il’, 2018 <http://digilib.uinsby.ac.id>. Peningkatan Berfikir Kritis Santri Melalui Kegiatan Bahthu Al-Masa’il. 42-44.

[101]Deperteman Agama Kementerian Agama RI, Pesantren Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2003). 43-44.

[102]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2017). 45.

[103]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2014). 12.

[104]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018). 66.

[105]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif. 152-153.

[106]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif. 66.

[107]Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. 68.

[108]Sugiyono and Agus Susanto, Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL (Bandung: Alfabeta, 2017). 292-295.

[109]Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 128.

[110]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2016). 134.

[111]Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. 236.

[112]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif. 223.

[113]Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 108.

[114]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. 56.

[115]Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 115-117.

[116]Sahid Raharjo, ‘Cara Melakukan Uji Validitas Product Moment Dengan SPSS’, 2019 <https://www.spssindonesia.com>. diakses tanggal 12 Desember 2019 pukul 22:12 WIB.

[117]Sahid Raharjo, ‘Cara Melakukan Uji Reliabilitas Alpha Cronbach’s Dengan SPSS’, 2019 <https://www.spssindonesia.com>. diakses tanggal 12 Desember 2019 pukul 22:14 WIB.

[118]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[119]Sugiyono and Susanto. Cara Mudah Belajar SPSS Dan LISREL. 292-295.

[120]Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[121]Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[122]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. 134.

[123]Nana Rusman, Wawancara Musyawarah Di Pondok Kebon Jambu. Tangal 23 Oktober 2019 pukul 22:00 WIB.

Komentar